Sabtu, 16 Mei 2026

Internasional

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Varian Baru Virus Corona Bernama B.1.1.529

Ilmuwan Afrika Selatan telah mengidentifikasi varian baru virus Corona pekan ini. Mereka mengatakan ditemukan saat lonjakan infeksi Covid-19

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Denis Farrell
Seorang bayi menangis saat ibunya menerima suntikan vaksin Covid-19 Pfizer di Diepsloot Township, Johannesburg Afrika Selatan, Kamis (21/11/2021) 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Ilmuwan Afrika Selatan telah mengidentifikasi varian baru virus Corona pekan ini.

Mereka mengatakan ditemukan saat lonjakan infeksi Covid-19 baru-baru ini di Gauteng, provinsi terpadat di negara itu.

Tidak jelas di mana varian baru itu sebenarnya muncul, seperti dilansir AP, Jumat (26/11/2021).

Tetapi pertama kali terdeteksi oleh para ilmuwan Afrika Selatan dan juga terlihat pada pelancong Belgia, Botswana, Hong Kong, dan Israel.

Menteri Kesehatan Afrika Selatan Joe Phaahla mengatakan varian itu terkait dengan peningkatan eksponensial kasus dalam beberapa hari terakhir ini.

Dikatakan, para ahli masih mencoba untuk menentukan varian baru, bernama virus Corona B.1.1.529, benar-benar bertanggungjawab.

Baca juga: Arab Saudi Umumkan 24 Kasus Baru Virus Corona dan Satu Kematian

Dari 200 kasus baru yang dikonfirmasi per hari dalam beberapa pekan terakhir, Afrika Selatan melihat kasus harian baru meroket menjadi 2.465 pada Kamis (25/11/2021).

Afrika Selatan masih merjuang menjelaskan peningkatan kasus yang tiba-tiba.

Sedangkan para ilmuwan masih mempelajari sampel virus dari wabah dan menemukan varian baru.

Pada Jumat (26/11/2021), Organisasi Kesehatan Dunia mengumpulkan sekelompok ahli untuk menilai data dari Afrika Selatan.

Tampaknya memiliki jumlah mutasi yang tinggi, sekitar 30 pada protein lonjakan virus Corona, yang dapat memengaruhi seberapa mudah virus itu menyebar ke manusia.

Sharon Peacock, yang telah memimpin pengurutan genetik Covid-19 di Inggris di University of Cambridge, mengatakan varian baru memiliki mutasi konsisten.

Peacock mengatakan varian mungkin telah berevolusi pada seseorang yang terinfeksi.

Tetapi tidak dapat membersihkan virus, memberikan virus kesempatan untuk berevolusi secara genetik.

Baca juga: Jerman Catat Rekor Baru Kasus Virus Corona Dalam Dua Hari Berturut-turut

Disebutkan, dalam skenario yang mirip dengan bagaimana para ahli berpikir varian alfa yang pertama kali diidentifikasi di Inggris .Dimana, bermutasi pada orang yang kekebalannya terganggu.

Lawrence Young, ahli virologi di University of Warwick, menggambarkan varian itu sebagai versi virus yang paling banyak bermutasi yang pernah dilihat.

Dia mengatakan itu mengkhawatirkan, meskipun varian itu hanya terdeteksi di tingkat rendah di beberapa bagian Afrika Selatan.

Tetapi, katanya, sepertinya menyebar dengan sangat cepat.

Dr Anthony Fauci, dokter penyakit menular terkemuka AS mengatakan telah mengatur panggilan dengan rekan-rekan Afrika Selatan mereka pada Jumat (26/11/2021).

Disebutkan, hal itu untuk mengetahui rincian lebih lanjut.

Fauci mengatakan belum ada indikasi varian itu tiba di Amerika Serikat.

Francois Balloux, Direktur Institut Genetika di University College London mengatakan tidak mungkin membuat prediksi tentang varian baru virus Corona itu.

Dikatakan, apakah lebih berbahaya atau menular berdasarkan susunan genetiknya saja.

Baca juga: UEA Umumkan Kasus Terendah Virus Corona, Izinkan Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNtech untuk Anak-anak

Sementara itu, peningkatan pesat baru-baru ini dalam Covid-19 di Afrika Selatan, untuk membatasi perjalanan dari kawasan itu bijaksana,” kata Neil Ferguson, pakar penyakit menular di Imperial College London.

Balloux dari University College London mengatakan jika varian baru ternyata lebih menular daripada delta, pembatasan baru akan berdampak kecil.

Tetapi masih bisa memberi Inggris waktu untuk meningkatkan tingkat vaksinasi dan meluncurkan intervensi lain.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved