Selasa, 2 Juni 2026

Konflik Rusia vs Ukraina

Pantas Barat Gerah, Ternyata Invasi Rusia ke Ukraina Bawa Misi 'Mulia' Harapan Banyak Negara

Lavrov mencatat bahwa operasi militer khusus di Ukraina bertujuan untuk mengakhiri rencana AS untuk dominasi global.

Tayang:
Editor: Amirullah
AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin 

Penulis: Mentari DP

SERAMBINEWS.COM - Perang Rusia dan Ukraina sudah berlangsung sejak Kamis (24/2/2022).

Presiden Rusia Vladimir Putin adalah orang yang pertama kali menyatakan perang Rusia dan Ukraina.

Saat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyembutnya sebagai operasi militer khusus di Ukraina.

Akan tetapi serangan demi serangan yang diterima Ukraina lebih mirip perang.

Tidak heran kekejian Rusia itu mendapatkan respon negatif dari seluruh negara. Seperti sanksi dan beberapa hal lainnya.

Hal itu membuat Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengecam kebijakan Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Apalagi negara-negara Barat berjanji untuk mengirim lebih banyak senjata ke Kiev.

Selain itu, Lavrov menyatakan bahwa Moskow tidak akan menyerah pada tekanan dari luar negeri.

Sebab operasi militer khusus di Ukraina punya tujuan. Apakah itu?

Baca juga: 5 Pekerjaan Aneh Dengan Gaji Bisa Capai Rp 2 Miliar, Jadi Manekin hingga Tukang Minta Maaf

Baca juga: Pakai Pelembap Bibir karena Bibir Kering & Pecah-pecah di bulan Ramadhan, Bagaimana Hukum Puasanya?

Dilansir dari sputniknews.com pada Kamis (14/4/2022), Lavrov mencatat bahwa operasi militer khusus di Ukraina bertujuan untuk mengakhiri rencana AS untuk dominasi global.

“Operasi militer khusus kami dirancang untuk mengakhiri ekspansi sembrono dan arah sembrono menuju dominasi penuh oleh AS dan sisa negara-negara Barat di panggung dunia," ucap Lavrov.

"Dominasi ini dibangun dengan pelanggaran berat terhadap hukum internasional."

"Dan sesuai dengan beberapa aturan tidak jelass yang diberlakukan pada kesempatan tertentu", kata Lavrov dalam sebuah wawancara dengan penyiar Rossiya 24.

Lavrov juga mengkritik diplomat tinggi UE Josep Borrell atas pernyataan terbarunya, setelah diplomat UE itu mengatakan bahwa krisis di Ukraina harus diselesaikan melalui cara militer.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved