Internasional
Harga Melonjak, Stok Pangan Menipis, Kelaparan Membayangi Warga Afghanistan
Kenaikan harga barang, kekurangan pangan dan kelaparan membayangi seluruh warga Afghanistan selama bulan suci Ramadhan ini dibawah Taliban.
SERAMBINEWS.COM, KABUL - Kenaikan harga barang, kekurangan pangan dan kelaparan membayangi seluruh warga Afghanistan selama bulan suci Ramadhan ini dibawah Taliban.
Ramadhan tahun ini menandai bulan suci damai pertama bagi banyak pemuda Afghanistan yang lahir setelah pendudukan pimpinan AS pada tahun 2001.
Tetapi itu juga bertepatan dengan situasi kemanusiaan yang memburuk secara mengkhawatirkan sejak pengambilalihan Taliban pada 15 Agustus 2021.
Perekonomian Afghanistan yang hampir ambruk, badan-badan PBB memperkirakan, lebih dari 24,4 juta warga Afghanistan, aau lebih dari setengah populasi, membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.
“Dengan meningkatnya kemiskinan, kurangnya pendapatan dan harga yang melonjak, bahkan lebih banyak orang tidak akan memiliki kemampuan menyediakan makanan bagi keluarga mereka setiap hari di bulan Ramadhan ini,” kata Osman Hamim, pakar ekonomi Afghan kepada Arab News, Selasa (5/4/2022).
Baca juga: Penguasa Taliban Larang Perempuan Bepergian Sendiri Naik Pesawat, Puluhan Wanita Disuruh Pulang
Pemerintah sementara Taliban yang belum diakui oleh masyarakat internasional tidak memiliki akses ke cadangan devisa negara itu.
“Era penindasan, korupsi, dan perampasan telah berakhir," jelasnya.
"Untuk pembangunan ekonomi, Imarah Islam Afghanistan memiliki rencana dan sedang dalam pembicaraan dengan negara tetangga dan negara lain,” kata Bilal Karimi, Wakil Juru Bicara Taliban, kepada Arab News.
“Pada bulan Ramadhan ini, Imarah Islam Afghanistan mendistribusikan bantuan kepada keluarga yang rentan," jelasnya.
"Bantuan diberikan dari sumber internal dan luar negeri," tambahnya.
Banyak warga Afghanistan berharap janji bantuan akan terpenuhi.
Baca juga: Puluhan Ribu Gadis Muda Afghanistan Bergembira, Taliban Izinkan Kembali Sekolah
Mereka juga mengharapkan perdamaian dalam satu bulan di mana kekerasan biasanya meningkat di negara itu selama dua dekade terakhir.
Salah satu serangan terburuk di Kabul terjadi selama Ramadhan pada Juni 2017, ketika sebuah ledakan menewaskan lebih dari 150 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Tahun ini juga, pada hari pertama Ramadhan, sebuah ledakan menghantam pusat pertukaran uang di ibu kota Afghanistan, Kabul, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.
Meski begitu, Mirwais Azizi, (28,) mengaku bersyukur keamanan di Kabul sudah meningkat tajam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pedagang-Kurma-di-Afghanistan.jpg)