Breaking News:

Berita Luar Negeri

Wanita Afghanistan Turun ke Jalan, Tak Gentar Memprotes Taliban

Selain menyerukan hak-hak perempuan untuk dihormati, mereka juga menuduh pihak berwenang Taliban diam-diam membunuh tentara yang melayani bekas

Editor: bakri
AFP
Puluhan wanita melakukan demonstasi di Kota Herat, Afghanistan 

KABUL - Kerumunan perempuan berbaris melalui ibu kota Afghanistan.

Selain menyerukan hak-hak perempuan untuk dihormati, mereka juga menuduh pihak berwenang Taliban diam-diam membunuh tentara yang melayani bekas pemerintah yang didukung AS.

Dilansir Tool News, pada Selasa (28/12/2021), sekitar 30 wanita berkumpul di dekat sebuah masjid di pusat Kabul.

Para wanita melakukan demonstrasi, menuntut hak-hak perempuan, bekerja dan sekolah di Kabul, Afghanistan, Jumat (3/9/2021).
Para wanita melakukan demonstrasi, menuntut hak-hak perempuan, bekerja dan sekolah di Kabul, Afghanistan, Jumat (3/9/2021). (AP)

Mereka berbaris beberapa ratus meter meneriakkan "keadilan, keadilan" sebelum dihentikan pasukan Taliban.

Taliban berusaha mencegah wartawan meliput pawai, yang diorganisir melawan “pembunuhan misterius terhadap orang-orang muda, terutama mantan tentara negara itu”.

Taliban juga menahan sekelompok wartawan dan menyita peralatan dari beberapa fotografer.

Mereka juga menghapus gambar dari kamera sebelum mengembalikannya.

Sejak Taliban kembali berkuasa pada bulan Agustus, Taliban secara efektif melarang protes tanpa sanksi.

Baca juga: Iran Deportasi Kembali Pengungsi Afghanistan ke Taliban, Walau Ada Ancaman Kelaparan

Baca juga: Taliban Ganti Patung Pemimpin Hazara di Bamiyan dengan Al-Quran

Mereka juga sering melakukan intervensi untuk memblokir demonstrasi yang menentang kekuasaannya.

Protes itu sendiri terjadi beberapa minggu setelah laporan terpisah oleh PBB, Amnesty International, dan Human Rights Watch.

Ketiga badan itu mengatakan ada tuduhan lebih dari 100 pembunuhan di luar proses hukum oleh Taliban sejak pengambilalihan kekuasaan.

“Saya ingin memberitahu dunia, memberitahu Taliban untuk berhenti membunuh.

Kami menginginkan kebebasan, kami menginginkan keadilan, kami menginginkan hak asasi manusia," kata pengunjuk rasa Nayera Koahistani kepada AFP.

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh pengunjuk rasa Laila Basam, para demonstran meminta Taliban untuk menghentikan mesin kriminalnya.

Pernyataan itu juga menyebut mantan tentara dan mantan karyawan pemerintah yang digulingkan berada "di bawah ancaman langsung".

Ini jelas melanggar amnesti umum yang diumumkan Taliban pada Agustus lalu.

Para pengunjuk rasa juga menyampaikan keberatan terhadap pembatasan yang dihadapi perempuan di bawah pemerintahan Taliban. (kompas. com)

Baca juga: Taliban Larang Aktris Tampil di Sinetron

Baca juga: Taliban Parade Militer, Mayoritas Persenjataan Milik Amerika, Dikawal Helikopter Buatan Rusia

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved