Jurnalisme Warga
Guru Inspiratif Penyandang Difabel dari Kota Naga
Kepala sekolah menceritakan, banyak prestasi yang pernah diraih SMK Negeri 1 Tapaktuan, baik di tingkat provinsi maupun nasional
OLEH BAIHAKI, Kontributor Majalah Tekkomdik Dinas Pendidikan Aceh, melaporkan dari Aceh Selatan
TAPAKTUAN, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan, dikenal dengan julukan "Kota Naga", diambil dari kisah legenda Tuan Tapa yang berkelahi dengan seekor naga yang merebut putrinya, Putroe Bungsu.
Tanggal 29 Agustus 2022 saya berkunjung ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Tapaktuan.
Sekolah ini perkarangannya bersih, rapi, estetetis, dan hijau lagi sejuk, apalagi tak jauh dari kaki gunung.
Program Bereh yang selama ini digaungkan Sekretaris Daerah Aceh, dr Taqwallah MKes, sudah terlihat wujudnya di sekolah ini.
Setiba di sekolah ini sambutan hangat diberikan oleh Kepala SMK Negeri 1 Tapaktuan, Kurnaidi MPd yang tak lain adalah kepala sekolah yang pernah menjadi juara I simposium tingkat nasional.
Suguhan secangkir kopi khas dari pegunungan Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah yang cita rasanya tak jauh beda dengan kopi Gayo serta sebotol bir pala yang hanya ada di Kota Tapaktuan menemani diskusi tentang prestasi yang pernah diraih sekolah ini.
Kepala sekolah menceritakan, banyak prestasi yang pernah diraih SMK Negeri 1 Tapaktuan, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Baca juga: Gadis Difabel Dirudapaksa 4 Pemuda di Hutan, Korban Diancam dengan Sebilah Parang
Baca juga: Kisah Annisa, Difabel Tangguh Penerima Manfaat Kartu Prakerja, Punya Usaha Jualan Online & Jadi ASN
Baru-baru ini lomba kompetensi siswa (LKS) jenjang SMK menempatkan satu orang siswanya mewakili Provinsi Aceh ke tingkat nasional pada cabang lomba desain grafis, salah satu bidang favorit yang dilombakan.
Kemudian, seminggu lalu tim dari sekolah ini juga mewakili Aceh ke ajang nasional kuis Kita Harus Belajar (Kihajar) Tahun 2022 yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia.
Tak hanya itu, empat hari lalu salah seorang siswa sekolah ini lulus dalam seleksi penerima beasiswa program Aceh Carong dari Pemerintah Aceh melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh.
Dia satu-satunya siswa SMK Negeri 1 Tapaktuan dari Kabupaten Aceh Selatan yang lulus seleksi beasiswa penuh Aceh Carong untuk melanjutkan studi di Politeknik Manufaktur Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Prestasi lainnya banyak diraih sekolah ini, termasuk guru dan tenaga kependidikan berprestasi mewakili jenjang SMK setiap tahunnya mewakili Aceh Selatan ke tingkat provinsi.
Namun, ada satu fakta menarik yang saya dapati dari diskusi bersama kepala sekolah tentang literasi seorang guru penyandang difabel atau disabilitas.
Pinta Turang Dabutar SPd (41) memiliki cerita inspiratif yang selama ini tidak ingin dipublikasikan.
Baca juga: Pasutri Aniaya Anak Asuh Difabel, Korban Disiram Air Panas dan Diborgol
Namun, karya-karya perempuan guru yang sudah dituliskannya dalam bentuk buku harus saya bantu publikasikan di media dengan tujuan agar publik tahu ada "Mutiara yang Terpendam dari Kota Naga.
"Pinta, begitu panggilan akrabnya, setelah satu judul buku The Power of Doa habis saya baca semalaman, banyak sekali cerita inspiratif yang dituangkannya di dalam buku itu.
Guru kelahiran Dairi, Sumatera Utara, 10 Juni 1981 ini mulai bertugas di SMK Negeri 1 Tapaktuan sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2014 dan tahun 2015 barulah ia menjadi PNS.
Pinta merupakan lulusan Universitas Negeri Medan (Unimed) Sumatera Utara, mengambil jurusan Pendidikan Akuntansi.
Dalam buku yang dituliskannya, setelah melahirkan anak kedua, Pinta mengalami kecelakaan sehingga genetik di kaki kanannya mengalami gangguan sehingga tak mampu berdiri lama.
Lebih memilukan lagi, ternyata suaminya meninggalkan dan menceraikannya.
Pinta harus menghidupi dua orang anaknya yang masih kecil.
Pinta mulai melamar pekerjaan dari guru Taman Kanak- Kanak Islam Terpadu (TKIT) Bunayya di Sidikalang walaupun tidak sesuai dengan ijazahnya.
Selanjutnya, Pinta pindah ke Pulau Weh, Kota Sabang.
Dis sana ia mengajar di TKIT dan LTTQ.
Kini, Pinta menjadi guru tetap di SMK Negeri 1 Tapaktuan dengan status guru PNS.
Banyak buku yang sudah dia tulis, dicetak, dan memiliki International Serial Book Number (ISBN).
Buku-buku yang ditulisnya berjudul The Power of Doa, Layar Impian, Tasbih Senandung Rindu, Muara Kehidupan, Mahkota untuk Ayah dan Bunda, Kumparan Mite, dan Kemuliaan Kurban.
Sepengetahuan Kepala Bidang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dinas Pendidikan Aceh, Dr Asbaruddin MEng yang saya konfirmasi melalui pesan WhatsApp, ada seorang guru di SMK Tapaktuan penyandang difabel, tapi telah menulis tujuh buku.
Asbaruddin memberikan apresiasinya kepada Pinta atas buku-buku yang ditulisnya itu.
Ini adalah fakta bahwa guru SMK penyandang difabel, tapi mampu untuk melahirkan karya nyata.
Dalam kesehariannya untuk beraktivitas pergi dan pulang sekolah, Pinta mengendarai sepeda motor yang sudah dimodifikasi jadi beroda tiga.
Bahkan saat mengajar sambil duduk di depan kelas pun para siswa sangat memahami kondisi yang dialaminya.
Walaupun dengan kondisi fisik yang ada kekurangan, tetapi pihak sekolah mempercayakan kepadanya menjabat kepala program keahlian akuntansi.
Bahkan, ibu dari dua orang anak ini sedang dipersiapkan sebagai guru berprestasi jenjang SMK tahun 2023 mendatang.
Pinta saat ini mendirikan klub literasi sekolah (KLS) dengan tujuan siswa SMK Negeri 1 Tapaktuan semakin gemar membaca dan menulis.
Usaha yang dilakukannya ini mendapat dukungan penuh dari kepala sekolah, apalagi dengan niat untuk meningkatkan literasi para siswa.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Aceh Selatan, Annadwi SPd MM sangat bangga dengan hasil goresan tangan Pinta yang dituangkannya dalam bentuk buku.
Annadwi mengupayakan agar buku-buku Pinta yang sudah dicetak terbatas itu diperbanyak sebagai bahan bacaan di perpustakaan SMA, SMK, dan SLB khususnya di Aceh Selatan dan umumnya di sekolah-sekolah yang ada di Aceh.
Untuk memperbanyak buku-buku yang dituliskan Pinta bisa dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan Aceh dan pihak percetakan.
Annadwi berharap, baik di tingkat provinsi maupun nasional, jika ada pemberian penghargaan kepada guru yang menulis buku, Pinta sudah layak menerimanya, apalagi ia penyandang difabel.
Saya melihat banyak guru, khususnya di Kabupaten Aceh Selatan yang mampu menulis buku, tapi selama ini karya-karya mereka tidak terpublikasikan.
Sebenarnya urusan untuk mendapatkan nomor ISBN dan mencetak buku tidaklah terlalu rumit asalkan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama di daerah setempat.
Bisa juga melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh atau melalui organisasi profesi seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Aceh.
Banyak pihak yang bisa memfasilitasinya.
Media merupakan peran yang sangat penting untuk memublikasikan karya-karya guru, terutama yang berada di daerah.
Banyak guru yang berada di pelosok sana mampu menciptakan media pembelajaran, tapi luput dari perhatian dan pemberitaan.
Semoga dengan adanya tulisan di Harian Serambi Indonesia ini, minimal mutiara yang selama ini tenggelam bisa kembali bersinar di permukaan.
Baca juga: ACT Aceh Borong Dagangan Milik Difabel
Baca juga: Dinsos Banda Aceh Adakan Asesmen Untuk 23 Difabel, akan Diberikan Bantuan Terapi hingga Pendidikan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/BAIHAKI-Kontributor-Majalah-Tekkomdik-Dinas-Pendidikan-Aceh-melaporkan-dari-Aceh-Selatan.jpg)