Breaking News:

120 Rohingya Terombang-ambing di Tengah Laut, Nelayan tak Berani Tarik Takut Berurusan dengan Hukum

Sebuah kapal pengangkut imigran Rohingya kembali memasuki perairan Aceh, tepatnya di perairan Bireuen, 45 mil laut dari bibir pantai

Editor: bakri
Dok Abu Laot
Satu unit boat diduga pengungsi etnis Rohingya sedang berada di perairan Bireuen atas Kecamatan Samalanga, Minggu (26/12/2021) sore 

* Sebagian Besar Anak-anak dan Perempuan

BIREUEN - Sebuah kapal pengangkut imigran Rohingya kembali memasuki perairan Aceh, tepatnya di perairan Bireuen, 45 mil laut dari bibir pantai.

Keberadaan kapal asing itu pertama sekali diketahui pada Minggu (26/12/2021) malam, dan hingga Selasa (28/12/2021) dini hari masih terombang-ambing di tengah laut.

Boat papan para pengungsi Rohingya, Senin  (27/12/2021) masih di perairan wilayah  Bireuen.
Boat papan para pengungsi Rohingya, Senin (27/12/2021) masih di perairan wilayah Bireuen. (Dok Panglima Laot)

Para nelayan dilaporkan tak berani menarik kapal tersebut ke daratan karena takut berurusan dengan hukum.

Meski demikian, bantuan makanan telah diberikan, yang berasal dari sumbangan sukarela dari para nelayan.

Informasi dari Panglima Laot Bireuen, Badruddin Yunus atau Abu Laot Bireuen, keberadaan kapal bermuatan imigran Rohingya itu awalnya diketahui berdasarkan laporan tiga nelayan pancing tuna asal Jeunieb yang pulang melaut.

Panglima Laot Bireuen, Badruddin Yunus alias Abu Laot Jeunieb
Panglima Laot Bireuen, Badruddin Yunus alias Abu Laot Jeunieb (SERAMBINEWS.COM/FERIZAL HASAN)

Para nelayan juga ikut mengambil foto dan video.

“Info dari nelayan yang baru pulang melaut, melihat adanya kapal Rohingya di depan perairan Bireuen, kurang lebih berjarak sekitar 45 mil laut dari pantai," kata Badruddin kepada Serambi, Senin (27/12/2021).

Badruddin menyebutkan, ketiga nelayan pancing tuna itu adalah Edi Saputra (28) dan Marzuki (32), keduanya warga Desa Lancang, serta Aiyub (30) warga Desa Blang Lancang.

Mereka mengaku melihat kapal asing sedang berlayar dan seperti melambat.

Laporan yang dia terima dari nelayan, kapal terlihat penuh dengan penumpang, bergerak lambat dari arah barat ke timur.

Diduga mesin kapal mengalami kerusakan karena meledak, sehingga terpaksa menggunakan kain layar dan akhirnya hanyut terbawa angin ke perairan Bireuen.

“Mereka (imigran Rohingya) berkomunikasi dengan nelayan kita menggunakan bahasa isyarat.

Mereka juga meminta makanan kepada nelayan kita,” ujar Panglima Laot Bireuen ini.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved