Jumat, 24 April 2026

Internasional

Wanita Yaman Galakkan Usaha Garam Tradisional, Walau Perang Terus Berkecamuk

ara wanita Yaman mulai menggeluti usaha garam tradisional, walau perang masih berkecamuk. Mengambil segenggam kristal putih dari kolam pantai

Editor: M Nur Pakar
AFP
Seorang wanita mengambil bahan garam dari kolam yang nantinya diolah menjadi garam di Yaman. 

SERAMBINEWS.COM, Al-MUKALLA - Para wanita Yaman mulai menggeluti usaha garam tradisional, walau perang masih berkecamuk.

Mengambil segenggam kristal putih dari kolam pantai, sekelompok wanita di Yaman memproduksi garam.

Dilansir ArabNews, Jumat (4/2/202), industri tradisional ini terbukti menjadi penyelamat setelah tujuh tahun perang.

Zakiya Obeid, satu di antara hampir 500 wanita yang bekerja di sebuah desa yang menghadap ke Teluk Aden, di pantai selatan Yaman.

“Kami bekerja sama dan bergiliran karena ini adalah persaudaraan dan kami tahu keadaan sulit satu sama lain,” kata Obeid.

Pekerjaan sangat langka, sehingga perempuan bekerja secara bergilir agar lebih banyak orang mendapat manfaat.

Baca juga: Serangan Udara Koalisi Arab Saudi Terhadap Houthi di Yaman Tewaskan 14 Orang

Dia mengatakan para wanita dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing bekerja selama 15 hari dan yang lain istirahat.

Dengan kaki telanjang dan jubah abaya yang berlumuran lumpur, para wanita menggali baskom saat air surut.

Kemudian, kembali ketika air laut telah menguap untuk mengeruk garam yang kemudian dikemas dan dijual.

Mata pencaharian itu telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Sekarang ini, sarana untuk bertahan hidup, menyediakan satu-satunya sumber pendapatan bagi banyak keluarga.

Para wanita itu mendapatkan sekitar $100, sekitar Rp 1,4 juta per bulan dari hasil memanen garam.

Baca juga: Arab Saudi Bersihkan 315 Ribu Ranjau Darat Houthi di Yaman

Sejak pembentukan Asosiasi Al-Hassi untuk Produksi Garam Laut pada 2020, para wanita dapat mengangkut garam untuk digiling, dikemas, dan dijual ke seluruh Yaman.

“Sebelumnya, kami melakukan pekerjaan yang sama, tetapi hanya bisa menjual garam mentah,” kata Obeid.

“Tapi itu tidak lagi terjadi, dengan asosiasi memberi kami alat dan transportasi," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved