Breaking News:

Selebritis

Lesti Kejora Jadi Korban, Inilah 8 Dampak KDRT Pada Anak Menurut Komnas Perempuan, Mengerikan!

KDRT adalah perilaku yang memberikan dampak yang sangat kompleks terutama dari segi psikologis terhadap perempuan korban KDRT dan juga sang anak.

Editor: Firdha Ustin
riwijaya post
Ilustrasi kdrt 

Lesti Kejora Jadi Korban, Inilah 8 Dampak KDRT Pada Anak Menurut Komnas Perempuan, Mengerikan!

SERAMBINEWS.COM –  Lesti Kejora melaporkan sang suami Rizky Billar ke Polda Metro Jaya karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT).

Hal tersebut di laporkan Lesti karena diduga sang suami selingkuh dan kemudian terjadi percek-cokan sehingga Rizky Billar marah dan membanting sang istri hingga mencekiknya.

Akibat dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga tersebut ( KDRT) tentunya memiliki dampak terutama kepada korban, seperti Lesti Kejora.

Namun tak hanya satu pihak saja, tetapi sang anak juga akan terkena dampak dari KDRT jika keduanya telah memiliki anak.

KDRT adalah perilaku yang memberikan dampak yang sangat kompleks terutama dari segi psikologis terhadap perempuan korban KDRT dan juga sang anak.

Dilansir dari Serambinews.com dari komnasperempuan.go.id pada Sabtu (1/10/2022) tentang “Menemukali Kekerasan Dalam Rumah Tangga”, berikut dampak KDRT terhadap anak:

Baca juga: Lesti Kejora Alami KDRT Hingga Dibanting, Bagaimana Nasib Bekas Luka Operasi Sesarnya? Ini Kata Ahli

Apa saja dampak KDRT terhadap anak?

Anak-anak dalam keluarga yang dipenuhi kekerasan adalah anak yang rentan dan berada dalam bahaya, karena kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:

  • Laki-laki yang menganiaya istri dapat pula menganiaya anak.
  • Perempuan yang mengalami penganiayaan dari pasangan hidup dapat mengarahkan kemarahan dan frustrasi pada anak.
  • Anak dapat cedera secara tidak sengaja ketika mencoba menghentikan kekerasan dan melindungi ibunya.
  • Anak akan sulit mengembangkan perasaan tenteram, ketenangan dan kasih sayang. Hidupnya selalu diwarnai kebingungan, ketegangan, ketakutan, kemarahan, dan ketidakjelasan tentang masa depan.
  • Mereka tidak belajar bagaimana mencintai secara tulus, serta menyelesaikan konflik dan perbedaan dengan cara yang sehat.
  • Anak-anak yang biasa hidup dalam kekerasan akan belajar bahwa kekerasan adalah cara penyelesaian masalah yang wajar, boleh, bahkan mungkin seharusnya dilakukan.
  • Anak lelaki dapat berkembang menjadi lelaki dewasa yang juga menganiaya istri dan anaknya, dan anak perempuan dapat saja menjadi perempuan dewasa yang kembali terjebak sebagai korban kekerasan. 
  • Anak perempuan dapat pula mengembangkan kebiasaan agresi dalam menyelesaikan masalah. 
    ( Serambinews.com/Tasya Mazulfa)
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved