Video
VIDEO VIRAL Akses Jalan Rumah Pemandi Jenazah Ditutup Tembok, Pemilik Lahan Buka Suara
Sejak beberapa tahun lalu antara keluarganya dengan keluarga Asep kerap terlibat masalah, di antaranya masalah perusakan tanaman depan rumah.
SERAMBINEWS.COM, PULOGADUNG - Pihak keluarga pembuat tembok yang menutup akses jalan rumah keluarga Asep di Jalan Gading Raya Delapan, Pisangan Timur, Pulogadung, menjelaskan duduk perkara masalah.
Diketahui, tembok dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan lebar 2 meter dibangun depan rumah Asep dan istrinya yang berprofesi sebagai pemandi jenazah.
Widya mengatakan keluarganya terpaksa membangun tembok yang menutup akses keluar masuk rumah keluarga pemandi jenazah tersebut.
Sejak beberapa tahun lalu antara keluarganya dengan keluarga Asep kerap terlibat masalah, di antaranya masalah perusakan tanaman depan rumah.
• VIDEO VIRAL Beli Minum Lewat Lubang Tembok, Bertahun Langganan Tak Tahu Sosok Penjual
• VIDEO Viral Tak Kunjung Dibayar, Pemilik Lahan Tutup Akses Jalan Dengan Bangun Tembok
• VIDEO VIRAL Sang Adik Sedang Asyik Bikin Konten, Kakak: Seperti Ada yang Maluin Tembok
Setelah terjadi cekcok antara keluarga Widya dengan Asep, pengurus RT/RW setempat berupaya melakukan mediasi dan menanyakan status kepemilikan lahan.
Widya menuturkan pihaknya meminta BPN Jakarta Timur untuk melakukan pengukuran memastikan batas tanah kepemilikan keluarganya dan keluarga Asep.
Setelah pengukuran, BPN Jakarta Timur menyatakan lahan yang kini didirikan tembok milik keluarga Widya dan tercatat dalam Sertifikat Hak Milik (SHM) sejak tahun 1999.
Namun pihak keluarga Asep disebut tidak mau menandatangani BAP yang dibuat BPN Jakarta Timur, sehingga tidak ada titik temu penyelesaian masalah.
Ibunda Widya sempat menegur istri Asep secara baik-baik agar tidak parkir sembarangan, namun keluarga Asep justru tidak terima dan melontarkan ujaran kebencian.
Setelah kejadian pihak keluarga Widya kembali meminta bantuan kepada Kelurahan Pisangan Timur untuk melakukan mediasi, tapi hasilnya kembali tidak menemui titik temu.
"Sampai akhirnya mohon maaf kami mengambil keputusan ini. Menembok itu memang sudah akumulasi (masalah). Jadi maksudnya kami memaafkan. Kalau kami arogan sudah dari 2019," sambung dia. (*)
Sumber: TribunJakarta.com
Video Editor: @thesisuryadi
Narator: @ansyitaa