Breaking News:

Internasional

Sekolah Bawah Tanah Hadirkan Alternatif Lain Untuk Pendidikan Anak Perempuan Afghanistan

Sekolah bawah tanah terus bermunculan di Afghanistan seusai Taliban melarang anak perempuan pergi ke sekolah.

Editor: M Nur Pakar
AP/Ebrahim Noroozi
Sara, gadis Afghanistan berusia 14 tahun duduk di atas kuburan untuk membaca buku sambil menunggu pelanggan membeli air di pemakaman Kabul, Afghanistan pada 30 Juli 2022. 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Sekolah bawah tanah terus bermunculan di Afghanistan seusai Taliban melarang anak perempuan pergi ke sekolah.

Sebulan setelah pengambilalihan Taliban, Sodaba Nazhand, salah satu pendiri sekolah bawah tanah mulai mengajar anak-anak jalanan membaca dengan kelas informal.

Kelas dilaksanakan di luar ruangan sebuah taman di lingkungannya.

Wanita yang tidak bisa membaca atau menulis bergabung dengan mereka, katanya.

Beberapa waktu kemudian, seorang dermawan yang melihatnya di taman menyewakan sebuah rumah untuknya untuk mengadakan kelas, dan membeli meja dan kursi.

Begitu dia beroperasi di dalam, Nazhand termasuk gadis-gadis remaja yang tidak lagi diizinkan pergi ke sekolah umum.

Baca juga: Taliban Perintahkan Wanita Tutup Kepala Sampai Kaki, Jika Melanggar, Penjara Jadi Tempat Hukuman

Sekarang ada sekitar 250 siswa, termasuk 50 atau 60 siswi di atas kelas enam.

“Saya tidak hanya mengajari mereka pelajaran sekolah, tetapi juga mencoba mengajari mereka bagaimana berjuang dan membela hak-hak mereka,” kata Nazhand kepada AP, Jumat (12/8/2022).

Taliban tidak berubah sejak pertama kali mereka berkuasa pada akhir 1990-an, katanya.

“Ini adalah Taliban yang sama, tetapi kita seharusnya tidak menjadi wanita yang sama pada tahun-tahun itu," tambahnya.

"Kita harus berjuang: dengan menulis, dengan meninggikan suara kita, dengan cara apa pun yang memungkinkan," ujarnya.

Sekolah Nazhand, dan lainnya seperti itu, secara teknis ilegal di bawah pembatasan Taliban saat ini, tetapi sejauh ini mereka belum menutupnya.

Baca juga: Diangga Dapat Membuat Pemuda Afghanistan Sesat, Taliban Haramkan TikTok dan PUBG

Namun, setidaknya satu orang lain yang mengoperasikan sekolah menolak untuk berbicara kepada wartawan, karena khawatir akan akibatnya.

Terlepas dari komitmennya yang tak tergoyahkan, Nazhand mengkhawatirkan masa depan sekolahnya.

Penolongnya membayar sewa enam bulan di rumah, tetapi dia meninggal baru-baru ini, dan dia tidak punya cara untuk tetap membayar sewa atau persediaan.

Bagi siswa, sekolah bawah tanah adalah jalur kehidupan.

“Sulit sekali kalau tidak bisa sekolah,” kata salah satu dari mereka, Dunya Arbabzada.

"Setiap kali saya melewati sekolah saya dan melihat pintu tertutup, itu sangat menjengkelkan saya," tambahnya.(*)

Baca juga: Pakistan Minta Taliban Tumpas Militan Bawah Tanah di Afghanistan, Serangan Roket Tewaskan Enam Orang

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved