Rabu, 6 Mei 2026

Video

VIDEO Pertemuan Mauri dengan Keluarga Berlangsung Haru Usai Kecelakaan Kerja di Malaysia

Warga Blang Kandis yang menyaksikan pertemuan Mauri dan keluarganya juga ikut terharu.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: T Nasharul

SERAMBINEWS.COM, KUALA SIMPANG – Isak tangis keluarga yang sedari pagi menunggu kedatangan Mauri (44), yang mengalami kecelakaan kerja di Malaysia, seketika pecah.

Begitu tiba sebuah mobil berwarna putih di halaman rumahnya di Kampung Blang Kandis, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, Senin (20/6/2022) sore diselimuti suasana haru.

Peluk dan cium serta tangis pecah dari seorang ibu tatkala melihat putranya bernama Mauri turun dari dalam mobil.

Mauri yang pergi ke Malaysia dalam keadaan sehat, tapi tiba dengan pipi sebelah kananya terbungkus perban dan selang menjorok ke dalam lubang hidung kanannya.

Warga Blang Kandis yang menyaksikan pertemuan Mauri dan keluarganya juga ikut terharu.

Baca juga: Mauri, TKI asal Aceh Tamiang yang Alami Kecelakaan Kerja di Malaysia Pulang Kampung Besok Pagi

Mauri tiba di kampung halamanya setelah melakukan perjalanan panjang selama berjam-jam menggunakan jalur udara dan darat.

Kepulangan Mauri ke tanah kelahirannya ini difasilitasi oleh Anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi dan Ketua Komunitas Bireuen Bersatu di Malaysia, Haikal.

Kepada Serambinews.com, Asrizal mengatakan bahwa dirinya langsung menjemput Mauri di Bandara Kuala Namu, Suamtera Utara pagi tadi pukul 10:00 WIB.

Setibanya di Kuala Namu, Asrizal langsung membawa Mauri menuju tanah kelahirannya di Blang Kandis, dengan jarak tempuh 4 jam 30 menit.

“Suasananya sangat haru. Ibu dan kakak serta adik pak Mauri tak mampu menahan tangis,” ujar Ketua DPD PAN Aceh Tamiang itu.

Kedatangan Mauri bersama Asrizal turut disambut oleh sejumah tokoh masyarakat Kampung Blang Kandis.

Baca juga: Jenazah TKI Asal Pasie Raja Meninggal di Malaysia Tiba di Aceh Selatan, Disambut Bupati

Perwakilan keluarga Mauri mengucapkan terima kasih atas upaya yang telah diberikan Asrizal dan relawan masyarakat Aceh di Malaysia, yang mau memfasilitasi kepulangannya.

“Saya mewakili Pak Mauri tak ada kata yang bisa disampaikan kecuali hanya terima kasih yang tak terhingga kepada bapak (Asrizal) yang telah meluangkan waktu, mengorbankan materi,”

“Sehingga bisa menghantarkan keluarga kami sampai di rumahnya,” ujar Imuem Gampong yang mewakili keluarga Mauri.

Sementara itu, Asrizal menceritakan kondisi Mauri selama 3 tahun merantau di Malaysia hingga akhirnya harus terbaring di rumah sakit akibat kecelakaan kerja.

“Pak Mauri bekeja secara ilegal di Malaysia, yang akhirnya tidak ada biaya pengobatan dari asuransi terhadap kejadian tersebut,” katanya.

Karena itu, biaya sebagian pengobatan Mauri selama di rumah sakit ditanggung oleh majikan atau toke ditempatnya bekerja.

“Pak Mauri ini digaji dan sudah diambil haknya. Dia baru bekerja selama dua bulan di perusahaan itu,” ungkap Asrizal.

Anggota DPR Aceh Fraksi PAN itu berpesan kepada masyarakat Aceh, khususnya masyrakat Aceh Tamiang, jika ingin bekerja di luar negari maka bekerjalah secara resmi.

“Artinya punya paspor, visa bekerja, dan berangkat dengan perusahaan (agen) yang resmi. Sehingga tidak bekerja secara ilegal,” imbuhnya.

Selain Mauri, seorang warga Kampung Blang Kandis juga menjadi korban kekerasan dan penyekapan oleh majikanya selama 8 tahun. Ia adalah Lili Herawati.

Lili Herawati juga diketahui berangkat dan bekerja di Malaysia melalui sebuah agen yang tidak resmi.

“Jika ilegal, kalau ada kejadian seperti ini kita tidak punya hak dan alasan untuk meminta pertanggungjawaban untuk membiayai pengobatan, uang ganti, atau santunan,” ujar Asrizal. 

Penulis: Agus Ramadhan

Editor: T. Nasharul J

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved