Breaking News:

Harga BBM

Penyesuaian Harga BBM untuk Stabilitas Ekonomi Nasional

Politikus Partai PDI-P Aceh, Muhammad Ridwan, ikut menanggapi gejolak yang terjadi terkait penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

Editor: IKL
IST
Politikus Partai PDI-P Aceh, Muhammad Ridwan 

SERAMBINEWS.COM - Politikus Partai PDI-P Aceh, Muhammad Ridwan, ikut menanggapi gejolak yang terjadi terkait penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang saat ini hangat diperbincangkan.

Menurut Ridwan, dirinya mendukung upaya pemerintah menyesuaikan harga BBM dalam rangka menarik subsidi BBM yang selama ini kurang tepat sasaran. “Kami sangat mendukung langkah pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM. Kebijakan ini nantinya diharapkan berdampak baik bagi stabilitas perekonomian negara," ungkap Ridwan yang juga anggota DPRA, ini.

Menurut Ridwan, kenaikan harga BBM bersubsidi memang tak dapat dihindari. Sebab, lanjutnya, beban subsidi energi sudah terlampau besar untuk ditanggung APBN 2022.

“Harapannya agar nanti subsidi bisa dialihkan ke rakyat kurang mampu dan sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) agar penggunaan subsidi lebih tepat sasaran," terangnya.

Hingga Juli 2022, pertalite sudah terjual 16,8 juta kiloliter (Kl) dari kuota 23 juta Kl atau sekitar 73 persen. Sementara solar bersubsidi terjual 9,9 juta dari kuota 14,9 juta Kl (66,4 persen ). Ditaksir, kuota pertalite dan solar hanya cukup hingga akhir Oktober mendatang.

Baca juga: Penyesuaian Harga BBM Penting untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

Saat ini, pertalite dibanderol dengan harga Rp 7.650 per liter, dari harga keekonomian berdasarkan hitungan Pertamina sebesar Rp 17.000-Rp 18.000 per liter. Adapun solar bersubsidi dijual Rp 5.150 per liter dari harga keekonomian Rp 18.000 per liter. Total anggaran subsidi dan kompensasi energi (BBM, listrik, dan gas) yang disiapkan pemerintah sepanjang 2022 mencapai Rp 502 triliun.

Pemerintah sebetulnya tidak berencana menggelontorkan anggaran subsidi energi sebesar itu pada tahun ini. APBN 2022 mulanya hanya mengalokasikan anggaran subsidi dan kompensasi energi senilai Rp 152,5 triliun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) 63 dolar AS per barel. Asumsi ICP belakangan direvisi mengikuti lonjakan harga minyak mentah dunia.

Pemerintah mengusulkan APBN Perubahan 2022 dengan asumsi ICP sebesar 100 dolar AS per barel. Usulan ini disetujui Badan Anggaran DPR pada 19 Mei lalu. Dengan berubahnya asumsi ICP, anggaran subsidi dan kompensasi membengkak 229 % atau bertambah Rp 349,9 triliun menjadi Rp 502,4 triliun. Per Juli 2022, ICP bahkan menyentuh 106 dolar AS per barel. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved