Sabtu, 25 April 2026

Internasional

Vladimir Putin Keluarkan Ancaman Keras, Sanksi AS dan Uni Eropa ke Rusia Berarti Siap Perang

Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Ukraina akan terus berada dalam bahaya. Dia menyamakan sanksi dari AS dan Uni Eropa terhadap Rusia

Editor: M Nur Pakar
AFP/Mikhail KLIMENTYEV / SPUTNIK
Presiden Rusia Vladimir Putin memberi isyarat selama kunjungannya ke kompleks pelatihan penerbangan Aeroflot di luar Moskow pada Sabtu (5/3/2022) 

SERAMBINEWS.COM, MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan sanksi dari Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) sama seperti menyatakan perang.

Dia menegaskan sanksi itu juga berimbas ke Ukraina yang akan terus berada dalam bahaya besar.

Saat bersamaan, gencatan senjata yang dijanjikan di kota pelabuhan terkepung Mariupol gagal di tengah adegan teror.

Dengan retorika Kremlin yang semakin sengit, pasukan Rusia terus menembaki kota-kota yang dikepung.

Sehingga, jumlah orang Ukraina yang dipaksa meninggalkan negara mereka bertambah menjadi 1,4 juta jiwa.

Pada Sabtu (5/3/20220 malam, pasukan Rusia mengintensifkan penembakan di Mariupol, sambil menjatuhkan bom kuat di daerah pemukiman Chernihiv, sebuah kota di utara Kiev, kata para pejabat Ukraina, Minggu (6/3/2022).

Ibu-ibu yang kehilangan berduka atas anak-anak yang terbunuh, tentara yang terluka dilengkapi dengan torniket dan dokter bekerja dengan cahaya ponsel saat kesuraman dan keputusasaan menyelimuti.

Putin terus menyalahkan semua itu pada kepemimpinan Ukraina dan mengecam perlawanan terhadap invasi.

"Jika mereka terus melakukan apa yang mereka lakukan, mereka mempertanyakan masa depan negara Ukraina," katanya.

Baca juga: Senator AS Lindsey Graham Minta Rakyat Rusia Bunuh Presiden Vladimir Putin

“Dan jika ini terjadi, itu sepenuhnya hak hati nurani mereka," tegas Putin.

Dia juga mengecam sanksi Barat yang telah melumpuhkan ekonomi Rusia dan membuat nilai mata uangnya jatuh.

“Sanksi yang dijatuhkan ini mirip dengan menyatakan perang,” katanya dalam pertemuan yang disiarkan televisi dengan pramugari dari maskapai Rusia Aeroflot.

“Tapi syukurlah, kami belum sampai di sana," ujarnya.

Sistem keuangan Rusia mengalami pukulan lagi setelah Mastercard dan Visa mengumumkan bahwa menangguhkan operasi di negara itu.

Sepuluh hari setelah pasukan Rusia menyerbu, perjuangan untuk menegakkan gencatan senjata sementara di Mariupol dan kota timur Volnovakha gagal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved