Breaking News:

Internasional

Pangeran Andrew Dipermalukan Dekat Peti Mati Ratu Elizabeth

Seorang pria Skotlandia mengolok-olok putra kedua Ratu Elizabeth II, Pangeran Andrew, pada prosesi pemakaman sang ratu di Edinburgh, Skotlandia

Editor: bakri
(AFP)
Pangeran Andrew 

LONDON - Seorang pria Skotlandia mengolok-olok putra kedua Ratu Elizabeth II, Pangeran Andrew, pada prosesi pemakaman sang ratu di Edinburgh, Skotlandia pada Senin (12/9/2022).

Insiden itu terjadi ketika Andrew dan saudara-saudaranya yaitu Raja Charles III, Pangeran Edward dan Putri Anne sedang berjalan di belakang mobil jenazah sambil memegang peti mati berbendera ratu.

Saat prosesi kerajaan melewati kerumunan, seorang pria terdengar berteriak.

"Andrew, kamu orang tua yang sakit," ujarnya kepada sang pangeran.

Polisi segera menangkap pria itu dan menariknya keluar dari kerumunan.

Penduduk yang berkerumun di sekitar pun berteriak, "Tuhan selamatkan Raja!" Pangeran Andrew sedang diselidiki karena hubungannya dengan pengusaha asal Amerika Serikat Jeffrey Epstein.

Andrew dituduh melakukan pelecehan seksual kepada Virginia Giuffre, saat korban masih di bawah umur pada awal 2000-an.

Pria yang berteriak kepada Pangeran Andrew diidentifikasi hanya sebagai "Rory.

" Kepada jurnalis Holyrood Daily, dia mengatakan mencela sang pangeran sehingga orang-orang akan tahu meski Andrew adalah orang kuat, dia tidak bisa lolos dari kejahatan seksual.

Dalam rangkaian prosesi pemakaman Ratu Elizabeth II, polisi telah menangkap dua tersangka lainnya di Eidenburgh.

Baca juga: Mantan Petugas Perlindungan Istana Buckingham Tuduh Pangeran Andrew Senang Selingkuh

Baca juga: Hakim Inggris Izinkan Wanita AS Tuntut Pangeran Andrew, Kasus Pemerkosaan Korban Sejak Usia 17 Tahun

Keduanya adalah seorang wanita berusia 22 tahun, yang memegang tanda anti-monarki dan seorang pria berusia 74 tahun yang ditangkap secara terpisah pada Minggu didakwa melanggar perdamaian.

Graham Smith, juru bicara kelompok anti-monarki Republik,merilis sebuah pernyataan yang mengatakan sangat prihatin melihat orang-orang ditangkap karena protes damai.

“Polisi, media, dan politisi semua perlu memahami bahwa aksesi adalah peristiwa yang kontroversial.

Orang-orang memiliki hak untuk berbicara dan didengarkan,” ujar Smith dalam pernyataan tertulis.

Ratu Elizabeth meninggal pada Kamis di rumah liburannya di Balmoral, di Dataran Tinggi Skotlandia, pada usia 96 tahun.

Ia tutup usia setelah 70 tahun memerintah.

Sejauh ini, kematiannya telah membuat ratusan ribu pelayat berbaris di jalan-jalan untuk melihat mobil jenazahnya yang dibawa berkeliling ke seluruh negeri.

Kebanyakan rakyat Inggris menangis, bertepuk tangan atau memandang suram. (reuters/tempo.co)

Baca juga: Muncul Isu Referendum Setelah Ratu Elizabeth II Wafat, Antigua dan Barbuda Ingin Coba-coba?

Baca juga: Raja Charles III Tak Perlu Bayar Pajak, Warisi Tanah Senilai Rp11,1 Triliun dari Ratu Elizabeth II

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved