Breaking News:

Berita Aceh Tengah

Usaha Kue Kering Rumahan Kebanjiran Order

Lebaran Idul Fitri identik dengan yang namanya kue kering, selain ketupat, rendang, dan makanan khas hari raya lainnya

Editor: bakri
SERAMBINEWS/Bagus Setiawan
Tiwi bersama beberapa kue produksinya (28/4/2022). 

TAKENGON - Lebaran Idul Fitri identik dengan yang namanya kue kering, selain ketupat, rendang, dan makanan khas hari raya lainnya.

Seperti saat ini, jelang lebaran masyarakat mulai banyak memburu kue- kue kering, baik di pasar maupun dari usaha rumahan yang ada.

Dimas Dewi Pertiwi atau akrab di panggil Tiwi, merupakan pengusaha rumahan kue kering yang ada di Desa Mendale, kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah.

Ia mengatakan, angka penjualan kue kering jelang lebaran ini meningkat.

"Alhamdulillah penjualan kita tahun ini sangat meningkat, beda dengan 2 tahun terakhir" kata Tiwi.

Ia biasa membuka preorder di setiap tahun bulan Ramadhan dan tahun ini mulai membuka preorder sejak minggu kedua bulan Ramadhan.

Saat Serambi berkunjung ke kediamannya, Kamis (28/4/2022), Tiwi tampak sedang membuat kue kering jenis choco chips, satu per satu adonan digumpal dan diletakan di atas loyang.

Gumpalan adonan tersebut ia tekan menggunakan garpu yang kemudian di tabur butiran cokelat di atasnya.

Dalam sehari Tiwi minimal dapat membuat kue sebanyak 4 toples ukuran 500 gram dengan beberapa jenis kue produksinya, seperti corn flake, bangkit susu, choco chips, dan nastar.

Baca juga: Cerita Tiwi, Perempuan Aceh Tengah yang Meraup Pundi Rupiah dari Usaha Kue Kering Rumahan 

Baca juga: Cobain Resep Nastar Nanas Kismis Ini, Mudah Dibuat dan Jadi Inspirasi Kue Kering Unik saat Lebaran

Selain kue kering, ia juga memproduksi bolu yang setiap tahun penjualannya juga meningkat.

Harga 1 toples dengan berat 500 gram dapat di bandrol dengan harga Rp 75 ribu, untuk 1 toples ukuran 1 kilogram seharga Rp 160 ribu, sedangkan untuk hampers dengan berat 1,15 kilogram dibandrol seharga Rp 230 ribu.

Penjualannya selain dari wilayah Takengon atau aceh tengah, pesanan ia terima juga dari kabupaten Bener Meriah hingga kota Banda Aceh.

Omzet yang didapat juga terbilang besar dibanding tahun sebelumnya, tahun sebelumnya omzet yang didapat capai Rp 6 juta dan pada tahun ini Tiwi menggambarkan keuntungan capai Rp 20 juta.

Meski demikian,Tiwi mengatakan lancarnya penjualan kue ini bukan berarti tidak ada kendala yang ia hadapi.

Mahalnya bahan pokok merupakan masalah utama dari usahanya ini.

Mulai naiknya harga tepung, mentega, telur hingga gas menjadi masalah yang ia hadapi begitu juga dengan cooker yang lain.

"tapi kendalanya tahun ini, mungkin menjadi kendala juga bagi cooker dimanapun berada yaitu meningkatnya harga bahan pokok" ujarnya.

Meski harga bahan baku naik, ia tidak menaikan harga jual dan tetap menjual produknya dengan harga standar agar tidak mengurangi minat pembeli atau pelanggannya. (b)

Baca juga: Cachanda Brownies, Produsen Kue Lebaran Lokal yang Masih Bertahan

Baca juga: Warga Lebih Memilih Membeli Kue Lebaran di Pasar Induk Lambaro, Ini Sebabnya

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved