Breaking News:

Berita Banda Aceh

Banyak Galian C Hanya Izin Ekplorasi Tapi Sudah Beroperasi, WALHI Aceh Minta ESDM Aceh Evaluasi 

"Ini harus menjadi pintu masuk bagi ESDM Aceh untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh semua izin pertambangan yang ada di Aceh," kata Shalihin...

Penulis: Indra Wijaya | Editor: Nurul Hayati
For Serambinews.com
Direktur Walhi Aceh, Achmad Shalihin. 

"Ini harus menjadi pintu masuk bagi ESDM Aceh untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh semua izin pertambangan yang ada di Aceh," kata Shalihin saat dihubungi Serambinews.com.

Laporan Indra Wijaya | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Usai insiden longsornya tebing area Galian C di Gle Geunteng, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, meminta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh untuk lakukan evaluasi izin pertambangan.

Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin mengatakan, kejadian tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah Aceh dalam pengelolaan dan evaluasi kegiatan pertambangan di Aceh. 

Sebab, lokasi longsornya galian tersebut berada 18 meter di luar Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

 Artinya, meskipun kegiatan tersebut memiliki izin, galian tersebut berada di luar area izin dan ini merupakan tindakan pidana yang harus diusut.

"Ini harus menjadi pintu masuk bagi ESDM Aceh untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh semua izin pertambangan yang ada di Aceh," kata Shalihin saat dihubungi Serambinews.com.

Pihaknya juga menduga, tak hanya galian yang di Gle Geunteng saja yang beroperasi dil uar IUP. 

Baca juga: Inspektur Tambang: Usaha Galian C yang Longsor di Gle Geunteng tak Miliki Kepala Teknik

Namun, tidak menutup kemungkinan banyak kegiatan pertambangan lain juga melakukan hal yang sama. 

"Berdasarkan temuan WALHI Aceh banyak juga kegiatan pertambangan mineral bukan logam dan batuan (galian C) yang hanya memiliki izin eksplorasi, namun di lapangan telah melakukan operasi produksi," jelasnya.

Selain itu adanya persoalan lain kata Shalihin, seperti kegiatan tambang berada dalam sungai, mengeruk tebing sungai, dan berada pada daerah rawan bencana longsor.

Berdasarkan data di WALHI Aceh, total izin usaha pertambangan mineral bukan logam dan batuan sampai tahun 2022 mencapai 284 izin dengan luas areal 765,45 hektar.

"Untuk itu, agar kejadian serupa tidak terulang kembali, maka Pemerintah Aceh melalui ESDM untuk serius melakukan pengawasan atas izin yang telah diberikan," pungkasnya. (*)

Baca juga: VIDEO Detik-detik Longsornya Gunung Gle Geunteng, Dua Pekerja Galian C Meninggal Dunia

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved