Tokoh Buddha di Meulaboh: Masyarakat Aceh Barat Sangat Toleran
Martini yang berprofesi guru agama Buddha di Meulaboh itu melanjutkan, pihaknya bebas dalam menjalankan ibadah dan ritual agama di tempat umum.
SERAMBINEWS.COM - Masyarakat Aceh Barat, khususnya yang tinggal di Meuloboh, terbukti sangat moderat dan toleran. Mereka memahami makna keberagaman dan saling menghargai antar agama.
Hal tersebut disampaikan tiga tokoh Martini, tokoh agama Buddha di Meulaboh Aceh Barat, dalam siaran pers yang dikirim Sekretaris FKUB Aceh, Hasan Basri M Nur, kepada Serambinews.com.
Martini yang berprofesi guru agama Buddha di Meulaboh itu melanjutkan, pihaknya bebas dalam menjalankan ibadah dan ritual agama di tempat umum.
Menurutnya, umat Buddha di Meulaboh setiap tahun melaksanakan prosesi ritual Waisak dengan berjalan kaki tanpa memakai alas kaki pada malam hari di jalan umum.
“Saya dari Jawa dan tinggal di Meulaboh sejak tahun 2009. Aman, nyaman tinggal di Meulaboh. Masyarakatnya sangat toleran terhadap penganut agama-agama minoritas,” ujar Martini dalam forum Dialog Kerukunan Umat Beragama yang digelar Badan Kesbangpol Aceh di Meulaboh, Kamis (28/7/2022).
Baca juga: Menteri Agama, Logo Halal dan Tahun Toleransi 2022
Baca juga: Berkunjung ke Kantor YARA, Mahasiswa Papua Akui Aceh Sangat Toleran dan Nyaman
“Umat Buddha dapat beribadah dengan aman dan menjalankan ritual Waisak di jalan umum. Tidak ada gangguan. Dukungan serta perhatian masyarakat dan pemerintah kabupaten kepada kami sangat baik,” sambung Martini.
Umat Buddha, lanjut Martini, tetap menghormati kearifan lokal dan syariat Islam yang berlaku di Aceh.
“Kami tidak memakai jilbab, tapi memakai pakaian yang sopan. Di vihara kami selalu menyeru umat Buddha untuk berpakaian yang sopan ketika berada di tempat umum,” ujar Martini.
Hal senada juga disampaikan oleh tokoh Kristen di Meulaboh, yaitu Tiur Sihotang dan dan Frans Zebua.
Menurut Tiur, penganut agama Kristen dan Katolik juga tersedia tempat untuk beribadah di Meulaboh, bahkan untuk umat Kristen tersedia di dua tempat, masing-masing dari GMII dan Methodist.
Baca juga: Sejarah Piala Dunia - 2014 Tahun Memalukan Bagi Sepak Bola Brasil, Dipukul Oleh Jerman 1-7
FGD menghadirkan dua narasumber yaitu H A Hamid Zein SH MHum (Ketua FKUB Aceh), drh Cut Usman (Ketua FKUB Aceh Barat) dan dipandu oleh Dr H Muslem Daud S.Ag MEd.
Ketua FKUB Aceh Barat drh H Cut Usman mengatakan, di Meulaboh terdapat desa kerukunan yaitu Gampong Aceh, Kecamatan Johan Pahlawan.
“Di sekitar Gampong Aceh ini terdapat vihara yang dikelilingi tiga unit masjid. Penduduk desa ini 55 persen bukan Islam,” kata Cut Usman.
FGD yang dihadiri 25 tokoh agama di Aceh Barat itu ditutup oleh Kabid Ketahanan Ekonomi dan Ormas Kesbangpol Aceh, Mustafa S.Sos M.Si. Mustafa mengaku gembira mendengar kedamaian dan kerukunan umat antar agama di Aceh Barat.
“Kondisi aman dan toleran ini perlu kita jaga dan gaungkan bersama-sama. Tidak ada tempat bagi konflik agama di Aceh,” ujar Mustafa.
Baca juga: Ada Desa Memiliki 3 Gereja di Singkil, Ketua FKUB: Keliru Kalau Menyebut Aceh Tidak Toleran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tokoh-Buddha-di-Meulaboh-Masyarakat-Aceh-Barat-Sangat-Toleran.jpg)