Kesehatan
Ini 7 Bahaya Vape untuk Kesehatan, Rokok Elektronik yang Dihisap Caisar YKS saat Live TikTok 24 Jam
Dalam acara talkshow, Caisar membantah bahwa dirinya mengonsumsi narkoba selama live di TikTok. Ia menegaskan dirinya hanya mengisap vape, apa itu?
Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
7 Bahaya Vape untuk Kesehatan, Rokok Elektronik yang Dihisap Caisar YKS saat Live TikTok 24 Jam
SERAMBINEWS.COM - Baru-baru ini, Caisar YKS jadi perbincangan warganet setelah dituduh menggunakan narkoba jenis sabu-sabu.
Pasalnya, Caisar YKS melakukan live Tiktok selama 24 jam nonstop.
Tak sedikit netizen mencurigai Caisar menggunakan sabu-sabu karena melihat gelagatnya yang tak beres.
Namun dalam sebuah acara talkshow, Caisar membantah bahwa dirinya mengonsumsi narkoba selama live di TikTok.
Caisar menegaskan dirinya hanya mengisap rokok elektrik, vape. Sebab selama ini diakuinya sudah lama tak mengisap rokok tersebut.
"Saya lama nggak nge-vape kan," ucap Caisar YKS dalam acara live Rumpi, Senin (9/5/2022).
Baca juga: Caisar YKS Mengaku Hanya Isap Vape Saat Live TikTok 24 Jam Nonstop, BNN Bantah Punya Akun
Lantas, apa itu vape dan bahayanya untuk kesehatan?
Saat ini banyak orang yang memilih rokok elektrik atau vape karena dianggap lebih aman dibandingkan rokok tembakau.
Vape telah dipasarkan secara luas sebagai alternatif yang lebih aman untuk merokok, karena vaping tidak melibatkan pembakaran dan pengasapan tembakau, tetapi tetap mengandung nikotin.
Bahkan, diketahui kadar nikotin vape lebih tinggi daripada rokok biasa, yakni bisa 10 kali lipat.
Melansir dari Kompas.com, penelitian terbaru menunjukkan, bahwa banyak masalah kesehatan yang dialami perokok konvensional yang beralih ke rokok elektrik atau vape, karena kandungan nikotin maupun bahan kimia lainnya dalam cairan vape.
Vape juga dikaitkan dengan penyakit paru-paru serius, yang telah menyebabkan kematian.
Selain itu, berikut sejumlah bahaya vape pada kesehatan tubuh.
Baca juga: Efek Samping Vape, Manakah Lebih Bahaya Rokok Tembakau atau Rokok Elektrik?
1. Meningkatkan risiko penyakit jantung
Meskipun rokok elektrik tidak mengandung tembakau, kandungan nikotin yang tinggi di dalamnya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, sama seperti merokok biasa.
Direktur Pusat Penelitian dan Inovasi Tembakau di University of Wisconsin di Madison, dr Michael Fiore mengungkapkan, nikotin termasuk dalam kategori obat stimulan.
Efeknya membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, hingga berpotensi menyebabkan tekanan darah tinggi.
Jika menghisap vape, Anda mungkin memiliki risiko 59 persen lebih tinggi terkena serangan jantung atau nyeri dada (angina) dan risiko penyakit jantung sebanyak 40 persen lebih tinggi.
Temuan tersebut dipresentasikan di American Stroke Associations’s International Stroke Conference tahun 2019 di Honolulu.
Baca juga: Vape Sama Bahaya dengan Rokok Biasa, Bisa Picu 3 Penyakit Paru Termasuk Kanker
2. Memengaruhi perkembangan otak pada remaja
Berdasaran survei yang dilakukan National Youth Tobacco Survey, sekitar 27,5 persen siswa sekolah menengah di AS mengonsumsi vape dalam 30 hari terakhir pada tahun 2019.
Angka ini naik 1,5 persen dari tahun 2011.
Penelitian menunjukkan, remaja dan anak-anak yang dapat menggunakan perangkat ini kemungkinan menghadapi gangguan otak jangka panjang yang serius, dan masalah perkembangan otak karena kandungan nikotinnya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menemukan, bahwa nikotin dapat membahayakan perkembangan otak remaja, yang berlanjut hingga memasuki usia awal 20 tahun-an.
Baca juga: Asosiasi Vaper Tegaskan Produk Tembakau Alternatif Bukan Untuk Anak-anak
3. Menyebabkan kanker
Penelitian terbaru mengungkapkan, bahwa vape mengandung formaldehida tingkat tinggi, maupun jenis karsinogen lainnya.
Menurut studi tahun 2015 yang dilakukan peneliti di Portland State University, proses pemanasan propilen glikol dan gliserol, yaitu dua bahan paling umum dari cairan vape, mengakibatkan pelepasan formaldehida.
Studi ini menjelaskan, agar pelepasan formaldehida terjadi, perangkat perlu mencapai tegangan yang agak tinggi, sekitar lima volt.
Tetapi, faktanya banyak vape di pasaran yang dapat memanas hingga level tersebut.
4. Menyebabkan kecanduan
Dokter Fiore menyebut, sama seperti rokok pada umumnya, nikotin dalam vape menyebabkan pelepasan dopamin yang sering menyebabkan kecanduan nikotin.
“Nikotin adalah bagian tembakau yang psikoaktif dan adiktif,” jelasnya. Dopamin adalah faktor utama dalam kecanduan rokok, karena menyebabkan sensasi yang menenangkan sekaligus menyenangkan.
Baca juga: Jadi Momok Pandemi Corona, Vape Meningkatkan Infeksi Hingga Menyebarkan Virus Lewat Asap
5. Mengiritasi mata dan saluran pernapasan
Menurut American Cancer Society, bahaya vape selain menyebabkan kanker adalah mengiritasi matas, hidung, dan tenggorokan.
Fiore menjelaskan, hal tersebut disebabkan kandungan formaldehida yang ditemukan di beberapa produkvape.
Terlebih lagi, nikotin yang ditemukan dalam vape atau rokok elektrik terkadang dapat menyebabkan mual, pusing, atau muntah, terutama pada pengguna baru.
6. Menyebabkan keracunan
Fiore menegaskan, mengonsumsi terlalu banyak nikotin dapat menjadi racun.
Apalagi jika menelan nikotin cair yang pekat, bisa menyebabkan seseorang mengalami overdosis.
Dia secara khusus memperingatkan bahaya meninggalkan rokok elektrik atau vape di dekat anak-anak, yang mungkin tidak memahami risiko ini.
“Banyak anak telah menelan cairan ini hingga mengalami sakit parah, dan sayangnya, beberapa dari mereka bahkan meninggal karena ini,” imbuhnya.
7. Baterai vape dapat meledak di tangan atau wajah
Rokok elektrik atau vape ditenagai oleh baterai lithium ion kecil.
Ketika baterai kecil ini ditempatkan pada suhu ekstrem, diisi daya berlebih, atau cacat diproduksi maka baterai tersebut dapat meledak dan membuat pengguna rokok elektrik mengalami cedera pada tangan, wajah, dan mata.
Meskipun kemungkinannya kecil, tercatat kasus terkait ledakan vape pada seorang remaja laki-laki yang mengalami rasa sakit dan bengkak di bagian rahangnya dua jam setelah rokok elektriknya meledak.
Kasus ini dilaporkan dalam New England Journal of Medicine.
Banyak orang beralasan menggunakan vape sebagai tahapan untuk berhenti merokok.
Namun dr Fiore merekomendasikan untuk menggunakan cara yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), salah satunya dengan menggunakan permen karet.
"Cara ini lebih aman dan terbukti membantu perokok berhenti," pungkas dr. Fiore. (Serambinews.com/Firdha Ustin)
Baca juga berita lainnya
Baca juga: Lampu Traffic Light di Simpang Empat Pantonlabu Sudah Sepekan Tak Berfungsi
Baca juga: Gen Halilintar Tak Jenguk Ameena Dibongkar Atta Halilintar Alasannya, Tak Terkait Aurel
Baca juga: PPKM Disetop Jika Covid Terkendali, PTM Harus Dilakukan Hati-hati