Sabtu, 6 Juni 2026

Berita Aceh Tengah

Gustira Monita Dapat Beasiswa dari Pemerintah Rusia

Boleh jadi dialah satu-satunya gadis Gayo yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Rusia

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Gustira Monita 

Boleh jadi dialah satu-satunya gadis Gayo yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Rusia.

Namanya Gustira Monita, berasal dari Bener Meriah.

Ia sedang mempersiapkan keberangkatan ke negeri Putin itu dan dijadwalkan terbang ke sana pada September 2022 mendatang.

Gustira diterima di Tomsk State University, Rusia.

Tomsk adalah salah satu negara bagian di Rusia.

Ia melanjutkan studi ke program S2 Manajemen Seni Pertunjukan.

Rusia yang sedang berkonflik dengan Ukraina, tidak membuatnya surut.

"Kita kan juga lama berada dalam konflik," kata Gustira setengah tertawa saat ditemui Serambi di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat (5/8/2022) malam.

Rusia di mata gadis ini memiliki keunggulan terutama bidang manajemen seni pertunjukan.

Baca juga: Mahasiswa asal Papua Lulus di FEB Lewat Jalur Beasiswa Afirmasi di USK

Baca juga: Perusahaan Laut Merah Luncurkan Program Beasiswa Lulusan SMA ke Manajemen Perhotelan Internasional

"Bidang ini, Rusia itu terbaik di dunia," timpal Gustira.

Ia mengajukan beasiswa ke Rusia tidak lama berselang setelah menyelesaikan S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Di ISI, Gustira juga mengambil program studi Manajemen Seni Pertunjukan.

"Alhamdulilah, permohonan saya diterima.

Pemerintah Rusia membiayai seluruh kebutuhan kuliah termasuk yang saku, uang tinggal, dan program belajar bahasa Rusia.

Hanya yang tidak disediakan adalah biaya transportasi ke Rusia dari negara asal," ungkapnya.

Sebagai mahasiswa yang baru selesai, Gustira tentu tak punya penghasilan.

Gustira lalu mengajukan permohonan bantuan ke Pemerintah Aceh, Pemkab Bener Meriah dan sumber-sumber pembiayaan lainnya.

"Tapi ditolak dengan alasan tidak ada anggaran dan sebagainya," cerita anak bungsu dari enam bersaudara kelahiran Pondok Baru (Bener Meriah), 14 Agustus 1998 ini.

Sebagai seorang kreatif, Gustira tidak menyerah.

Ia lalu pulang ke Bener Meriah dan mengajar ekstrakurikuler pada sebuah Sekolah Dasar (SD) di Kampung Puja Mulia.

Honorarium yang diterima tiap bulan ia simpan selama setahun terakhir.

Tapi, tentu saja belum cukup.

Gustira butuh Rp 20 juta untuk ongkos berangkat ke Rusia.

"Saya harus berangkat apapun caranya.

Saya tidak boleh menoleh ke belakang.

Menjadi batu," katanya mengutip falsafah legenda Inen Mayak Pukes yang terkenal itu.

Termasuk saat ia meninggalkan rumah di Bener Meriah.

Meninggalkan abangnya dan sanak keluarga.

Ia tak mau menoleh lagi, "enti ne mubalik, mujadi atu," pesan untuk Pukes, pengantin yang berubah jadi batu lantaran melanggar "manat" atau pesan tadi.

Gustira Monita yang akrab disapa Gustira atau Gusti, berasal dari keluarga seniman.

Ayahnya (almarhum) semasa hidupanya bekerja sebagai petani kopi, tapi penikmat seni.

Ibunya, Mokmeli, juga sudah berpulang ke Rahmatullah adalah seorang guru dan pelaku seni Gayo di Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Kakeknya (ayah dari ibu) bernama Abdullah Syeh Kilang, seniman ternama di Gayo, di bidang musik dan tari.

Gustira mulai menari sejak usia delapan tahun.

Memasuki usia 13 tahun, ia sudah menciptakan tari kreasi baru.

Gustira mengembangkan sendiri bakat seninya, termasuk saat menciptakan tari kreasi baru dalam usia 13 tahun.

Itu inisiatif dirinya saat ikut lomba tari kreasi baru di Aceh Tengah.

Itu adalah karya ciptanya yang pertama.

Ia lupa memberi judul karyanya itu.

Ia hanya mengikutsertakan dalam lomba tari kreasi baru di Aceh Tengah.

“Itu karya improviasi.

Makanya tak diberi judul,” kisahnya.

Dari tangan Gustira, sudah lahir banyak karya tari, antara lain Munapi, Bunge, Canang Berok, I Pemah Lut Iyo, Redek, Nipak, dan Aman Dimot.

Tahun 2019 tercipta tari “Party Jompo, Ketibung.

” Khusus “Ketibung” diikutkan dalam World Dance Day, International Dance Day.

“Ketibung” adalah tari kreasi baru , terinspirasi dari kebiasaan permepuan Gayo yang memainkan bunyi air saat berada di sungai atau danau.

“Ketibunga simbol dari keceriaan dan kegembiraan,” ujarnya.

Ia mengambil gerak dasar Guel untuk mengeskpresikan “ Ketibung” tadi.

Gustira mendengar kebiasan “berketibung” ini dari ibundanya.

Oleh Gustira kemudian dijadikan karya tari.

Kemampuan Gustira tidak hanya dalam bidang tari, tapi juga dalam musik.

Ia menguasai banyak instrumen seperti perkusi, gitar, biola, alat musik tradisional Gayo, teganing, canang, gong.

Bahkan sudah bisa gamelan Jawa dan gondang Batak.

Selama menuntut ilmu di Yogya, Gustira aktif di Seuraya (Seuniman Rapa'i Aceh Yogyakarta), Sanggar Cut Nyak Dhien Yogyakarta, Sanggar Lungun Gayo Yogyakarta, Burni Telong Etnik Gayo , Sanggar Mayang Serungke Bener Meriah, Sarkem Percussion Yogyakarta, Gerakan Surah Buku Yogyakarta, dan Pendiri Gayo Arts Studio.

Gustira meraih sejumlah prestasi, antara lain Juara 1 Festival Musik Etnik Kolaborasi Modern- Sabang Fair 2016; Cipta dan Baca Puisi Malam Puncak Kemerdekaan RI-GOS Takengon, 2014-2015; dan Pimpinan Produksi Pergelaran Karya Tugas Akhir ISI Yogyakarta 2019.

Gustira menjadi lebih istimewa karena ia juga seorang pemain catur andal.

Selama tiga tahun berturut (2013-2016), Gustira menjadi Juara 1 Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional Cabang Catur Tunggal Putri. (fik)

Baca juga: Penerima Beasiswa tak Sesuai Syarat Mangkir Dipanggil Penyidik, Polda Aceh Akan Rilis Nama-namanya

Baca juga: Lepas Calon Penerima Beasiswa Aceh Carong, Mursil Ingatkan Serius Manfatkan Peluang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved