Menag Yaqut Cholil: Dari 101 Lokasi Pemantauan Hilal, Semuanya Tidak Melihat

Menag Yaqut mengatakan ketinggian hilal di seluruh Indonesia pada posisi 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit berdasarkan hisab.

Editor: Faisal Zamzami
TRIBUNNEWS/HUMAS KEMENAG RI
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut. 

SERAMBINEWS.COM - Kementerian Agama (Kemenag) menyebut bahwa berdasarkan hasil pemantauan hilal awal 1 Ramadhan 1443 Hijriah belum terlihat pada sore ini, Jumat (1/4/2022).

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menuturkan dari 101 lokasi pemantauan hilal, semuanya melaporkan tidak melihat hilal.

Menag Yaqut mengatakan ketinggian hilal di seluruh Indonesia pada posisi 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit berdasarkan hisab.

Untuk diketahui, hisab adalah metode untuk mengetahui posisi ketinggian hilal, sehingga apakah dimungkinkan hilal bisa dilihat atau tidak.

Kemenag juga telah menggelar pemantauan hilal di 101 lokasi di seluruh Indonesia, dan sejauh ini belum didapatkan laporan terlihatnya hilal.

 Hilal di Indonesia terlalu rendah dan tidak mungkin terlihat.

"Dari 101 titik ini yang melaporkan tidak melihat hilal. Dari 101 titik semuanya melaporkan tidak melihat hilal sebagaimana dilaporkan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama," kata Menag Yaqut, Jumat (1/4/2022).

Sebab, mengacu pada MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), untuk menetapkan 1 Ramadhan 1443 Hijriah, tinggi Bulan minimal adalah 3 derajat, dengan elongasi minimal 6,4 derajat.

"Artinya, di Indonesia ini hilal terlalu rendah dan tidak mungkin bisa mengalahkan cahaya syafaq sehingga tidak mungkin untuk terlihatnya hilal," ujar anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kemenag, Thomas Djamaluddin. 

Dia menambahkan bahwa tinggi Bulan atau hilal di wilayah Jakarta hanya 1 derajat 42 menit, yang artinya tidak sesuai dengan kriteria penentuan awal Ramadhan, yang mana menjadi penentu awal puasa. 

"Tinggi Bulan untuk wilayah Jakarta hanya 1 derajat 42 menit kurang dari dua derajat. Ini kurang dari kriteria yang lama. Kriteria yang lama pun masih kurang," papar Thomas.

Sedangkan tingginya hilal di Indonesia hanya sekitar 2 derajat, dengan elongasi hanya sekitar 3 derajat.

Di sebagian wilayah Jawa dan Sumatera, tinggi Bulan sudah mencapai 2 derajat.

Sehingga, berdasarkan data dari perhitungan Kemenag ketinggian hilal atau Bulan belum memenuhi kriteria.

"Analisis garis tanggal pada saat magrib 1 april 2022 kalau menggunakan rukyat MABIMS yang baru, menunjukkan Indonesia jauh dari kriteria MABIMS yang baru, hilal teralu rendah dan tidak mungkin mengalahkan cahaya syafaq," imbuhnya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved