Pertumbuhan Kredit
Bank Indonesia Sebut Pertumbuhan Kredit di Aceh Masih Rendah
Namun begitu, kata Achris Sarwani, kenaikan pembiayaan ini, paling besar didukung oleh penggunaan investasi yang tumbuh sebesar 3,02 persen dari Rp 2,
Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Herianto I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Achrias Sarwani mengatakan pertumbuhan program pembiayaan atau penyaluran kredit perbankan di Aceh masih tergolong rendah, atau baru tumbuh 0,033 persen/bulan.
Sampai posisi Juli 2022, dana yang tersalur baru sekitar Rp 32,76, atau hanya bertambah Rp 110 miliar, dari bulan Juni 2022 Rp 32,65 trilliun.
“Sementara pertumbuhan tabungan dana pihak ketiganya per bulan capai Rp 216,6 miliar/bulan atau tumbuh 6,47 persen/tahun, dari Rp 38,23 trilliun (periode Juli 2021 lalu) naik menjadi Rp 40,87 trilliun (periode Juli 2022), bertambah Rp 2,64 trilliun/tahun,” kata Achris Sarwani dalam press rilis kepada Serambinews.com, Senin (29/8/2022) di Banda Aceh.
Namun begitu, kata Achris Sarwani, kenaikan pembiayaan ini, paling besar didukung oleh penggunaan investasi yang tumbuh sebesar 3,02 persen dari Rp 2,94 trilliun pada Juni 2022 lalu, menjadi Rp 3,03 trilliun, pada Juli 2022 lalu.
• Bank Indonesia Keluarkan 7 Uang Rupiah Kertas Baru Tahun Emisi 2022, Ini Penampakan & Penjelasannya
Dengan angka tersebut, kata Achris Sarwani, financing to deposit ratio (FDR) di Aceh tercatat pada level 80,17 persen.
Hal tersebut menandakan,bahwa dari seluruh DPK atau simpanan yang dihimpun sebesar 80,17 persen itu, telah disalurkan bank umum sebagai pembiayaan kepada masyarakat.
Angka tersebut, kata Achris Sarwani, naik dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 79,42 persen. Dengan tingkat FDR tersebut, perbankan di Aceh memiliki likuiditas yang terjaga.
Secara umum, kata Achris Sarwani, kualitas pembiayaan yang tercermin dari indikator NPF masih berada pada level yang terjaga pada bulan Juli lalu. berdasarkan lokasi bank .
NPF pada Juli 2022 tercetat pada level 1,86 persen, atau lebih baik dibandingkan bulan Juni lalu yang tercatat 1,92 persen. Sedangkan berdasarkan lokasi proyek, NPF pada Juli 2022 berada pada level 4,26 persen.
Sementara itu, pertumbuhan pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), menunjukkan peningktan pada Juli 2022 lalu. Juni lalu angkanya baru sekitar Rp 9,00 trilliun, pada Juli lalu sudah naik menjadi Rp 9,03 trilliun.
Rasio pembiayaan UMKM terhadap total pembiayaan tersebut berada pada level 27,56 persen, atau relatif stabil dari periode sebelumnya 27,58 persen.
Kemudian untuk total pencairan dana KUR sampai Juli lalu nilainya sudah mencapai 3,03 trilliun, tumbuh positif sebesar 1,70 persen dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun juga tumbuh positif sebesar 12,16 persen. Rasio pembiayaan KUR juga naik pada bulan Juni lalu masih berkisar 9,12 persen, Juli lalu naik menjadi 9,26 persen.
Pakar Ekonomi Universitas Syiah Kaula, Dr Rustam Effendi yang dimintai tanggapannya mengatakan, stabilitas sistem keuangan di Aceh yang tetap terjaga merupakan hal yang sangat positif.
Ini sangta penting, untuk menguatkan daya dorong terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya pasca hantaman pandemi covid 19, menuju pemulihan ekonomi secara nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bi_aceh_2020.jpg)