Rabu, 22 April 2026

Internasional

Mesir Putuskan Hubungan dengan Turki, Kisruh Perebutan Ekplorasi Migas Lepas Pantai Libya

Pemerintah Mesir telah menghentikan pemulihan hubungan dengan Turki karena kebijakan teritorial dan energi di Libya.

Editor: M Nur Pakar
AFP/Mahmud Turkia
Perdana Menteri Libya Abdul Hamid Dbeibeh berbicara dalam simulasi pemilu di ibu kota Tripoli pada Sabtu (5/11/2022). 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Pemerintah Mesir telah menghentikan pemulihan hubungan dengan Turki karena kebijakan teritorial dan energi di Libya.

Sebelumnya, ada tindakan keras Ankara baru-baru ini terhadap wartawan di negara yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, kata para analis.

Krisis muncul saat Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry, dalam sebuah wawancara dengan TV Al-Arabiya mengungkapkan perjanjian Skhirat yang ditengahi PBB.

Dimana, mendesak semua pihak untuk berurusan dengan pemerintah Fathi Bashagha.

Turki, bagaimanapun, lebih suka memberikan dukungan kepada Pemerintah Persatuan Nasional yang berbasis di Tripoli, dipimpin oleh Abdel Hamid Dbeibah.

Dbeibah menandatangani nota kesepahaman tentang energi dan migas dengan Ankara pada awal Oktober 2022.

Baca juga: PBB Kutuk Pembunuhan Keji 15 Migran Oleh Penyelundup di Perairan Libya

Mesir berpendapat mandat pemerintah Dbeibah, yang ditetapkan sebagai bagian dari proses perdamaian yang dipimpin PBB, telah berakhir.

Ditambahkan, pemerintah tidak berwenang untuk menandatangani kesepakatan untuk Eksplorasi Migas di lepas pantai Libya.

Kesepakatan seperti itu, Kairo telah memperingatkan, akan memicu ketegangan di wilayah yang kaya energi tersebut.

Sejauh ini, Kairo dan Ankara telah mengadakan dua putaran pembicaraan di tingkat Wakil Menteri Luar Negeri untuk menormalkan hubungan bilateral yang terputus.

Termasuk mencapai pemahaman bersama tentang masalah-masalah regional.

Namun, tidak ada peningkatan yang dilakukan di tingkat diplomatik, karena kedua negara masih diwakili kuasa usaha.

Sami Hamdi, Direktur The International Interest, sebuah perusahaan risiko dan intelijen global yang berbasis di London mengatakan Kairo menuding Turki sedang menghadapi masalah di dalam negeri.

Bahkan, Kairo percaya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hanya mencari rekonsiliasi karena dia berada dalam kesulitan di dalam negeri.

Termasuk berusaha mempertahankan keuntungan Turki di Mediterania.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved