Rabu, 29 April 2026

Berita Jakarta

Mentan Pastikan Stok Beras Aman

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menjamin pasokan beras Indonesia aman

Tayang:
Editor: bakri
KOMPAS.com/ Nugraha Perdana
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat diwawancarai usai kegiatan Rembug Utama Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional (KTNA) di Kota Batu, Jawa Timur pada Jumat (16/9/2022). 

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menjamin pasokan beras Indonesia aman.

Menurutnya, stok beras Indonesia surplus 10 juta ton. "(Stok beras) aman dong.

Kita punya stok dan neraca kita masih surplus 10 juta ton.

Dimana persoalannya? Kamu mau berapa ton? Mau beli berapa, ayo," ujar Mentan saat dijumpai di kantornya, Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Hanya saja, Mentan SYL enggan untuk berkomentar terkait penyebab kenaikan harga komoditas beras.

Sebab, menurut dia, persoalan kenaikan beras bukan menjadi tugas dan tanggung jawabnya, kecuali yang berkaitan dengan stok.

"Kalau untuk harga jangan tanya Kementan, masalah produktivitas neraca kita plus, kalau bawa beras jual kemana itu bukan (urusan) saya, bukan tupoksi saya," ungkapnya.

Baca juga: Aceh Harus Perkuat Industri Hilir, Ironi Kebutuhan Beras

Baca juga: Harga Beras Bergerak Naik, Permintaan Pasar Meningkat

Mentan Syahrul Yasin Limpo juga mengatakan, Indonesia siap menghadapi ancaman krisis pangan dunia.

Sebab kata dia, pihaknya sudah memiliki berbagai program dan cara untuk menghadapi krisis pangan.

Salah satunya yakni jika harga beras dan jagung melonjak tinggi lantaran krisis, pemerintah tak segan-segan mensubsitusi dengan sagu.

"Sekrisis apapun, Kementan itu sudah siap (hadapi ancaman krisis pangan dunia), sudah ada program.

Beras, kalau memang harganya tidak bersahabat potong semua pohon sagu yang ada," ujarnya, dalam acara Kegiatan Pembekalan Penyuluhan Pertanian Nasional dengan tema Penyuluh Hebat, Pertanian Kuat di Jakara, Kamis (6/10/2022).

"Kita masih punya 5 juta hektar sagu.

Potong 1 juta hektar sudah bisa bertahan 1-2 tahun, makan sagu saja.

Apalagi sorgum kita masih bisa produksi.

Kita kompak-kompak saja," sambungnya.

Mentan mengatakan, menurut Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia adalah salah satu negara yang paling siap menghadapi segala krisis di dunia dari sisi ketersediaan makanan.

Dia juga membeberkan, ekspor pertanian Indonesia telah meningkat hingga 38 persen di tahun 2021.

Sementara nilainya juga meningkat dari Rp 451 triliun pada 2020 jadi Rp 625 triliun pada 2021.

"Semua institusi besar dunia, bahkan PBB mengatakan akan krisis pangan.

Oleh karena itu kita harus siap dan konsepnya sudah jalan.

Kita enggak main-main," pungkasnya.

Perlu Korlaborasi

Wakil Presiden Maruf Amin mengatakan, situasi perekonomian dunia saat ini sedang diselimuti awan gelap.

Untuk itu dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak agar perekonomian Indonesia bisa terhindar dari hal buruk tersebut.

Menurut Ma'ruf, kalimat pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat diharapkan tak hanya jadi slogan.

Hal ini diharapkan bisa diterjemahkan dalam kebijakan dan diwujudkan dengan kolaborasi banyak pihak.

Ma’ruf mengatakan, memburuknya perekonomian global salah satunya disebabkan krisis pangan dan juga energi, yang terjadi di banyak negara.

Krisis tersebut bermula saat pandemic Covid-19 terjadi dan disusul adanya perang antara Rusia dan Ukraina.

“Krisis pangan, energi, dan krisis keuangan jadi awan gelap yang menyelimuti semua negara.

Ancaman resesi dan sinyal kelesuan ekonomi global makin kuat,” tutur Ma'ruf dalam acara pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), Kamis (6/10/2022).(kompas.com/kontan.co.id)

Baca juga: Pagi Ini Anies Bertemu AHY

Baca juga: Wahyudin, Mahasiswa Teknik Pertanian USK Hattrick Emas Cabang Panjat Tebing POMDA Aceh 2022

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved