Haji 2022
Berhaji ke Serambi Mekkah Sebelum ke Mekkah
Aceh sebagai daratan terakhir di Nusantara sebagai tempat pemberangkatan jamaah haji saat masih menggunakan kapal layar maupun kapal ua
MEKKAH - Sebagai Provinsi ujung Barat Indonesia, Aceh sejak dulu telah digelari Serambi Mekkah.
Bukannya tanpa alasan, pemberian gelar ini setidaknya dikarenakan dua hal.
Pertama, Aceh dikenal sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Nusantara.
Kedua, Aceh sebagai daratan terakhir di Nusantara sebagai tempat pemberangkatan jamaah haji saat masih menggunakan kapal layar maupun kapal uap.
Secara geografis letak Aceh memang yang paling dekat dengan Mekkah dibandingkan 9 embarkasi lainnya.
Aceh-Mekkah hanya berjarak 6.394 Km.
Bandingkan dengan embarkasi tetangga, Medan, yang berjarak 6.638 Km.
Sedangkan embarkasi dengan jarak terjauh adalah Makassar, yang berjarak 9.139 Km dari Mekkah.
Lebarnya jarak antara embarkasi dengan tanah suci tentu memiliki banyak implikasi.
Jarak tempuh, ongkos naik haji (ONH) sampai tingkat keletihan jamaah haji menjadi akibat yang sangat dirasa dari rentang jarak ini.
Baca juga: Arab Saudi Tangkap 15 Orang, Tawarkan Layanan Palsu Ibadah Haji
Baca juga: Gelombang Pertama Jamaah Haji Oman Tiba di Arab Saudi Melalui Pelabuhan Laut
Sebagai perbandingan dalam pelaksanaan haji tahun ini, Kloter 02 Aceh yang tiba ke kota Madinah bersamaan dengan Kloter 16 Jawa Timur, sanggup mengerjakan shalat arba'in setibanya di Madinah, sedangkan Kloter 16 Jawa Timur baru mengerjakan arba'in keesokan harinya.
Keletihan menjadi sebab utama tertundanya pelaksanaan arba'in jama'ah haji Kloter 16 Jawa Timur.
Penerbangan dari Banda Aceh ke Madinah cuma membutuhkan waktu selama tujuh jam.
Sedangkan dari Surabaya membutuhkan waktu penerbangan lebih dari sebelas jam.
Untuk urusan ONH, berangkat haji dari Aceh lebih hemat Rp 6.925.152 dibandingkan embarkasi Surabaya.
Jumlah yang tidak sedikit jika diakumulasi dengan jumlah keseluruhan jamaah haji.
Berangkat dari keterangan di atas, wacana berhaji melalui Serambi Mekkah sebelum ke Mekkah bukanlah wacana di siang bolong.
Wacana ini berangkat dari nilai historis yang cukup kuat.
Aceh sebagai bandar haji tertua dan satu-satunya di Nusantara.
Nilai historis ini juga didukung oleh letak geografis dan perhitungan ekonomis yang tepat, membuat wacana ini patut diperjuangkan.
Terlepas dari motif dibalik wacana ini dihembuskan.
Menjadikan Aceh sebagai satu-satunya embarkasi pemberangkatan haji senafas dengan penerapan syariat Islam di Aceh yang telah lama didukung oleh pemerintah pusat.
Tinggal keseriusan semua elemen untuk berbenah.
Peningkatan fasilitas, asrama haji, kualitas SDM mutlak dilakukan.
Wacana tanpa usaha hanya cet langet (angan-angan semata).
Semoga ke depan seluruh Muslim Nusantara bisa berhaji ke Serambi Mekkah sebelum ke Mekkah.
Amin. (Mizaj Iskandar/Kontributor Serambi)
Baca juga: City Walk Menjadi Zona Terbaik Festival Jeddah, Jelang Puncak Haji, Kegiatan 60 Hari Diakhiri
Baca juga: Madinah Sambut 313.000 Jamaah Haji dari Seluruh Dunia, Sebagian Besar Telah Menuju Mekkah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mizaj-iskandar-kontributor-serambi-indonesia-melaporkan-dari-mekkah-al-mukarramah.jpg)