Sabtu, 25 April 2026

Berita Banda Aceh

Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh Gelar Ekspedisi Gayo Alas

Kegiatan dimulai dari Aceh Tengah, Gayo Lues, dan berakhir di Aceh Tenggara. Kegiatan diikuti oleh 12 dosen dan karyawan.

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Aktivitas dosen prodi SKI UIN Ar-Raniry Banda Aceh di kompleks Makam Reje Linge di Buntul Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Kamis (12/5/2022) 

Kegiatan dimulai dari Aceh Tengah, Gayo Lues, dan berakhir di Aceh Tenggara. Kegiatan diikuti oleh 12 dosen dan karyawan.

Laporan Muhammad Nasir I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON – Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh melakukan kegiatan pengabdian masyarakat ke lintas Tengah Aceh.

Kegiatan bertajuk ekspedisi Gayo-Alas ini, 11-14 Mei 2022.

Kegiatan dimulai dari Aceh Tengah, Gayo Lues, dan berakhir di Aceh Tenggara. Kegiatan diikuti oleh 12 dosen dan karyawan.

Ketua Prodi SKI, Sanusi Ismail MHum, mengatakan ekspedisi ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengamati, dan membersihkan situs-situs sejarah dan budaya yang tersebar di tiga kabupaten di lintas Tengah Aceh.

Lebih lanjut, Sanusi menjelaskan, identifikasi yang dimaksudkan adalah mengetahui jumlah dan lokasi situs yang tercatat atau teridentifikasi di setiap kabupaten yang dikunjungi.

Selanjutnya, pihaknya akan datang langsung ke beberapa situs tersebut untuk mengamati kondisinya, apakah terpelihara dan terawat dengan baik atau sebaliknya.

“Sebagai implementasi dari salah satu aspek Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kita juga melakukan kegiatan membersihkan beberapa situs yang kita kunjungi,”kata Sanusi, Jum’at (13/5) di Aceh Tengah.

Selain itu, kata Sanusi, untuk memudahkan kegiatan ekspedisi tersebut, Prodi SKI bekerja sama dengan Dinas terkait yang menaungi bidang kebudayaan dan didukung oleh para dosen prodi yang meliputi 4 bidang keahlian yaitu sejarah, arkeologi, antropologi, dan filologi.

Kemudian, hasil identifikasi dan pengamatan di lapangan itu akan dijadikan dasar kebijakan untuk melakukan penelitian dan pengabdian dalam skala yang lebih besar di masa mendatang yang melibatkan para dosen, mahasiswa, dan masyarakat setempat.

“Di Aceh Tengah dan Aceh Tenggara kita bekerja sama dengan Disdikbud, sedangkan di Gayo Lues dengan Dinas Parawisata,”kata Sanusi.

Seorang dosen yang terlibat dalam kegiatan ini, Dr Bustami Abubakar Mhum, menjelaskan sejauh ini di antara situs-situs sejarah dan budaya yang telah teridentifikasi di seluruh Aceh masih sangat sedikit yang terpelihara dan terawat dengan baik.

Padahal, menurut Undang-unadng Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, situs-situs itu bukan hanya sekadar diidentifikasi, dipelihara, dan dirawat, tetapi juga bisa dimanfaatkan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.  

Bustami berpendapat, pemanfaatan yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana situs-situs sejarah dan budaya itu bisa menjadi objek wisata, terutama wisata sejarah, budaya, dan religi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved