Opini

Ayah, Antara Ada dan Tiada

Belum banyak yang tahu bahwa sejak 2006, Indonesia juga memiliki hari Ayah Nasional yang jatuh bertepatan pada tanggal 12 November

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
dr HILWA SALSABILA,  Penulis Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat FK USK 

OLEH dr HILWA SALSABILA,  Penulis Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat FK USK

DI Indonesia Hari Ibu sudah lumrah dirayakan sejak puluhan tahun yang lalu setiap tanggal 22 Desember.

Namun belum banyak yang tahu bahwa sejak 2006, Indonesia juga memiliki hari Ayah Nasional yang jatuh bertepatan pada tanggal 12 November.

Lalu apa makna hari ayah terutama untuk para ayah dan anak-anaknya?

Apakah ayah masih menjadi idola bagi anak laki-lakinya dan cinta pertama bagi anak perempuannya?

Dahulu, kehadiran ayah mungkin dihayati hanya sebagai tulang punggung yang mencari nafkah untuk keluarga.

Sehingga aktivitas anak lebih sering bersama ibu.

Hal ini akibat stigma pembagian tugas berdasarkan gender yang diamini sejak dahulu, yakni ayah yang bekerja dan ibu yang mengurus urusan domestik.

Seiring dengan berkembangnya ilmu kesehatan jiwa, ternyata diketahui bahwa kehadiran ayah amat berpengaruh bagi anak, baik memengaruhi perkembangan psikosial, emosional, dan kognitif anak-anaknya.

Sehingga, peran ayah bukan sekedar sebagai ‘ATM’ bagi anak, namun ayah juga perlu hadir berperan secara utuh dalam berkomunikasi dan mengasuh anak demi terwujudnya pribadi yang matang secara emosional.

Dapat dilihat saat ini, betapa banyak individu dengan usia fisik yang sudah dewasa namun secara emosional masih kekanakan.

Memutuskan masalah dengan emosi, tidak mampu berpikir rasional.

Baca juga: Asal Usul Hari Ayah Sedunia, Ada Dua Versi dari Veteran Perang dan Ledakan Tambang

Baca juga: Hari Ayah Sedunia dan Unggahan Bersama Ridwan Kamil, Netizen: Kamu Sungguh Beruntung Arka

Hal ini karena aspek rasionalitas diajarkan dan lebih baik dicontohkan oleh sosok ayah.

Apa itu absent father

Absent father, atau fatherless, merupakan istilah bagi kondisi dimana para ayah memang hadir secara fisik, namun tidak terlibat dalam proses pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

Padahal peran serta tanggung jawab ayah dan ibu sama pentingnya bagi anak dalam hal pengasuhan sejak baru lahir hingga remaja.

Baik ayah atau ibu, mengisi ruang pengasuhan yang berbeda.

Peran masing-masing tidak dapat digantikan oleh satu sama lain.

Demikian lazimnya hal ini di negara kita, hingga tak aneh jika Indonesia menjadi fatherless country ketiga di dunia setelah Amerika dan Australia.

Jika kondisi ini tidak dapat ‘diputus’, generasi seperti apa akan lahir ke depannya? Ini adalah sebuah fakta pahit di negeri yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.

Padahal jika melihat kisah di dalam Alquran, banyak dikisahkan contoh relasi ayah dan anak, bahkan lebih banyak daripada kisah ibu dan anaknya.

Di antaranya, kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, Ya’qub dan Yusuf, Nuh dan anaknya, Luqman dan anaknya, juga Syu’aib dan anak perempuannya.

Lalu, sejauh mana peran ayah dalam pengasuhan anak?

Sedalam apa dampak ‘kehilangan’ ayah bagi para anak? Dalam aspek tumbuh kembang, ayah mendukung anak dalam permainan yang melibatkan aktivitas fisik, utamanya yang tidak dilakukan bersama ibu.

Seperti, bermain bola, mencuci mobil, kejarkejaran, bergulat, memetik buah-buahan, berkemah, berkreasi membuat prakarya, dan banyak lagi.

Baca juga: Dini Hari, Ayah & Anak Meninggal Ditabrak Pikap Angkut Tomat di Aceh Tenggara, Sopir Diduga Ngantuk 

Hal ini kelak akan meningkatkan keterampilan anak, kestabilan emosi, dan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Hubungan ayah-anak yang secure juga terbukti dapat meningkatkan tingkat percaya diri anak dalam segala aspek.

Termasuk keberanian untuk menyampaikan pendapat dan membela diri saat ada usaha bullying atau intimidasi dari orang lain terhadap anak.

Dampak yang spesifik juga berbeda bagi anak laki-laki dan perempuan.

Ayah bagi anak laki-laki

Bagi anak lelakinya, ayah memberi contoh peran gender maskulin.

Apa saja yang dilakukan oleh laki-laki, bagaimana cara mengendalikan diri, kekuatan, serta emosinya.

Anak laki-laki yang tidak memperoleh contoh gender maskulin dengan baik, cenderung berkembang dengan orientasi seksual yang menyimpang, emosi sering meledak-ledak, dan rentan menyalahgunakan kekuatannya baik di tempat kerja, di rumah, atau saat sedang bersama teman.

Yang pasti, saat dewasa nanti, anak laki-laki ini juga akan menjadi ‘absent father’ bagi anakanaknya karena tidak memiliki contoh sebelumnya.

Dari ayah, anak lelaki belajar bagaimana caranya memperlakukan perempuan, sehingga tidak lahir suamisuami yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik kekerasan fisik maupun verbal.

Pun begitu banyaknya remaja bahkan anak lakilaki yang menjadi pecandu pornografi, yang mana para pecandu pornografi biasanya akan melihat perempuan hanya sebagai objek seksual semata.

Baca juga: Bupati Ajak Kaum Perempuan Majukan Nagan Raya, Hari Ibu Diperingati Khidmat

Ayah yang lebih proaktif berkomunikasi dengan para aneuk agam-nya, dapat menurunkan risiko paparan pornografi pada mereka.

Ayah bagi anak perempuan

Hubungan ayah dan anak perempuannya merupakan hubungan untuk memenuhi cinta dan kasih sayang bagi anak.

Maka tak salah apabila banyak yang bilang kalau ayah merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya.

Karena ketika ayah turut mengasuh anak perempuan, maka anak akan merasa puas menerima kasih sayang dari sosok laki-laki.

Akibatnya anak tidak ‘haus’ dan mencari pemenuhan kasih sayang dari orang lain.

Sehingga saat anak merasa kurang dicintai dan disayangi, maka ketika dewasa umumnya mereka mudah untuk kagum dan jatuh cinta pada laki-laki.

Bahkan beberapa malah mencari dan menikah dengan laki-laki usia matang untuk menggantikan sosok ayah yang tidak didapatkannya.

Atau malah sebaliknya, alih-alih mudah jatuh cinta, dia akan kesulitan percaya pada laki-laki, curiga, sulit untuk membangun hubungan dekat dan serius dengan laki-laki.

Kemudian cenderung untuk memilih laki-laki yang juga akan menjadi ‘absent father’.

Pada akhirnya, memang proses pembentukan kepribadian individu akan dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya, pun tidak ada relasi ayah-anak yang sempurna.

Tapi selalu ada ruang untuk berusaha membangun relasi yang ideal demi terbentuknya generasi yang matang secara fisik dan mental.

Harapannya agar para orang tua tidak meninggalkan generasi yang lemah, seperti firman Allah dalam Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 9.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya”.

Maka, hari ayah bisa dimanfaatkan sebagai momen untuk merefleksikan diri.

Untuk sebagian anak yang mungkin cukup beruntung punya kenangan indah, dan hubungan yang secure bersama ayahnya, maka silakan lanjutkan kebiasaan baik yang sudah terbangun.

Namun bagi sebagian lainnya yang belum ditakdirkan punya relasi yang aman, sudah waktunya untuk memutuskan mata rantai pengasuhan tersebut.

Pada awalnya mungkin cukup perih untuk membasuh luka pengasuhan di masa lalu, namun tentu tidak ada yang menginginkan anak-anaknya merasakan hal negatif yang sama bukan? Tidak ada kata terlambat untuk para ayah yang ingin kembali ‘memeluk’ anakanaknya.

Karena sebesar apa pun kesalahan orang tua, anak selalu punya pintu maaf paling tulus dan kembali memeluk orang tua dengan pelukan paling hangat. (hilwasalsabila17@ gmail.com)

Baca juga: Renungan Tsunami dan Peringatan Hari Ibu Warnai Agenda Akhir Tahun IKWI Aceh

Baca juga: Sekda Bener Meriah Baca Puisi Sambil Meneteskan Air Mata di Peringatan Hari Ibu, Begini Liriknya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved