Berita Internasional
Turki dan Rusia Perdalam Kerja Sama, Negara Barat Semakin Khawatir, Hubungan Ankara-Moskow Dipantau
Kunjungan Erdogan tersebut menimbulkan kekhawatiran negara barat, di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung hingga kini.
Kunjungan Erdogan tersebut menimbulkan kekhawatiran negara barat, di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung hingga kini.
SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini baru melakukan kunjungan laswatan ke Sochi, Rusia.
Kunjungan Erdogan tersebut menimbulkan kekhawatiran negara barat, di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung hingga kini.
Kekhawatiran itu karena Turki merupakan sekutu NATO dan calon anggota Uni Eropa, memperdalam kerja samanya dengan Rusia.
Demikian dilaporkan Financial Times.
Melansir Russian Today, Sabtu (6/8/2022), enam pejabat Barat yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada surat kabar itu bahwa mereka "prihatin" tentang rencana Rusia dan Turki untuk bekerja sama dalam perdagangan dan energi.
Baca juga: Amerika Serikat dan India Gelar Latihan Militer di Himalaya, Seperti Sengaja Memanas-manasi Beijing
Baca juga: Jelang Pemilu 2024, KIP Aceh Jaya Bentuk Tim Verifikasi Partai Politik
Seorang pejabat Uni Eropa mengatakan bahwa Brussels sedang memantau hubungan antara Ankara dan Moskow “semakin dekat,” mengingat bagaimana Turki tampaknya “semakin” menjadi platform untuk perdagangan dengan Rusia.
Setelah pertemuan empat jam dengan Putin pada hari Jumat, Erdogan menyambut baik peran Rusia dalam membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Turki.
Kedua negara memiliki tujuan untuk memperoleh omset perdagangan bilateral sebesar 100 miliar dollar, dan bekerja sama melawan terorisme dan menuju perdamaian di Libya dan Suriah.
Putin berjanji bahwa Rusia akan memasok Turki dengan minyak, gas, dan batu bara “tanpa gangguan apa pun,” setelah kedua pemimpin sepakat bahwa Ankara akan membayar sebagian dari gas ini dalam rubel.
Pejabat lain mengatakan kepada surat kabar itu bahwa perilaku Erdogan "sangat oportunistik".
Ia menambahkan bahwa "kami berusaha membuat orang Turki memperhatikan kekhawatiran kami."
Baca juga: 35 Pejabat Nagan Raya Lakukan Penyajian Makalah di Lelang 6 Jabatan Kadis
Baca juga: Terbongkar, Angga Wijaya Naikkan Tarif Dewi Perssik untuk Keperluan Pribadi, Ini Alasannya
Meskipun menjadi anggota NATO sejak 1952 dan pemohon Uni Eropa sejak 1987, Turki telah memutuskan hubungan dengan kedua blok pada beberapa kesempatan, yang terakhir karena konflik di Ukraina.
Erdogan telah menggambarkan diplomasinya dengan Kyiv dan Moskow sebagai "seimbang," dan telah menolak untuk memberikan sanksi kepada Rusia atas operasi militernya.
Turki adalah satu-satunya negara NATO yang tidak menjatuhkan hukuman seperti itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/2705presiden-turki.jpg)