Kamis, 4 Juni 2026

Wawancara Khusus

Tidak Semua Orang Radikal Otomatis Menjadi Teroris

Brigardir Jenderal Polisi Ahmad Nurwahid, mengungkapkan, pihaknya telah memetakan daerah-daerah yang dianggap memiliki indeks potensi radikalisme

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Brigjen Pol Ahmad Nurwahid, Direktur Pencegahan BNPT 

DIREKTUR Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigardir Jenderal Polisi Ahmad Nurwahid, mengungkapkan, pihaknya telah memetakan daerah-daerah yang dianggap memiliki indeks potensi radikalisme tinggi.

Hanya saja, Nurwahid menegaskan tak semua daerah dengan indeks potensi radikalisme yang tinggi selalu menjadi daerah yang mensupply atau memproduksi para teroris.

Berikut petikan wawancara khusus Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwahid dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendraputra:

Di Direktorat Pencegahan, tentu untuk mencegah sesuatu perlu mapping. Apakah BNPT punya mapping?

Pasti dan sesuai dengan amanah UU ataupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, maka semua mapping tadi harus dilandasi pada riset.

Maka kami ada yang namanya hasil riset tentang indeks potensi radikalisme. Jadi kita mapping, survei terhadap masyarakat yang masih moderat, yang sudah anti Pancasila, yang sudah anti pemerintahan yang sah, kemudian masyarakat yang cenderung antibudaya dan kearifan lokal.

Kalau petanya sudah diketahui, kemudian apa yang Anda lakukan?

Ada tiga. Yang pertama kita lakukan vaksinasi ideologi melalui penanaman nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai nasionalisme, Pancasila lewat pendekatan agama, melalui format silaturahmi kebangsaan.

Kedua, melakukan kontra radikalisasi terutama mereka yang sudah OTG.

OTG dalam Covid-19 tidak ada gejala, kalau di terorisme?

OTG itu yang ketika kita survei ditanya apakah setuju kalau negara ini ideologi Pancasila diganti khilafah, nah yang menjawab setuju.

Kemudian ditanya bagaimana pendapat terkait Pancasila dijawab harusnya diganti negara Islam.

Nah yang seperti itu OTG. Kemudian yang ketiga, pencegahan disini membantu Densus 88 didalam rangka preventif strike, setelah indikator radikalisme tadi, mereka masuk jaringan teror, kita koordinasi dengan Densus 88 dan Densus 88 sebagai eksekutor di dalam law enforcement melakukan preventif strike.

Menindak, menangkap guna mencegah sebelum mereka beraksi.

Jadi ada tiga ya, pertama yang moderat supaya imun dan tidak terpapar kita cegah.

Kedua yang OTG supaya sembuh dan tidak bergabung ke jaringan teroris.

Ketiga yang sudah jadi teroris supaya tidak melakukan aksi.

Cuma yang terakhir ini ranah dan eksekutornya Densus 88.

Apakah satu daerah yang indeks radikalismenya tinggi itu otomatis adalah supplier teroris?

Belum tentu. Teroris itu aksinya, tindakannya, perbuatannya.

Radikalisme itu pohonnya atau fase menuju teroris, sehingga dapat dikatakan semua terorisme pasti berpaham radikal.

Tetapi tidak semua orang radikal itu otomatis menjadi teroris. Jadi ada suatu daerah yang tingkat intoleransinya tinggi, pro khilafahnya tinggi, tapi belum tentu menjadi teroris.

Namun ada satu daerah yang mungkin cuma dua sampai tiga pondok pesantren tapi mensupport teroris.

Berdasarkan pengalaman, apa yang menjadi faktor penentu ketika daerah itu banyak yang memiliki paham radikal, tapi supply terorisnya sedikit?

Terorisme itu kan kejahatan. Kejahatan itu terjadi karena bertemunya antara faktor niat dan kesempatan.

Baca juga: Inilah 4 Orang Teroris MIT Poso yang Masih Buron, Aparat Kesulitan Lacak DPO Karena Medan yang Berat

Niatnya sudah radikal karena dipicu oleh pemahaman agama yang menyimpang hingga kebencian, ketemu dengan lingkungan yang radikal, ketemu jaringan teror, ketemu ustad yang meradikalisasi, ketemu dengan donatur, kalau niat ketemu kesempatan terjadi aksi teroris.

Mungkin pohonnya banyak tapi momennya tidak ketemu. Bisa juga pohonnya sedikit tapi ketemu kesempatan.

Dalam pelaksanaan pencegahan, siapa saja yang biasa diajak berkolaborasi oleh BNPT?

Penanggulangan radikalisme dan terorisme hanya akan sukses, optimal jika dilakukan secara semesta.

Makanya Kepala BNPT menyampaikan strategi 2022 ini menggelorakan yang namanya strategi pentahelik.

Pertama melibatkan unsur kementerian lembaga, pemerintah daerah dan pemerintah. Kedua melibatkan unsur akademisi.

Ketiga melibatkan komunitas, bisa ormas keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, kemudian komunitas musik, budaya.

Keempat, komunitas bisnis, baik BUMN, pengusaha swasta untuk terlibat aktif dalam penanggulangan radikalisme.

Yang kelima itu media, media itu signifikan sekali karena radikalisasi selama ini lebih banyak dilakukan di dunia maya.

Dan yang harus dicatat, hasil lembaga survei yang cukup kredibel menyebutkan ada 67 persen lebih konten keagamaan intoleran dan radikal mendominasi di dunia maya.

Ada orang yang pernah terpapar di Lamongan, Jawa Timur bernama Ali Fauzi. Apakah itu termasuk pihak yang digandeng BNPT untuk melakukan pencegahan?

Radikalisme itu kan virus. Virus itu kalau sudah lemah itu bisa menjadi anti virus.

Makanya model seperti Ali Fauzi dan mantan napi terorisme ini kita jadikan mitra deradikalisasi untuk membantu BNPT atau negara dalam memvaksinasi ideologi, kontra radikalisasi bahkan deradikalisasi.

Baca juga: Munarman: Saya akan Tuntut di Akhirat Kasus Dugaan Tindak Pidana Terorisme

Baca juga: Polisi Tangkap 370 Tersangka Terorisme di Sepanjang 2021, Kapolri: Jangan Sampai Muncul Korban

Ada idiom bahwa banyak orang radikal atau mantan radikal yang paham isi kepalanya orang radikal.

Makanya mereka yang masih terpapar dalam program deradikalisasi, baik tersangka, terdakwa, terpidana maupun mantan narapidana dia akan lebih welcome kepada mantan narapidana terorisme.

Orang semacam Ali Fauzi tentu tidak aman karena dianggap kolaborator polisi dan pemerintah. Bagaimana cara meyakinkan dia tidak sendiri?

Pertama tentu kita bermitra dengan mereka itu harus ikut memonitor dan mengawasi serta memproteksi.

Kedua, kita bangun komunitas.

Ketiga, kita kolaborasi dengan Densus 88, kepolisian setempat, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Dan tentunya mereka mantan napiter ini sudah tahu bahayanya.

Apa pendapat Anda terkait fenomena lonewolf?

Tetap mereka melakukan aksi terorisme pasti karena terpapar paham radikal.

Mereka mungkin terpapar di dunia maya atau oleh oknum tokoh agama, tapi memang tidak terkoneksi dengan jaringan teror.

Tapi secara ideologis dia terpapar. Virus ini bisa berpotensi memapar siapa saja, tidak terikat dengan syarat, profesi, bahkan tidak juga dengan kadar intelektualitas seseorang.

Seorang profesor doktor pun kalau sudah terpapar paham, mohon maaf jadi goblok mendadak.

Ada ya intelektual yang terpapar?

Ada. Doktor Azhari, Osama bin Laden, dan Oman Abdurachman Sulaeman tokoh JAD yang sekarang sudah ditahan divonis hukuman mati tapi belum dieksekusi. Itu Oman umur 19 tahun hafal Al Quran 30 juz, berarti otaknya cerdas. Dan banyak sekali yang terpapar paham ini.(Tribunnetwork/Vincentius Jyestha)

Baca juga: Kesaksian Napi Terorisme Dalam Sidang Munarman: Saya Lebih Pilih Abang daripada Thagut

Baca juga: Saksi Ungkap Keterlibatan Munarman dalam Aksi Terorisme, Didasari Bom Gereja Katedral Filipina 2019

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved