Beli Obat Antibiotik Harus dengan Resep Dokter untuk Cegah Resistensi Antimikroba
Penggunaan antibiotik yang tidak bijak, berlebihan, dan tidak tepat menjadi salah satu faktor munculnya resistensi mikroba.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Resistensi antimikroba kini menjadi isu kesehatan global. Di Indonesia sendiri, melalui Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) terus mengantisipasi masalah kesehatan resistensi mikroba ini.
Wakil ketua PP Ikatan Apoteker Indonesia, Prof Dr apt Keri Lestari MSi mengatakan, perlu perhatian serius terhadap pratik penjualan antibiotik di masyarakat.
Ia menegaskan, antibiotik merupakan obat keras yang penggunaannya harus dengan resep dokter serta pemberian obatnya sebaiknya dengan pendampingan dari apoteker di apotek.
"Sudah diatur. Jadi antibiotik itu termasuk dalam kategori obat keras sehingga penggunaannya harus dengan resep dokter. Artinya harus dipantau atau didampingi oleh dokter," kata dia saat dihubungi Tribun, Jumat (26/8/2022).
Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjajaran ini menjelaskan penggunaan antibiotik yang tidak bijak, berlebihan, dan tidak tepat menjadi salah satu faktor munculnya resistensi mikroba.
Masyarakat perlu memahami bahwa penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan."Ada risiko efek sampingnya jika penggunaannya tidak sesuai aturan," kata Prof Keri.
Adapun bentuk pengawasan Ikatan Apoteker Indonesia dalam penggunaan antibiotik ini adalah memastikan apoteker berada di apotek selama apotek beroperasi melayani resep.
"Di asosiasi ada yang disebut tatap, tiada apoteker tiada pelayanan. Jadi untuk pemberian antibiotik harus diresepkan oleh dokter dan diberikan apoteker. Tidak bisa diminta tanpa resep, apotek tidak akan melayani," ujar Prof Keri.
Prof Keri pun memberikan pesan kepada masyarakat agar melakukan pembelian antibiotik dilakukan di apotek, karena sumber distribusi obatnya sesuai aturan dan tata cara penyimpanannya sesuai karakter obat sehingga pasien mendapatkan obat dalam kondisi baik dan terjaga kualitasnya.
Baca juga: Pemecatan Sambo Dilakukan Langsung Presiden, Sidang Banding akan Dipimpin Wakapolri
Baca juga: Pemkab Nagan Raya Data Seluruh Honorer, Untuk Persiapan Seleksi PPPK? Ini Kata Asisten III Setdakab
Baca juga: Distanbun Aceh Tingkatkan Produktivitas Tanaman Kakao dengan Sistem Peremajaan & Insektisida Nabati
Prof Keri juga mengingatkan, pentingnya masyarakat mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat dan bijak. Saat ini, sedang dilakukan riset untuk mengetahui suatu penyakit memerlukan perlu antibiotik atau tidak.
"Nanti kita screening dulu, penyakit apa, perlu antibiotik atau tidak. Kan pemberian antibiotik ini enggak sembarangan. Sehingga antibiotiknya benar-benar digunakan untuk mengatasi penyakit," terang dia.
Selain itu, masyarakat diharapkan melakukan pembelian antibiotik di apotek yang teregistrasi, agar terjamin penyimpanan dan kualitasnya.
Ia mengatakan, penggunaan antibiotik yang tidak bijak, berlebihan, dan tidak tepat menjadi salah satu faktor munculnya resistensi mikroba. Jika antibiotik diberikan pastikan minumnya secara displin serta dihabiskan.
Risikonya antibiotik tidak habis, tidak sesuai dosis aturan maka terjadi mutasi mikroba, sasaran antibiotik tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mikroba_20170823_203919.jpg)