Senin, 13 April 2026

Internasional

Johnson Serukan Politisi Melawan Rusia, Ingat Saat Inggris Serang Adolf Hitler di Cekoslowakia

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson serukan politisi Inggris bersatu melawan musuh bersama, Presiden Rusia Vladimir Putin.

Editor: M Nur Pakar
AFP/Jessica TAYLOR
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di Common House tentang krisis Ukraina di London, Jumat (25/2/2022). 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson serukan politisi Inggris bersatu melawan musuh bersama, Presiden Rusia Vladimir Putin.

Johson masih terkepung selama berminggu-minggu oleh skandal dan krisis ekonomi yang dikenal dengan skandal 'Partygate'.

Skandal "partygate" bisa kembali menghantuinya, tetapi Johnson mendapatkan kembali kesombongan oratorisnya setelah Putin menyerang Ukraina.

Dibangunkan sekitar pukul 4:00 pagi pada Kamis (24/2/2022) dengan berita invasi, dia langsung bereaksi.

Johson menyerukan pembangkangan masa perang dan kiasan retoris dari pahlawan politiknya, Winston Churchill.

"Ini bukan dalam ungkapan terkenal, negara yang jauh yang kita tahu sedikit'," katanya.

Dia mengingat kata-kata pendahulu Churchill, Neville Chamberlain, ketika menyetujui serangan ke pasukan Adolf Hitler di Cekoslowakia.

“Kami tidak bisa dan tidak akan berpaling begitu saja,” kata Johnson dalam pidato suram.

Tetapi, dia masih mengesampingkan pengerahan pasukan Inggris ke Ukraina.

Baca juga: Rusia Berhasil Cekik Ukraina Secara Perlahan-lahan

Saat krisis memburuk minggu ini, Johnson telah menghilangkan semua kepura-puraan kesopanan diplomatik terhadap Putin.

Dia menghilangkan gelar presiden dan menyebut Putin sebagai diktator.

"Dia tidak akan pernah bisa membersihkan darah Ukraina dari tangannya," katanya kepada House of Commons yang hening.

Johnson memerintahkan bendera Ukraina dikibarkan di gedung-gedung pemerintah dan warna nasionalnya untuk menerangi 10 Downing Street.

Para pemimpin oposisi memperhatikan suasana publik yang cemas.

Saat warga Inggris menyaksikan dengan terperanjat meletusnya potensi konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved