Jurnalisme warga
Sensasi Wisata Sejuk di Aceh Tengah
Hampir semua rumah bagus, hotel, dan gedung perkantoran pemerintah ataupun swasta menggunakan alat penyejuk ruangan (air conditioner) agar adem
OLEH Dr. TAQWADDIN, M.S., Akademisi Hukum dan Hakim Ad Hoc Tipikor, melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah
AKHIR pekan lalu saya dan istri liburan bersama temanteman sealumni.
Pilihan liburan kami adalah Kabupaten Aceh Tengah.
Ada beberapa alasan tepat mengapa memilih Takengon sebagai tempat liburan.
Pertama, karena alamnya yang dingin dan sejuk.
Tak banyak lagi daerah di Indonesia saat ini yang memiliki udara sejuk lagi dingin.
Saat ini kesejukan telah menjadi barang mewah.
Sehingga, hampir semua rumah bagus, hotel, dan gedung perkantoran pemerintah ataupun swasta menggunakan alat penyejuk ruangan (air conditioner) agar adem.
Namun, tidak begitu halnya di Aceh Tengah.
Tak satu pun rumah, kantor, bahkan hotel yang menggunakan AC.
Saran saya, jangan lupa pakai jaket jika Anda bermalam di Aceh Tengah.
Kedua, karena keindahan alam dan kebun kopi.
Dataran Tinggi Gayo, di dalamnya termasuk Aceh Tengah, adalah suatu daerah yang tanahnya gembur dan benar-benar subur.
Baca juga: Keunikan Gua Loyang Peteri Pukes di Aceh Tengah, Terdapat Ular Batu dan Batu Bunyi Bambu
Baca juga: Aceh Tengah Gelar International Gayo Sport Tourism Event 2022
Semua pepohonan kelihatan sehat berkilau.
Apalagi pepohonan kopi, tampak nyata daunnya berkilau diselipi dengan buahnya yang memerah atau yang masih hijau.
Sungguh, ini pemadangan asri luar biasa.
Menyeruput kopi arabika Gayo suatu kenikmatan yang jangan dilupakan di Takengon.
Sangat banyak kafe ataupun warung kopi di kota ini.
Ketiga, alam pegunungannya yang berbukit, mendaki, dan menurun.
Ini suatu fakta yang luar biasa.
Kita seakan menjangkau awan.
Bahkan, kadangkala kita merasa dalam awan.
Makanya, tak heran pula kabupaten ini dijuluki Negeri Antara atau Negeri Atas Awan.
Baca juga: Mahagapa Bentang Bendera Merah Putih Di Danau Lut Tawar
Keindahan perbukitan ini semakin memukau karena lembah dari semua bukit tersebut airnya menuju ke danau.
Namanya Danau Lut Tawar.
Di danau ini hidup dan beranak pinak spesies ikan depik.
Ikan jenis ini hanya ada di Danau Lut Tawar.
Kami ikut membeli ikan ini sebagai oleh-oleh.
Keempat, banyaknya jenis sayuran dan buah serta murahnya harga komoditas tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi istri saya.
Istri memborong banyak sayur dan buah di Pasar Ilang Takengon.
Semua sayuran dan buah tersebut dibagikan kepada saudara, tetangga, dan teman-temannya sebagai oleh-oleh dari Takengon.
Dengan menggunakan empat unit mobil, kami konvoi dari Banda Aceh pukul 09.00 WIB, setelah ngumpul di Lambaro sebagai starting point.
Baca juga: Grand Renggali, Hotel Indah di Pinggir Danau Lut Tawar, Suasananya Seperti di New Zealand
Kami singgah di beberapa tempat untuk istrahat, shalat, dan makan.
Perjalanan darat santai dari Banda Aceh ke Takengon kami tempuh dalam delapan jam, sudah termasuk berhenti di dua tempat (Sigli dan Bireuen).
Sekitaran pukul 5 sore kami tiba di sebuah hotel di Takengon.
Semua kami istirahat sebentar, lalu menikmati makan malam dan jalan-jalan seputaran Kota Takengon.
Bagi yang baru pertama kali ke Takengon, semilir angin sejuk langsung terasa menusuk tulang.
Maka, jangan lupa pakai jaket.
Saat malam larut, kami pun kembali ke hotel untuk tidur.
Gowa Putri Pukes Kunjungan pertama kami adalah ke Gua Putri Pukes.
Baca juga: Pemkab Survei Destinasi Wisata
Lokasi ini tak jauh dari Kota Takengon.
Letaknya di pinggir jalan besar menuju ke Bintang, kecamatan paling ujung timur Danau Lut Tawar.
Tarif jasa memasuki gua ini murah sekali.
Hanya Rp5.000 per orang.
Cukup hanya untuk biaya kebersihan dan sedikit upah jerih beberapa petugas.
Gua Putri Pukes berada di pinggran jalan menghadap ke danau.
Untuk masuk ke dalam gua, kita harus turun melalui tangga yang sudah disemen sekitar 6 meter.
Gua sudah terang karena sudah dialiri listrik.
Mulut gua atau pintu masuk selebar 1,5 meter, memiliki panjang ke dalam 10 meter lebarnya 8 meter luas 1,5 m tinggi rata-rata 2,5 meter dan kedalaman 10,8 meter.
Di dalam Gua Putri Pukes tersebut terdapat batu yang berdasarkan legendanya dipercayai sebagai Putri Pukes yang menjadi batu.
Ada juga sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, dan tempat duduk untuk bersemedi orang masa dahulu.
Baca juga: Pulau di Kuala Gabi Jadi Destinasi Baru
Pantai Menje Dari gua, kami lanjutkan wisata ke Pantai Menje.
Lama perjalanan 50 menit.
Kondisi jalan bagus mulus, indah, dan berliku-liku.
Sesampai di sana, tersedia spot foto yang eksotik dan menarik.
Masuk area yang keren ini hanya dikenakan tiket Rp5.000 per orang.
Bagaimana indahnya lokasi dan spot di pantai Danau Lut Tawar ini tak perlu saya jelaskan dalam kolom ini.
Silakan saja mengunjunginya.
Saya pun sempat merasakan sensasi dinginnya air danau ini dengan mencuci kaki dan membasuh muka.
Wow, dinginnya bagaikan air kulkas.
Memandangi alam yang tenang, teduh, dan sejuk disertai siulan burung serasa menikmati instrumentalia Beethoven.
Perpaduan danau dan puncak pegunungan hijau merupakan karunia Allah yang harus disyukuri.
Keindahan Pantai Menje dilengkapi dengan hamparan sawah yang padinya sedang menguning.
Benar-benar pemandangan yang luar biasa.
Bur Telege Dari Pantai Menje kami menuju Bur Telege.
Sebaiknya, gunakan jalan yang berbeda dengan arah pergi.
Maksudnya supaya bisa mendapatkan pengalaman berbeda.
Kali ini kami melalui perkampungan penduduk.
Kondisi jalannya memang berbeda dengan kemulusan arah pergi ke Pantai Menje.
Namun, pengalaman melewati perkampungan adalah juga sesuatu yang menarik.
Melihat kuda berbaur dengan sapi, kerbau, dan kambing juga pemandangan yang unik.
Waktu tempuh dari Pantai Menje ke Bur Telege sekitar satu jam.
Setelah mengitari Danau Lut Tawar, perjalanan mulai menanjak.
Kondisi jalan menanjak ini juga bagus mulus.
Kami melewati pepohonan pinus besar yang rindang.
Bur Telege berada di punggung Desa Hakim Bale Bujang (HBB), Aceh Tengah, pada ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut.
Dari puncak ini kita bisa memandang hampir keseluruhan Danau Lut Tawar di sisi kanannya.
Sementara di sisi kiri kita bisa saksikan seluruh Takengon perkotaan.
Pantan Terong Ini spot area santai yang perlu dikunjungi.
Jalan menuju Pantan Terong mendaki, hingga mencapai puncaknya pada ketinggian sekitar 1.
450 meter dpl.
Pengemudi perlu ekstrahati-hati.
Gunakan gigi 1 atau 2, sedangkan mobil matic pakai L1 atau 2.Jangan di D, pasti dia tak sanggup naik sekalipun mobil Anda 2.500 cc.
Pemandangannya sangat indah dan asri.
Kiri kanan dipenuhi kebun kopi yang terawat rapi.
Sayangnya, belum ada area wisata khusus petik kopi.
Namun, jika Anda hanya sekadar foto-foto di antara pohon kopi, silakan saja, tak masalah.
Sesampai di puncak Pantan Terong, semua pengunjung berdecak kagum: Masyaallah indahnya.
Tiket masuk ke spot area ini juga Rp5.000.
Harga ini tentu tak seberapa dibandingkan dengan keindahan alam dan sejuknya suasana yang dapat kita nikmati.
Dari puncak Pantan Terong kita bisa saksikan hamparan Kota Takengon di sisi kiri dan Danau Lut Tawar membiru terlihat sempurna.
Di area ini terdapat kafe yang menyajikan kopi robusta dan arabika.
Aromanya, khas.
Pada sore hari udara semakin dingin, sejuk, dan berawan.
Kita benar-benar berada dalam awan.
Sensasi yang sulit terlupakan.
Baca juga: PLN Reboisasi Kawasan Lut Tawar
Baca juga: Masuki Era New Normal, PK KNPI Lut Tawar Serukan Perketat Penerapan Protokol Kesehatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ketua-dewan-pakar-forum-pengurangan-risiko-bencana-forum-prb-aceh-dr-taqwaddin.jpg)