Kakek Sabaruddin Dianiaya Hingga Tersungkur di Kantor Desa, Korban Trauma Takut Pulang ke Rumah

Kini korban yang berprofesi sebagai guru ngaji bernama Sabaruddin mengalami trauma setelah dianiaya sejumlah pria.

Editor: Faisal Zamzami
TRIBUN MEDAN / Muhammad Anil Rasyid
Sabaruddin warga Dusun VI Kurnia, Desa Pantai Gemi, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi korban penganiayaan, Sabtu (27/8/2022). 

SERAMBINEWS.COM, LANGKAT - Seorang kakek mengaku jadi korban penganiayaan sejumlah pria.

Korban dianiaya saat ingin menanyakan ganti rugi lahan miliknya yang rusak akibat terdampak proyek jalan tol.

Saat menunggu di kantor desa, korban didatangi sejumlah pria dan dianiaya hingga tersungkur. 

Korban sudah melaporkan kasus penganiayaan yang dialaminya ke polisi.

Kini korban yang berprofesi sebagai guru ngaji bernama Sabaruddin mengalami trauma setelah dianiaya sejumlah pria.

Menurut guru ngaji ini, dia dianiaya ketika mendatangi kantor Desa Pantai Gemi, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat.

Sebelum menjadi korban penganiayaan, Sabaruddin yang kini berusia 60 tahun ingin menanyakan ganti rugi lahan miliknya, yang rusak akibat terdampak proyek jalan tol.

Dari cerita Sabaruddin, mulanya ia menanyakan ganti rugi lahan kepada Amat dan Usman.

Amat dan Usman disebut sudah menerima kompensasi dari pembangunan proyek jalan tol.

Baca juga: Pingsan Dianiaya Oknum Polisi, Petugas Kebersihan di Palembang Lapor ke Propam, Kapolsek Membantah

"Saat saya tanya, mereka malah bilang jangan banyak cerita," kata Sabaruddin, Sabtu (27/8/2022).

Padahal, uang kompensasi milik warga turut diduga sudah 'diembat' Amat dan Usman.

Sayangnya, Amat dan Usman malah berdalih yang macam-macam.

Karena Sabaruddin dan warga lain belum menerima kompensasi, ia pun mendatangi kantor Desa Pantai Gemi pada 10 Agustus 2022 lalu.

"Maksud kedatangan saya bersama warga lain untuk menanyakan ganti rugi terhadap lahan kami yang rusak" kata Basaruddin. 

"Saat menunggu di sana (kantor desa), datanglah Amat, Usman dan Abdul Hamid alias Hamid. Tanpa basa-basi, Hamid langsung mengejar dan memukul wajah serta menunjang dada saya". 

"Saya tersungkur ke tanah," ujar Basaruddin. 

Baca juga: Santri Tewas Dianiaya Teman di Tangerang, Sempat Duel Satu Lawan Satu, Diduga Ini Pemicunya

Tidak hanya dirinya saja yang dianiaya, warga lain juga ada yang dipukuli Amat, Usman dan Hamid. 

Atas kejadian tersebut, Basaruddin membuat laporan ke Polsek Stabat.

Pengaduannya diterima dengan tanda bukti laporan Nomor: LP/B/44/VIII/2022/SPKT/Polsek Stabat/Polres Langkat/Polda Sumut, tanggal 10 Agustus 2022, tentang tindak pidana penganiayaan.

"Saya hanya meminta agar pelaku segera ditangkap. Karena berada di negara hukum, ya dihukumlah pelakunya. Tanpa sebab aku dipukulinya. Keadilan harus ditegakkan," ujar Basaruddin. 

 

Pascakejadian, para pelaku masih berkeliaran di desanya.

Karena takut diserang lagi, Basaruddin memilih menetap di tempat lain sementara waktu. 

Kapolsek Stabat, AKP Ferry Araindy mengatakan, laporan Basaruddin sudah diterima dan sudah proses penyidikan. 

"LP (laporan) sudah diterima dan sudah diproses penyidikan. Perkembangan laporan sudah kami sampaikan ke pelapor," tutup Ferry. 

Baca juga: Dikecam Goyang di Atas Meja hingga Disawer, Bella Angelica Minta Maaf: Bukan Kemauan Saya

Baca juga: Shalat Fardhu Mana Saja yang Ada Qabliah dan Badiyah? Simak Waktu Pelaksanaan Shalat Sunnah Rawatib

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini, Minggu (28/8/2022), Berikut Rincian Harga Emas Per Gram

TribunMedan: Kasihannya Kakek Guru Ngaji Ini, Dianiaya Hingga Tersungkur di Kantor Desa saat Minta Keadilan

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved