Selasa, 2 Juni 2026

Citizen Reporter

Berharap Desa Bebas dari Isolasi: Pengungsi Etnik Jawa, Gayo dan Aceh Eksodus di SMPN 32 Aceh Tengah

Berharap Desa Bebas dari Isolasi: Pengungsi Etnik Jawa, Gayo dan Aceh Eksodus di SMPN 32 Aceh Tengah

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur bersama para pengungsi dari Desa Bintang Pepara di SMPN 32 Aceh Tengah 

Hasan Basri M. Nur, Dosen UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, email: hasanbasrimnur@gmail.com

***

SERAMBINEWS.COM -  Meski bencana banjir Siklon Senyar 2025 sudah berlalu dua bulan, namun masih terdapat sejumlah desa yang hingga kini masih terisolir. Jembatan yang roboh adalah penyebab utamanya.

Pada Minggu (18/01/2026), saya bersama Jamaluddin Jamil dan Safwan Gade berangkat ke desa terisolir yang terdapat di Kecamatan Ketol Aceh Tengah untuk mengantar bantuan dari donatur PT Artha Graha.

Kami mengangkut bantuan yang terdiri dari pakaian baru, kain sarung, mukena, kelambu, susu balita, makanan dan beberapa jenis kebutuhan pokok lainnya.

Kali ini, bantuan ini difokuskan pada satu desa yang terletak di paling ujung, yaitu Desa Bintang Pepara agar maksimal manfaatnya.

Sebenarnya di kawasan ini terdapat empat desa yang terisolir, yaitu Desa Burlah, Bugeara, Kekuyang dan Bintang Pepara.

Baca juga: VIDEO - Menggantung di Tali, Relawan Aceh Antar Bantuan ke Desa Terisolir di Ketol Aceh Tengah

Tapi hanya warga Desa Bintang Pepara yang harus mengungsi (eksodus) total ke SMPN 32.

“Kita menetapkan Desa Bintang Pepara untuk diantar bantuan kali ini.

Sebab, seluruh rumah di desa ini telah hancur, semua warga mengungsi ke SMPN 32,” ujar Jamaluddin Jamil dalam sambutan penyerahan bantuan.

Kami disambut ramah oleh Kepala Desa atau Reje Misran SH dan 99 KK pengungsi di SMPN 32 Aceh Tengah.

Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur (kanan) bersama Reja Misran SH
Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur (kanan) bersama Reja Misran SH (Serambinews.com/HO)

Para pengungsi tampak gembira atas kehadiran kami.

“Para pengungsi tidur di ruang kelas SMP. Satu kelas muat hingga 9 KK,” ujar Reje Misran SH.

Pengungsi dari Desa Bintang Pepara terdiri dari tiga etnik yaitu Jawa, Gayo dan Aceh.

Percakapan dalam tiga bahasa yaitu Jawa, Gayo dan Aceh, adalah hal biasa di desa ini.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved