Senin, 27 April 2026

Konflik Rusia vs Ukraina

Rusia Desak AS Setop Kirim Senjata, Turki Siap Jadi Penjamin Keamanan Ukraina

Rusia mendesak Amerika Serikat (AS) menghentikan pengiriman senjata ke Ukraina karena dapat memicu ketegangan di tengah perang

Editor: bakri
AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin 

JAKARTA - Rusia mendesak Amerika Serikat (AS) menghentikan pengiriman senjata ke Ukraina karena dapat memicu ketegangan di tengah perang, bak menyiram minyak ke api.

"Apa yang dilakukan Amerika adalah menumpahkan minyak ke api," kata Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov, kepada media Rossiya 24 TV, Senin (25/4/2022).

"Kami menekankan ketidaksetujuan kami atas situasi ini, saat Amerika Serikat mengirimkan senjata ke Ukraina, dan kami mendesak penghentian aksi tersebut," katanya.

Antonov mengatakan bahwa Rusia juga sudah melayangkan protes resmi melalui nota diplomatik kepada pemerintah AS.

Namun, nota tersebut masih belum dibalas.

Sebagaimana diberitakan Reuters, AS dan beberapa negara Barat memang terus mengirimkan senjata ke Kyiv untuk melawan Rusia.

Beberapa senjata itu yakni drone, artileri berat Howitzer, rudal anti-pesawat Stinger, dan rudal anti-tank Javelin.

Tak hanya itu, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dan Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, juga sempat mengunjungi Kyiv pada Minggu (24/4/2022).

Rebut 42 kota

Pejabat Ukraina mengakui pasukan Rusia telah merebut lebih dari 42 kota dan desa di wilayah timur negara itu dalam beberapa hari terakhir.

Pengakuan Kyiv itu mencerminkan pertempuran antara Rusia dan Ukraina benar-benar sengit sejak Moskow melancarkan "perang fase 2" di wilayah Ukraina timur.

Baca juga: Korban Selamat Serangan Rusia, Pria Ukraina Sebut Melihat Pasukan Rusia Menembaki Warga Sipil

Baca juga: Rusia Peringkatkan AS, Senjata yang Dipasok Ke Ukraina Bakal Perburuk Situasi

Meski begitu, pejabat Ukraina tersebut tak menjelaskan lebih rinci daerah dan kota mana saja yang telah diduduki pasukan Rusia.

Namun, sejauh ini salah satu kota terbesar yang diklaim dikuasai Rusia adalah Kota Mariupol, kota pelabuhan di tenggara Ukraina.

Pertempuran pasukan Ukraina dan Rusia di wilayah timur terjadi di sepanjang 482 kilometer dan semakin intensif setelah seorang jenderal Negeri Beruang Merah, Rustam Minnekayev, mengisyaratkan ambisi Presiden Vladimir Putin untuk juga menduduki wilayah selatan Ukraina.

Meski begitu pejabat Ukraina tersebut bersumpah bahwa negaranya akan merebut kembali seluruh wilayah yang diduduki Rusia tidak lama lagi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved