Internasional
Janda di Kota Ini Dianggap Pembawa Bencana Hingga Diasingkan
Menurut Nationalgeographic.co.id, diperkirakan ada sekitar 15 ribu perempuan janda yang hidup di kota tersebut.
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM - Nama Kota Vrindavan mungkin tidak terdengar asing bagi sebagian orang.
Sebagian warganet di Indonesia kerap menyebut salah satu kota di India ini sering dalam sejumlah komentar di media sosial.
Namun tahukah bahwa kota ini punya julukan apa di negara asalnya?
Di negaranya, kota yang terletak di bagian selatan New Delhi ini juga dikenal sebagai "Kota Janda".
Ini dikarenakan kota tersebut dihuni oleh wanita-wanita yang telah ditinggal mati oleh suaminya alias berstatus janda.
Jumlah penduduknya pun tak terhitung.
Menurut Nationalgeographic.co.id, diperkirakan ada sekitar 15 ribu janda yang hidup di kota tersebut.
Namun begitu, keberadaan perempuan janda di Vrindavan bukanlah sebuah kebahagian.
Baca juga: Jika Ada Janda Jatuh Cinta pada Suami Orang, Apa yang Harus Dilakukan? Ini Solusinya Kata Buya Yahya
Baca juga: Tergiur Dijanjikan Kerja, Janda Muda Ditipu Pria Beristri Kenalan di Facebook, Motornya Dirampas
Perempuan-perempuan janda yang datang ke kota tersebut lantaran diasingkan oleh keluarganya.
Mereka diasingkan dengan tujuan agar tidak mendapat warisan.
Selain itu, mereka juga dianggap sebagai 'penghisap uang' dan 'nasib buruk'.
Beberapa janda ada yang ditinggalkan anggota keluarganya di jalan.
Sementara yang lainnya datang ke Kota Vrindavan dengan kemauannya sendiri.
Mereka mendatangi kota tersebut dengan harapan bisa beribadah dan menemukan sahabat.
Meskipun begitu, butuh perjuangan untuk bertahan hidup setiap harinya di Vrindavan.
Baca juga: Kisah TKW Jadi Janda Tajir Usai Cerai dari Anak Sultan Arab, Masih Dapat Kiriman Rp 15 Juta/bulan
Nasib janda di India
Melansir Nationalgeographic.co.id, di India, rasa malu sebagai janda masih sangat kuat di beberapa tempat.
Hal itu diungkapkan oleh Bindeshwar Pathak, pendiri lembaga HAM, Sulabh International.
Pathak menyebutkan, ada beberapa hal yang membuat perempuan-perempuan janda di India merasa diasingkan.
Mereka diharapkan untuk melepas semua kesenangan.
Misalnya seperti tidak diperbolehkan untuk merayakan dan menghadiri pesta pernikahan.
Kemudian diharuskan mengenakan baju berwarna putih hingga tinggal dalam pengasingan.
Menurut Pathak, status janda, seperti bentuk penjara seumur hidup bagi mereka.
Butuh Perhatian
Oleh karenanya, Mahkamah Agung India, menugaskan Sulabh International untuk mendampingi dan membantu wanita-wanita yang tidak mempunyai suami tersebut.
Salah satunya dengan memberikan tunjangan bulanan sebesar 2.000 rupee (Rp 420 ribu) kepada 700 janda.
Baca juga: Musibah di Pesta Pernikahan di India, 13 Perempuan Tewas Terjatuh ke Dalam Sumur
Baca juga: Kisah Babur alias Zahir-ud-din Muhammad, Seorang Muslim yang Dirikan Kekaisaran Mughal di India
Selain itu juga memberikan beberapa keterampilan agar mereka bisa melanjutkan hidup.
Sayangnya, tunjangan tersebut tidak bisa menghidupi semua janda yang tinggal di Kota Vrindavan.
Alhasil tidak semua janda mendapatkan fasilitas yang baik.
Dengan sangat terpaksa mereka harus tinggal di rumah penampungan dan harus berbagi kamar.
Bahkan ada beberapa yang harus tidur di atas terpal di pinggir jalan.
Alasannya karena tidak ada yang mau menerima mereka.
Bencana Ketika Suami Meninggal
Melansir Tribun Medan, Nirmala Maheshwari, kepada New York Times mengaku, dianiaya keluarganya setelah suaminya meninggal.
“Mereka melihat saya sebagai beban,” katanya kepada New York Times.
Nirmala mengenang hari pertamanya ditampung di tempat para janda (Ashram Krishna Kutir) di Kota Vrindavan.
Para janda berkerumun di sekitar tempat tidurnya. Ia dihibur dengan meremas bahu dan tangannya.
Nirmala mengaku telah kehilangan nilai sosialnya di mata keluarganya, putranya, serta kerabat lainnya.
Status sosialnya langsung rendah di rumahnya sendiri. Ia kelaparan hingga dipukuli.
Kini, Nirmala tinggal di penampungan Ashram Krishna Kutir, rumah tinggal yang dikelola pemerintah India.
Di Ashram Krishna Kutir ada sekitar 1.000 tempat tidur.
Mereka diberikan makanan dan minuman, serta obat gratis.
Dengan status sosial ini, menjadi janda, berarti bencana besar.
Menurut data yang dilansir dari New York Times, sekitar 40 juta janda di India diusir dengan kekerasan dari rumah mereka sendiri. Data ini jelas sangat memprihatinkan.
Hal ini karena para janda dari berbagai daerah pedalaman kebanyakan buta huruf dan menikah muda.
"Kota Spiritual"
Meski dikenal sebagai "Kota Janda", kota Vrindavan sebenarnya merupakan "kota spiritual".
Karena kota ini memiliki berbagai kuil untuk memuja Dewa Khrisna.
Oleh karena itu, selain menampung para janda, kota ini bisa mereka gunakan untuk berdoa dan beribadah.
Biasanya mereka akan berdoa bersama selama beberapa jam.
Dengan begitu, mereka akan mendapat imbalan dan alas tidur.
Dari imbalan "mengemis" itu mereka bisa makan dan minum untuk bertahan hidup.
Baca juga: Pria di India Dipaksa Jadi Duda oleh Wanita yang Baru Dinikahi, Gegara si Suami 10 Hari Tak Mandi
Sudah Mulai Ada Perubahan
Kini, kondisi para janda menjadi begitu mengerikan sehingga Mahkamah Agung (MA) India memperhatikan keadaan buruk mereka pada 2012.
Mahkamah Agung memutuskan bahwa pemerintah harus memberi mereka makanan, perawatan medis, dan tempat sanitasi untuk hidup.
Kini, perbaikan nasib para janda sudah mulai diperhatikan karena berbagai petisi publik dan putusan Mahkamah Agung tersebut.
Pemerintah dan kelompok hak asasi manusia (HAM) telah menginvestasikan puluhan juta dolar untuk mengangkat kondisi para perempuan diterlantarkan tersebut.
Vinita Verma, pekerja sosial dari Sulabh International, organisasi yang bekerja dengan para janda, mengatakan dia telah melihat perubahan perlahan dari para janda yang memandang diri mereka sendiri tidak layak dicintai.
Para janda yang dulunya menolak memakai baju selain putih itu kini mau memilih pakaian yang diwarnai biru, jingga, dan merah muda.
“Dulu mereka hanya berpikir putih, tidak ada yang lain,” papar Verma.
“Ketika mereka berdoa, mereka menangis. Ketika mereka sedang memasak, mereka menangis. Sekarang, mereka memiliki nilai,” ujar dia. (Serambinews.com/Yeni Hardika)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wanita-india_20151123_083156.jpg)