Breaking News:

Arkeologi

Budayawan Gayo Salman Yoga Sambut Baik Loyang Mendale jadi Open Site Museum

Loyang Mendale adalah gua tempat penggalian arkeologi yang menemukan jejak Gayo Prasejarah berusia 8400 tahun sebelum Masehi.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Salman Yoga, Seniman dan Peneliti Budaya Gayo. 

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS COM, JAKARTA - Budayawan Gayo yang juga aktivis Komunitas Gayo Prasejarah Dr Salman Yoga S MA menyatakan apresiasi terhadap gagasan menjadikan Loyang Mendale menjadi open site museum atau museum terbuka.

Hal itu disampaikan menanggapi gagasan akademisi yang juga dosen arsitektur di Universitas Pancabudi, Sylviana Marahayu Ifani terkait penataan Loyang Mendale sebagai museum arkeologi berciri open site museum.

"Itu gagasan penting dan kita memahami gagasan tersebut sebagai bagian dari menciptakan ruang pendidikan, penelitian, budaya, pariwisata dan juga ekonomi," kata Salman Yoga.

"Itu usulan yang keren," kata Salman yang juga dosen di sejumlah perguruan tinggi di Aceh.

Loyang Mendale adalah gua tempat penggalian arkeologi yang menemukan jejak Gayo Prasejarah berusia 8400 tahun sebelum Masehi.

Gedung Balai Pelatihan Kesehatan Aceh Berlantai 6 Difungsikan

Penggalian dan penelitian arkeologi dilakukan tim peneliti dari Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut) pimpinan Dr Ketut Wiradnya, M.Si. aWilayah penelitian Balar Sumut meliputi lima provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.

Seperti diberitakan, Sylviana Marahayu menyamoaikan agar aeal Loyang Mendale, tempat ditemukannya kerangka dan benda-benda Gayo prasejarah berusia 8400 tahun, menjadi Museum Arkeologi dalam bentuk Open Site Museum atau museum terbuka.

Usulan itu disampaikan Sylviana Mirahayu Ifani, dosen arsitektur berdarah Gayo di Universitas Pancabudi Medan yang sedang menempuh program doktoral di Irlandia saat menjadi pembicara dalam “Dialog Gayo Prasejarah” di Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut) belum lama ini.

Sylviana mengatakan paparannya tersebut merupakan tugas akhir mahasiswa bimbingannya, Tirna Gemasih yang dirampungkan pada 2018.

Gedung Balai Pelatihan Kesehatan Aceh Berlantai 6 Difungsikan

Ia lalu memperlihatkan rancangan Open Site Museum Loyang Mendale, dimaksudkan sebagai institusi yang dapat membangun budaya dan identitas bangsa; untuk kepentingan pelestarian budaya dalam rangka pembinaan dan pengembangan budaya bangsa; dan lembaga otentikasi identitas nasional di masa silam dan sekaligus memproyeksikannya di masa depan; dan sarana pendidikan non formal.

Konsep ini sejalan dengan tiga pilar kebijakan permuseuman Indonesia, bahwa museum sebagai sarana mencerdaskan bangsa; memperkuat kepribadian bangsa; memperkuat ketahanan nasional dan wawasan nusantara.

Menurut Sylviana, karena Open Site Museum adalah jenis museum yang lokasinya pada berada pada lokasi ditemukannya koleksi, yang disajikan langsung di lapangan sebagaimana adanya, sehingga pengunjung dapat menangkap nuansa temuan koleksi dan sekaligus memperoleh maknanya.

Museum Situs Loyang Mendale dilihat dari aspek fungsi, merupakan bagian dari penelitian, sehingga perancangan diharapkan tidak mengganggu proses penelitian yang mungkin akan berlangsung lama. Begitu juga dari aspek pendidikan, hasil penelitian, memberikan pengetahuan dan sumber pendidikan bagi pengunjung,” katanya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved