Minggu, 31 Mei 2026

Arah Pembangunan Aceh

Pakar Ekonomi Beri Catatan Untuk Pj Gubernur Tentang Arah Pembangunan Aceh

2 sektor yang kuat sebagai penyangga ekonomi daerah yaitu pertanian dan perdagangan, yang harus menjadi fokus pemerintah sebagai basis ekonomi utama.

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Rustam Effendi, Pakar Ekonomi Aceh 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Pakar Ekonomi Aceh, Rustam Effendi mengatakan pembangunan ekonomi Aceh perlu dikembalikan ke jalur yang benar sesuai pondasi ekonomi daerah sehingga bisa mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

Menurutnya, ada dua sektor yang kuat sebagai penyangga ekonomi daerah, yaitu sektor pertanian dan perdagangan. Kedua sektor itu saat ini tidak menjadi fokus pemerintah sebagai basis ekonomi utama Aceh.

“Kembalikan arah pembangunan ekonomi ke jalur yang benar sesuai pondasi ekonomi daerah. Struktur ekonomi kita kuat di sektor pertanian dan perdagangan,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK) ini.

Catatan kritis tersebut disampaikan Rustam Effendi kepada Serambinews.com, Minggu (17/7/2022) sebagai gambaran untuk Penjabat (Pj)  Gubernur Aceh Achmad Marzuki dalam mengambil keputusan dan kebijakan terhadap arah pembangunan Aceh.

“Kemiskinan dan pengangguran yang tinggi itu akibat kita tidak mampu dorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Ekonomi tumbuh tapi tidak menyerap tenaga kerja, tidak hasilkan nilai tambah. Ekonomi tumbuh dari hasil ekspor bahan tambang dan sektor konstruksi yang jauh dari sektor basis ekonomi kita yaitu pertanian dan perdagangan,” ucap Rustam.

Dalam membangun ekonomi dari sektor pertanian, terang Rustam, pemerintah harus melakukan dengan sungguh-sungguh seperti membangun hulu yang kuat dengan menyiapkan lahan, benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan) serta lainnya.

Selain itu juga perlu dilakukan budidaya dengan melatih pelaku usaha tani dengan keterampilan dan penguasaan teknologi dan perkuat sistem pendukungnya seperti irigasi dan jalan usaha tani dengan program dan kegiatan yang tepat.

Untuk meningkatkan produksi, lanjut Rustam, pemerintah juga perlu memilih komoditas-komoditas unggulan Aceh yang sudah pasti nilai pasarnya sehingga ada jaminan pasar bagi petani atau peternak.

Seperti tanaman pangan (padi, jagung, kedelai), peternakan (sapi, ayam petelur dan pedaging), perikanan (cakalang, tuna, udang), perkebunan (kopi, nilam, karet, coklat, dan lainnya). “Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas/produksi,” sebutnya.

Langkah ini harus diikuti dengan segera membangun dihilirnya. Menurut Rustam, program hilirisasi harus benar-benar fokus. Misalnya dalam membangun pabrik, sertakan modal pemerindah daerah dan ajak pihak swasta untuk joint dengan PT Pembangunan Aceh (Pema) atau BUMD.

“Singkatnya  ekonomi daerah dibangun dengan entitas badan usaha yang punya visi bisnis, tidak dengan dinas. Pola yang dibuat pusat dengan BUMN dalam membangun ekonomi dapat dijadikan contoh oleh Aceh. Sehingga lewat BUMD bisa juga menghasilkan PAD bagi daerah,” ungkap Rustam.

Selain sektor pertanian, Rustam juga mengatakan bahwa kontribusi sektor perdagangan menjadi sektor kedua terbesar di Aceh yang dapat didorong dalam memulihkan ekonomi Aceh ke depan.

“Salah satu penggeraknya adalah lewat UMKM. Saatnya pemda fokus bina UMKM. Lkukan pemetaan kebutuhan riil melalui needs assessment pelaku usaha. Bantu kesulitan mereka selama ini. Sediakan anggaran untuk pelatihan, pedampingan, termasuk advokasi jika diperlukan,” katanya.

Untuk mengatasi permodalan, sambung dia, Pj Gubernur dapat duduk bersama pihak perbankan di daerah untuk membantu akses pembiayaan bagi pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved