Jumat, 24 April 2026

Ramadhan 2022

Cerita Mualaf dan Muslimah Ukraina - ‘Ramadhan Kali Ini Sangat Memilukan, Agama Menguatkan Kami’

Namun dalam Ramadhan keenamnya tahun ini, dia termasuk yang paling aktif beribadah di masjid besar di ibu kota Kyiv.

SERAMBI INDONESIA
Cerita warga menjalani Ramadhan di Ukraina. 

SERAMBINEWS.COM - Enam tahun lalu, dia tidak tahu tentang Islam. Dia tidak mengenal seorang Muslim pun di Ukraina.

Namun dalam Ramadhan keenamnya tahun ini, dia termasuk yang paling aktif beribadah di masjid besar di ibu kota Kyiv.

Sejak invasi Rusia akhir Februari lalu, dia menjadi koordinator pusat sukarelawan yang berkantor di satu kompleks dengan masjid, membantu distribusi makanan untuk tentara dan warga sipil yang memerlukan.

Dia juga merupakan direktur pusat sertifikasi halal Ukraina.

Perempuan muda itu, Viktoria Nesterenko, ketika dihubungi wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, mengungkapkan kesedihan mendalamnya atas apa yang terjadi di negaranya.

"Sangat memilukan dan sedih. Saya stres karena terpikir perang. Saat Tarawih misalnya, cerita dan gambar-gambar mengerikan dari Bucha dan Irpin, terbunuhnya warga sipil dan anak-anak, tak bisa lepas dari pikiran saya," kata Viktoria.

Ramadhan adalah bulan yang selalu ia tunggu dan ia anggap sangat spesial untuk memperbanyak ibadah.

Viktoria adalah satu-satunya pemeluk Islam di keluarga besarnya.

"Yang paling berat adalah secara spiritual, bukan menahan lapar, tapi untuk merasakan atmosfir Ramadhan tanpa terpikir soal perang dan tanpa terbayang para korban," tambah Viktoria melalui sambungan video.

Ia mengirimkan video suasana buka puasa dan salat berjemaah di masjid Kyiv itu.

Ada sekitar belasan orang yang datang, sebagian besar mengenakan seragam atau kaus berwarna hijau tentara.

Para jamaah adalah tentara perlawanan rakyat dan juga sukarelawan. Mereka meneguk air dan makan kurma sebelum shalat Magrib berjamaah.

Awal April, pada hari-hari pertama Ramadhan, warga Ukraina dan dunia dikejutkan dengan munculnya foto-foto dan tayangan mengerikan dari sejumlah kota di seputar Kyiv, termasuk Bucha, setelah pasukan Rusia mundur dan memusatkan serangan di wilayah timur.

Gambar jenazah bergeletakan di jalan-jalan dan hancurnya banyak gedung serta prasarana membuat banyak yang terkejut dan stres.

Mengungsi

Di Chernovtsy-Chernivtsi, di barat daya Ukraina, Niyara Mamutova merasakan kesedihan mendalam yang sama.

Bersama keluarganya, Niyara mengungsi ke kota itu dari Zaporizhzhia, tempat tinggalnya selama delapan tahun terakhir.

"Sirene bergaung setiap waktu dan banyak foto serta tayangan rumah-rumah, sekolah dan rumah sakit yang hancur di kawasan yang diduduki Rusia, bagaimana kami bisa hidup normal," kata Niyara.

"Melihat tayangan mayat-mayat, rumah-rumah yang terbakar membuat saya sedih sekali. Ramadhan kali ini sangat memilukan," ucapnya.

Niyara berasal dari etnik Muslim Tatar yang melarikan diri dari Krimea setelah invasi Rusia pada 2014.

Namun sekitar delapan tahun menikmati hidup di kota Zaporizhzhia, ia terpaksa mengungsi lagi, hanya tiga minggu setelah melahirkan anak keempatnya.

Sumber Kekuatan

Niyara dan Viktoria mengatakan agama menguatkan mereka melalui kondisi sulit ini.

"Islam membantu saya untuk menjadi lebih kuat dan dapat melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang. Kami tetap membaca Alquran dan itu menjadi sumber kekuatan kami." kata Viktoria.

Niyara mengatakan hal senada, imannya memperkuatnya melalui waktu paling sulit dalam hidupnya.

"Agama sangat penting dalam masa sulit seperti ini. Agama membantu saya," kata Niyara.

"Kami paham bahwa perang adalah ujian dan bila Allah memberikan ujian, Allah juga akan membantu kami melewati ujian ini," katanya dan menambahkan doa mereka adalah perang segera berakhir.

Masuk Islam

Viktoria memutuskan masuk Islam pada 2017, setelah berlibur ke Sri Lanka. Sebelumnya ia sama sekali tak mengenal seorang muslim pun di Ukraina.

Untuk diketahui, muslim di Ukraina berkisar 1% dari lebih 40 juta jiwa penduduk, dengan mayoritas Kristen Ortodoks.

"Saya pertama kali berjumpa dengan Muslim justru di Sri Lanka saat berlibur di negara itu," cerita Viktoria, menambahkan ia sempat mampir ke satu masjid dan merasakan begitu baiknya orang-orang yang temui.

"Sejak itu saya mulai belajar tentang Islam dan membaca Alquran. Orang-orang yang saya jumpai di Sri Lanka sangat baik dan selalu membantu saya karena mereka tahu saya berlibur sendiri dan mereka justru yang bertanya apakah tidak takut berlibur sendiri,"

"Jadi setelah kedatangan pertama saya, saya datang lagi setahun kemudian pada 2017, saya ke masjid di kota kecil itu dan masuk Islam. Saat itu saya yakin, inilah agama saya, sesuatu yang indah untuk saya," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved