Minggu, 3 Mei 2026

Internasional

Presiden Finlandia Melihat Perubahan Diri Vladimir Putin, 'Itu Prilaku yang Berbeda'

Presiden Finlandia Sauli Niinistö, Senin (21/2/2022) mengatakan telah melihat perubahan prilaku Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Sputnik, Kremlin Pool
Presiden Finlandia, Sauli Niinistö (kiri) dan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

SERAMBINEWS.COM, HELSINKI - Presiden Finlandia Sauli Niinistö, Senin (21/2/2022) mengatakan telah melihat perubahan prilaku Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dia mengatakan sekarang terdengar lebih tegas daripada masa lalu.

Niinistö, yang telah melakukan kontak dekat dengan Putin, mengingat percakapan keduanya melalui telepon.

Dalam salah satu panggilan reguler, Niinistö mengatakan dia melawan Putin dengan membela kedaulatan negaranya.

Saat itulah Putin beralih nada, lalu mulai secara resmi membaca daftar tuntutannya.

“Itu adalah perubahan dalam perilakunya, dan saya ingin menebak, dan dari situ saya kira dia ingin menjadi sangat tegas, ingin terdengar seperti itu," jelasnya.

Baca juga: Joe Biden dan Vladimir Putin Membuat Blog, Sebelum Perang di Ukraina Benar-benar Terjadi

"Itu adalah jenis perilaku yang berbeda,” katanya dalam sebuah wawancara di “State of the Union” CNN.

Selama beberapa dekade, Finlandia telah menjaga keseimbangan yang rapuh dalam hubungannya dengan Rusia, setelah diserang oleh Uni Soviet pada 1939.

Negara, yang berbatasan dengan Rusia itu tetap netral selama Perang Dingin, tidak menjadi bagian dari Pakta Warsawa maupun NATO .

Namun, keseimbangan yang rapuh itu mungkin akan berubah jika Rusia akan menyerang Ukraina.

Presiden AS Joe Biden dan lainnya di seluruh Barat telah menggambarkan sebagai ancaman yang akan segera terjadi.

Sementara Niinistö menekankan negaranya tidak merencanakan perubahan dramatis dalam hubungannya dengan Rusia.

Baca juga: Uni Eropa Sambut Baik Rencana Pertemuan Putin dan Biden, Jika Gagal, Sanksi Siap Dijatuhkan

Dia menyarankan tindakan Rusia membuat orang Finlandia berpikir ulang untuk bergabung dengan NATO.

"Banyak tergantung, juga, apa yang sebenarnya terjadi di Ukraina dan bagaimana sikap Rusia setelah itu," katanya.

"Jika Rusia melihat kisah sukses bagi mereka, itu membuat mereka lebih berbahaya," tambahnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved