BBM Bersubsidi

Dikabarkan Solar Akan Naik, Pengamat Duga Ada Mafia di Balik Rencana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

"Jangan-jangan industri Besar selama ini peminum BBM bersubsdi melalui oligarki ikut bermain dalam pengambilan keputusan

Editor: Nur Nihayati
Serambi Indonesia
Kendaraan roda empat yang mengisi BBM bersubsidi jenis premium di SPBU Keude Paya, Blangpidie, Kabupaten Abdya, ditempel stiker sebagai kendaraan pengguna premium, Rabu (19/8/2020). 

"Jangan-jangan industri Besar selama ini peminum BBM bersubsdi melalui oligarki ikut bermain dalam pengambilan keputusan

SERAMBINEWS.COM -- Dikabarkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar akan dinaikkan.

Hal ini tentu akan menimbulkan gejolak. Apalagi, solar juga menjadi bahan bakar bagi para nelayan untuk melaku.

Di sisi lain pengamat ekonomi memiliki penilaian terkait hal itu.

Keputusan pemerintah untuk tidak memilih opsi pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi, tapi lebih memilih menaikkan harga dipertanyakan.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menduga ada mafia oligarki di balik rencana kenaikan harga BBM bersubsidi, terutama Solar.

"Jangan-jangan industri Besar selama ini peminum BBM bersubsdi melalui oligarki ikut bermain dalam pengambilan keputusan, agar tetap bisa minum Solar dengan harga Rp 5.150, bukan Rp 21.000 per liter," ujar Fahmy dalam keterangannya, Senin (29/8/2022).

Menurutnya, jika pemerintah menaikkan harga Solar subsidi menjadi Rp 8.500 pun, masih lebih menguntungkan bagi industri sekira Rp 13.000.

"Kalau benar oligarki di balik keputusan menaikkan harga BBM Subsidi, hanya satu kata, lawan," katanya.

Diketahui, klaim Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tentang kenaikan BBM subsidi ternyata hingga akhir pekan kemarin tidak terbukti.

"Hanya, pernyataan itu menimbulkan gonjang-ganjing yang menyulut kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM subsidi dinaikkan.

Kehebohan juga menyulut panic buying yang menyebabkan kelangkaan Pertalite dan Solar di beberapa SPBU," tutur Fahmy.

Adapun pemerintah sesungguhnya sudah mengajukan tiga opsi, yakni penambahan subsidi, menaikkan harga BBM subsidi, dan pembatasan BBM subsidi.

Opsi penambahan subsidi dinilainya sudah mustahil dilakukan, lantaran pemerintah sudah mengunci dana subsidi di Rp 502,4 triliun.

Sementara, opsi menaikkan harga BBM subsidi, pertaruhannya terhadap momentum ekonomi dan menambah beban rakyat miskin terlalu besar.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved