Sastra Gayo

Penyair Gayo LK Ara, Tampil dalam Bincang Sastra Lisan Gayo Secara Virtual Malam Ini

Penyair Gayo yang juga seorang dokumentator sastra lisan Gayo, LK Ara (86 tahun) dan Istri, Ine Hidayah tampil dalam...

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Eddy Fitriadi
For Serambinews.com
Penyair LK Ara. Penyair Gayo LK Ara, Tampil dalam Bincang Sastra Lisan Gayo Secara Virtual Malam Ini. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Penyair Gayo yang juga seorang dokumentator sastra lisan Gayo, LK Ara (86 tahun) dan Istri, Ine Hidayah tampil dalam  "Bincang Sastra Lisan Gayo" diselenggarakan Pusat Kajian Kebudayaan Gayo (PPKG) secara daring, Selasa (26/7/2022), pukul 19.30 WIB.

Partisipan bisa mengikuti bincang sastra itu melalui tautan Zoom Meeting https://us02web.zoom.us/j/81730848941?pwd=a2p0R05ON2dSVUtmV3RlRTdSUldidz09, Meeting ID: 817 3084 8941, dan Passcode: 764770.

LK Ara selain penyair, juga dikenal sebagai dokumentator sastra lisan Gayo sejak puluhan tahun silam.

Ia akan menceritakan pengalaman kerja mendokumentasikan sastra lisan Gayo yang begitu sulit karena sarana dan prasarana yang terbatas. 

LK Ara adalah  penerima Angerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 2019. 

Bincang itu dipandu  Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo Yusradi Usman al-Gayoni, dan pembawa acara  Illyin Sari Nate, mahasiswi Ilmu Pemerintahan Universitas Syiah Kuala (USK).

Gayo memiliki sepuluh sastra lisan, di antaranya didong, kekeberen, kekitiken, melengkan, pantun, peribahasa, saer, sebuku, tep onem, dan ure-ure. 

Dalam perbincangan Pusat Kajian Kebudayaan Gayo sebelumnya, ungkap Yusradi,  dibahas dua kali tentang didong, didong urban, didong Gayo Transjakarta dan didong dengan kelop (kelompok didong) Musara Bintang dan ceh legendarisnya Djamaludin Meri atau lebih dikenal dengan Udin Musara. Juga, kekeberen (mendogeng, bercerita). 

“Bincang kali ini, membahas semua sastra lisan Gayo tadi. Setelah ini, baru dibahas tentang kekitiken, melengkan, pantun, peribahasa, saer, sebuku, tep onem, dan ure-ure. Termasuk, hasil-hasil penelitian tentang kesepuluh sastra lisan tadi,” ujar Yusradi.

Pak LK Ara akan ditemani istri, Ibu Hidayah, yang juga seorang seniman. Di Dataran Tinggi Gayo, ibu Hidayah dikenal sebagai seorang penyenandung sebuku (seni meratap), sempat aktif dalam didong banan, mantan kariah, dan saat ini bergabung dalam kelompok Marawis “band tepuk” Al Falah. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved