Konflik Rusia Vs Ukraina
Pemimpin Chechen Kirim 3 Anaknya Bergabung Pasukan Rusia Lawan Ukraina
Pemimpin Chechen Pro-Rusia, Ramzan Kadyrov, mengaku mengirimkan tiga putra remajanya ke Ukraina untuk bertempur membela Moskow
Wakil ketua parlemen (Duma) sekaligus mantan jenderal Rusia, Letnan Jenderal Andrei Gurulev, mengatakan dia tidak bisa menjelaskan tentang "menyerahnya" pasukan Negeri Beruang Merah dari sudut pandang militer.
"Saya tidak mengerti mengapa mereka (militer Rusia) tidak menilai dengan benar situasi pada waktu itu, tidak memperkuat pasukan," kata Gurulev kepada saluran digital pro-Kremlin, Soloviev Live, pada Minggu (2/10/2022).
"Ini mungkin tonggak penting tidak hanya militer, tetapi juga politik, terutama sekarang," kata eks Komandan Angkatan Darat Rusia ke-58 itu menambahkan.
Gurulev bahkan mengkritik rezim Putin yang dinilainya banyak menutupi situasi sebenarnya terkait operasi militer Rusia di Ukraina.
Baca juga: Presiden Rusia Telepon Raja Bahrain, Bahas Perdamaian Abadi
Intel Ukraina: Ancaman Nuklir Sangat Tinggi
Seorang pembantu utama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan komunitas intelijen Ukraina percaya bahwa ancaman pasukan Rusia yang menggunakan senjata nuklir sangat tinggi.
Ini menyusul serangkaian kerugian memalukan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dilansir The Hill, dalam op-ed yang diterbitkan di The Atlantic pada Jumat (30/9/2022), Andriy Yermak, kepala kantor presiden Ukraina, mengatakan para pejabat Ukraina tidak menganggap ancaman Rusia untuk menggunakan senjata nuklir sebagai omong kosong.
“Badan intelijen kami menilai ancaman penggunaan senjata nuklir taktis Rusia sebagai hal yang sangat tinggi.
Dan kesediaan Rusia untuk membuat ancaman nuklir menghadirkan krisis tidak hanya untuk Ukraina, tetapi untuk setiap negara di Bumi,” tulis Yermak.
“Tanggapan terhadap pemerasan nuklir Rusia harus sengit dan tegas, menolak gagasan untuk membuat konsesi kepada agresor nuklir,” lanjutnya.
Jika tidak, Yermak memperingatkan, setiap rezim diktator akan berebut untuk mencapai senjata nuklir, dan negara-negara non-nuklir akan melakukan hal yang sama dalam membela diri.
“Perjanjian nonproliferasi tidak akan ada artinya.
Perang nuklir, dengan jutaan korban, akan menyusul,” katanya.
Baca juga: Rusia Tarik Pasukannya dari Donetsk Wilayah Ukraina yang Dicaplok, Tanda Kemunduran Vladimir Putin
Peringatan dari Yermak datang di tengah ancaman dari Putin untuk menggunakan segala cara yang diperlukan untuk memenangkan perang di Ukraina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pemimpin-Chechnya-Ramzan-Kadyrov-di-Arab-Saudi.jpg)