PON Aceh Sumut 2024
Bolehkah Atlet Luar Kenakan Pakaian Terbuka saat Tanding PON di Aceh 2024? Ini Hasil Rakernas KONI
Soal bolehkah atlet luar kenakan pakaian terbuka saat tanding PON di Aceh 2024 nanti, sempat dibahas dalam Rakernas KONI.
Penulis: Sara Masroni | Editor: Taufik Hidayat
SERAMBINEWS.COM - Soal bolehkah atlet luar kenakan pakaian terbuka saat tanding Pekan Olahraga Nasional (PON) di Aceh 2024 nanti, sempat dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Diketahui Rakernas KONI digelar selama dua hari di Golden Ballroom Hotel Sultan, Senayan, Jakarta sejak 12-13 September 2022.
Salah satu yang dibahas dalam Rakernas tersebut terkait persiapan PON XXI Aceh-Sumut tahun 2024.
Hasil Rakernas menyimpulkan, pelaksanaan PON Aceh-Sumut yang semula dijadwalkan pada Oktober 2024 dimajukan ke September 2024.
Alasannya karena di bulan Oktober bertabrakan dengan jadwal kampanye Pemilukada gubernur dan bupati/wali kota secara serentak.
Dalam Rakernas itu juga sempat dibahas agar tuan rumah, khususnya Aceh, membuat surat pernyataan jaminan tidak adanya larangan ke atlet mengenakan pakaian yang tidak syar'i saat bertanding.
Hal itu tertuang dalam rekomendasi kepada Sidang Pleno Rakernas KONI sebagaimana dilihat Serambinews.com pada poin kedua.
"Agar tuan rumah pelaksana PON XXI/2024 khusus di wilayah Aceh membuat pernyataan bahwa pakaian pertandingan cabang olahraga yang dipertandingkan di Provinsi Aceh dijamin tidak ada larangan," demikian bunyi rekomendasi tersebut.
Baca juga: PON Aceh 2024 Antara Harapan dan Kenyataan
Namun rekomendasi menandatangani surat pernyataan itu dihilangkan usai pihak KONI Aceh menjamin tidak ada larangan kepada atlet luar soal cara berpakaian, kecuali untuk atlet Aceh sendiri.
Tanggapan itu disampaikan Sekretaris Umum KONI Aceh, M Nasir Syamaun ketika rapat pleno kedua tentang pelaporan di Rakernas tersebut.
Ia menyampaikan, atlet yang berasal dari daerah lain dibebaskan mengenakan pakaian olahraga sesuai kebiasaan umum saja ketika pertandingan PON di Aceh nantinya.
Yang tidak boleh itu tim Aceh, harus mengenakan pakaian sesuai dengan ketentuan syariat.
"Jadi intinya dibilang tidak usah ada poin penandatanganan ini, mereka jamin kalau ini tidak akan jadi permasalahan," kata Ketua Bidang Organisasi PB Percasi Pusat Sayed Muhammad Muliady yang hadir saat dihubungi Serambinews.com, Selasa (13/9/2022) usai Rakernas.
Baca juga: PON Aceh, Antara Taqwa dan Nova
Khawatir Atlet Diseruduk soal Pakaian
Sementara Ketua Bidang Organisasi PB Percasi Pusat, Sayed Muhammad Muliady yang hadir dalam Rakernas tersebut menyampaikan kekhawatiran soal cara berpakaian atlet luar saat digelarnya PON di Aceh tahun 2024 mendatang.
Menurutnya, akan menjadi masalah di kemudian hari bila tidak dibicarakan secara matang-matang dengan stakeholder lainnya.
"Saya kasih contoh gak usah terlalu terbukalah, (pakaian) basket wanita. Nah itu gimana tuh kalau sempat dilaksanakan di Banda Aceh, bisa gak tuh," kata Sayed.
"Bagi peserta Rakernas yang lain memang mengatakan asal ini bisa dijamin, ya tidak ada masalah. Yang tanggung jawab kan Aceh kalau tiba-tiba nanti tim basket (wanita) diseruduk misalnya," tambah pria kelahiran Langsa itu.
Baca juga: KONI Pusat Resmi Sahkan SK PB PON Aceh-Sumut 2024
Sayed menyampaikan, sebenarnya ingin memberikan tanggapan dalam forum tersebut karena sebagai peserta Rakernas, ia punya hak berbicara.
Namun karena berasal dari PB Percasi yang tidak ada kaitannya dengan pakaian, Sayed pun menangguhkan sanggahannya.
"Kemudian rasanya tidak etis juga kalau saya bantah mereka secara terbuka, ketika mereka bisa meyakinkan dalam forum itu, didebat kusir nanti," tambahnya.
Meski demikian Ketua Bidang Organisasi PB Percasi Pusat itu khawatir bila KONI Aceh hanya memberikan jaminan saja tanpa berkonsultasi dengan stakeholder terlebih dahulu.
"Dari hati saya terdalam, ini harus dibicarakan sama stakeholder karena tidak sesimpel yang mereka sampaikan," ungkap Sayed.
"Hal-hal seperti itu kan sensitif," tambahnya.
Baca juga: Gubernur Nova Serahkan Usulan Rancana Pembangunan Venue PON Aceh-Sumut XXI
Menurut Sayed, sudah betul bila atlet Aceh memakai jilbab saat pelaksanaan olahraga di daerah lain seperti misal di Jawa Barat atau Papua.
Namun ketika Aceh menjadi tuan rumah, persoalan yang muncul adalah saat tim lain yang mengenakan pakaian olahraga terbuka.
"Kalau orang Aceh gak pakai jilbab, orang Aceh marah. Tapi kalau pelaksanaannya di Aceh, itu kan jadi masalah untuk tim yang lain," pungkasnya.
(Serambinews.com/Sara Masroni)