Berita Pidie
Harga Emping Melinjo di Pidie Meroket Tajam, dari Rp 85.000 menjadi Rp 110.000/Kg, Bahan Baku Langka
Diakui, selama dua bulan terakhir pasokan biji melinjo dari berbagai petani lokal dan luar daerah makin minim
Penulis: Idris Ismail | Editor: Nur Nihayati
Diakui, selama dua bulan terakhir pasokan biji melinjo dari berbagai petani lokal dan luar daerah makin minim
Laporan Idris Ismail I Pidie
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Meskipun Pidie menjadi salah satu sentra penghasil kerupuk mulieng, namun harganya kian melambung.
Harga kerupuk mulieng (emping melinjo) dalam dua bulan terakhir meroket tajam.
Di Pasar Beureunueun, Kecamatan Mutiara, Pidie harga kerupuk mulieng per kilonya telah mencapai Rp 110.000/Kg.
Harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya hanya Rp 85.000/Kg.
'Meroketnya harga kerupuk emping ini dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku utama yaitu biji melinjo, dari biasanya Rp 25.000 per bambu kini menjadi Rp 45.000 per bambu," sebut Irfan Ramadhan, pedagang grosir emping melinjo di Kota Beureunueun, Kecamatan Mutiara Pidie kepada Serambinews.com, Kamis (19/5/2022).
Diakui, selama dua bulan terakhir pasokan biji melinjo dari berbagai petani lokal dan luar daerah makin minim dan bahkan sangat langka.
Sehingga dengan sendirinya memicu meroketnya harga kerupuk atau emping melinjo di pasaran.
Kini untuk harga untuk jenis super atau lose mencapai Rp 110.000/Kg sedangkan untuk jenis kualitas sedang juga mengalami lonjakan dari Rp 40.000/Kg kini menjadi Rp 90.000/kg.
Diakui, meski tergolong mahal harga emping namun, masyarakat tetap membelinya meski dengan jumlah terbatas.
Termasuk juga saat ini pengiriman emping ke luar daerah baik Medan, Lampung, hingga ke Jakarta tidak dapat dilakukan karena stok terbatas.
'Jadi, saat ini hanya sebatas melayani permintaan dari para konsumen lokal," pungkasnya. (*)