Berita Luar Negeri

Dunia Diambang Krisis Pangan Akibat Perang Rusia-Ukraina

Harga Gandung dan biji-bijian lainnya melonjak sejak serangan Rusia ke Ukraina

Editor: Muhammad Hadi
AFP/Sergey BOBOK
Asap hitam membumbung tinggi dari pasar Barabashovo, salah satu pasar terbesar di Eropa Timur seluas 75 hektare seusai terkena serangan udara Rusia di Kharkiv, Ukraina, Kamis (17/3/2022). 

Dunia Diambang Krisis Pangan Akibat Perang Rusia-Ukraina 

SERAMBINEWS.COM - Perang Rusia - Ukraina makin terasa dampak ke seluruh dunia.

Apalagi perang Rusia - Ukraina masih berlarut tak kunjung selesai membuat perekonomian global terganggu.

Dampak yang bakal dirasakan adalah dunia diambang krisis pangan akibat perang kedua negara tersebut.

Harga Gandung dan biji-bijian lainnya melonjak sejak serangan Rusia ke Ukraina.

Hal ini memunculkan kekhawatiran terjadinya krisis pasokan pangan yang membuat harga pangan global melonjak dan memicu kerawanan pangan di seluruh dunia.

Hal ini terjadi karena Rusia dan Ukraina adalah dua negara produsen utama gandum dunia.

Baca juga: Kepulangan Mahasiswa Aceh dari Ukraina Disambut Haru Keluarga, Situasi Mencekam Saat Invasi Rusia

Dua negara termasuk pengekspor gandum dan sereal lainnya ke seluruh dunia.

Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama masih memiliki hasil panen dari tahun lalu yang siap untuk diekspor. 

 Namun dengan kondisi perang saat ini, proses ekspor tersebut sulit dilakukan.

Apalagi produk Rusia juga semakin sulit dijangkau karena sanksi Barat.

"Sementara Ukraina tidak dapat dijangkau, Rusia tidak dapat disentuh," ujar Michael Magdovitz dari Rabobank seperti dikutip dari MoneyWeek, Sabtu (19/3).

Ia mengingatkan perang berkepanjangan dua negara bertetangga tersebut akan menimbulkan gangguan pasokan pangan dunia.

Baca juga: Roket Rusia Gempur 200 Tentara Ukraina yang Tidur di Barak Militer Mykolaiv, 50 Orang Tewas

Sebagai dampak dari kondisi ini, negara-negara termasuk Hungaria, Turki, Aljazair, Argentina, dan Indonesia telah memberlakukan larangan total atau sebagian terhadap ekspor biji-bijian atau makanan lainnya.   

Ini merupakan tanda-tanda pertama, para analis memperkirakan, akan beralih ke nasionalisme pangan yang lebih besar. 

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved