Berita Banda Aceh
Aceh Harus Perkuat Industri Hilir, Ironi Kebutuhan Beras
Kementerian Keuangan RI menyatakan Aceh harus memanfaatkan pemulihan ekonomi pasca pandemi untuk memperkuat industri hilir
BANDA ACEH - Kementerian Keuangan RI menyatakan Aceh harus memanfaatkan pemulihan ekonomi pasca pandemi untuk memperkuat industri hilir, yakni industri yang mengolah lebih lanjut hasil-hasil dari industri primer.
Hal itu dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di wilayah Aceh.
"Ini momentum kalau dulu kita kurang, maka sekarang kita perkuat, contohnya kegiatan (industri) hilir yang dulu kita tidak kuat," ucap Kepala Perwakilan Kemenkeu Provinsi Aceh Safuadi di Banda Aceh, Rabu (5/10/2022).
Safuadi menjelaskan sistem ekonomi nasional sangat terganggu selama pandemi.
Begitu juga dengan Aceh, namun tidak separah provinsi-provinsi lain di Tanah Air yang memiliki industri manufaktur.
Sementara Aceh, sambungnya, belum memiliki industri manufaktur.
Kontribusi pertumbuhan ekonomi Aceh paling besar dari sektor pertanian dan perikanan, dan bahkan tidak saling terkoneksi sehingga tidak berpengaruh besar saat pandemi.
"Sementara di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, misalnya, itu pabrik bekerja interkoneksi, sehingga kalau satu terkena, semua bermasalah.
Di Aceh dampak ekonomi akibat pandemi ada, tapi tidak seberat daerah yang tumbuh industri manufaktur," katanya.
Baca juga: Indonesia Diprediksi Bakal Paceklik, Harga Beras akan Naik Tinggi
Baca juga: Jaga Kestabilan Harga Pangan, Bulog Aceh Sudah Salurkan 17.500 Ton Beras
Dia menambahkan, pandemi akan segera berakhir.
Pemulihan ekonomi akan terus berlangsung dengan berbagai program pemerintah.
Karena itu, Aceh harus memanfaatkan momentum itu untuk bangkit memperkuat dengan industri hilir.
Menurut Safuadi, sudah saatnya Aceh menyiapkan pengembangan ekonomi di hilir seperti pabrik gula, minyak goreng, telur, dan komoditas lainnya.
Minimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar tidak terus ketergantungan dari daerah lain.
Pada bagian lain, Kepala Perwakilan Kemenkeu Provinsi Aceh, Safuadi mengungkapkan, Aceh berhasil memproduksi 1 juta ton beras per tahun.
Namun ironisnya, jumlah tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang mencapai 504 ribu ton per tahun.
Hal itu disebabkan karena beras produksi Aceh banyak terjual ke luar provinsi akibat minimnya pembiayaan dan pergudangan yang belum mampu menampung beras dalam jumlah besar.
"Sebenarnya paradoks sekali, kita menghasilkan beras 1 juta ton, kita konsumsi 504 ribu ton, harusnya kita kelebihan hampir 500 ribu ton, tapi nyatanya kita kekurangan 161 ribu ton per tahun, ini kemudian harus bersama-sama semua pihak untuk menanggulangi.
Kalau pun tidak berlebih, minimal mencukupi kebutuhan," jelasnya. (antara)
Baca juga: Harga Beras Bergerak Naik, Permintaan Pasar Meningkat
Baca juga: Harga Beras Bergerak Naik, Sebagian Warga Banda Aceh Beli Per Bambu, Bulog Sedia yang Lebih Murah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ibu-beli-beras-per-bambu.jpg)