Kisah Azka, Bocah Selamat Terkubur Reruntuhan 3 Hari saat Gempa Cianjur, Berbekal Feeling Ayah

Kisah Azka, bocah usia 10 tahun yang bernasib baik, selamat usai terkubur reruntuhan selama tiga hari pasca gempa Cianjur, berbekal feeling ayahnya.

Penulis: Sara Masroni | Editor: Amirullah
Tangkap Layar YouTube tvOneNews
Kisah Azka, bocah usia 10 tahun yang bernasib baik, selamat usai terkubur reruntuhan selama tiga hari pasca gempa Cianjur, berbekal feeling ayahnya. 

SERAMBINEWS.COM - Kisah Azka, bocah usia 10 tahun yang bernasib baik, selamat usai terkubur reruntuhan selama tiga hari pasca gempa Cianjur, berbekal feeling ayahnya.

Bocah bernasib baik itu terlihat masih terbaring lemah, setengah badannya tertutup selimut coklat. Sebelah kanan Azka terdapat beberapa mainan. 

“Sekarang alhamdulillah sudah membaik, gak seperti kemarin malam gitu," jelas paman, Miftahul Jannah dilihat Serambinews.com dari tayangan YouTube tvOneNews, Jumat (25/11/2022).

"Sudah ditangani sama tim medis dan dokter di rumah sakit ini (RS darurat dalam tenda)," tambahnya.

 

 

Diketahui Azka Maulana Malik merupakan salah seorang korban selamat usai gempa yang mengguncang Cianjur, Jawa Barat Pada Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB lalu.

Baca juga: Gempa di Cianjur: Warga Panik, Bangunan Roboh hingga Korban Terjepit Reruntuhan

Bocah tersebut selamat dari maut berkat sebuah lemari yang menahannya dan memberikan celah dari reruntuhan dak beton.

Ia ditemukan pada Rabu (23/11/2022) siang sekitar pukul 11.00 WIB.

Tim evakuasi gabungan menemukan Azka di kamarnya yang sudah runtuh tertimbun beton akibat gempa yang memakan 272 korban jiwa itu.

"Azka ditemukan Rabu, sama tim penyelamat gabungan. Posisi Azka di bawah dak beton tapi posisi di kamar," jelas Miftah.

Baca juga: Gempa Terkini Magnitudo 5,6 Guncang Cianjur Jawa Barat Dirasakan Sampai Jakarta

Nasib baik ada lemari yang menjadi penahan beton menyentuh tubuh Azka, sedikit ruang membuatnya selamat dari tragedi naas itu.

"Posisi dak betonnya tertindih sama lemari ada celah sedikit ruang pergerakan buat Azka," cerita sang paman.

"Selama tiga hari dua malam itu tidak makan tidak minum," tambahnya.

Baca juga: Kisah Dede Sumiati, Ibu Hamil 9 Bulan yang Meninggal dalam Reruntuhan Gempa Cianjur

Berbekal Feeling Sang Ayah

Pemilik nama lengkap Azka Maulana Malik ini selamat berbekal feeling sang ayah dan paman.

Keduanya punya firasat yang sama kalau bocah tersebut masih hidup walau sudah berada di reruntuhan beton.

"Waktu satu dua hari tidak ada harapan kan ya, tapi feeling bapaknya sama saya ke kamarnya (ada Azka masih hidup)," jelas Miftah.

Kemudian tim petugas evakuasi gabungan melakukan pembongkaran area luar rumahnya.

Benar saja, Azka masih selamat dalam reruntuhan beton selama tiga hari dan langsung dibawa untuk penanganan medis.

"Dibongkar-bongkar sama tim penyelamat, dibongkarnya pas area luarnya itu, keramik luarnya," ujar Miftah.

"Dari itu langsung masuk diperluas gitu ya ngebongkarnya, pas itu dibongkar-bongkar ya ketemu di sini," tambahnya.

Baca juga: Raja Salman Kirim Doa, Putin Berduka, Korban Meninggal Gempa Cianjur Sudah 271 Orang

Ibu dan Nenek Azka Meninggal

Sementara ibu dan nenek Azka yang berada dalam rumah yang sama, ditemukan meninggal dunia.

"Ibunya dedek Azka ditemukan waktu kemarinnya Selasa, dalam keadaan meninggal di teras rumah, ditemukan oleh suaminya," jelas Miftah sang paman.

Neneknya juga meninggal dunia sama harinya seperti dedek Azka, beda jam. Kalau ini dedek Azka ditemukannya jam 11 pagi, neneknya ditemukan setengah 12," pungkasnya.

Baca juga: Polres Bireuen dan Jajaran Gelar Doa Bersama untuk Korban Gempa Bumi Cianjur Jawa Barat

Update Data Korban Gempa Cianjur

Data update yang berhasil dihimpun BNPB hingga Kamis (24/11/2022), sebanyak 272 orang meninggal dunia gempa di Cianjur.

Dari data tersebut, sebanyak 165 jenazah sudah teridentifikasi.

“107 jenazah masih terus diidentifikasi,” ujar Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat memberikan keterangan pers di Kantor Bupati Cianjur, Kamis kemarin.

Sementara itu korban luka-luka 2.046 orang, warga mengungsi 62.545 orang.

Kerugian materil juga masih terus dilakukan pendataan, laporan dari desa dan camat langsung ke posko utama.

“Total rumah rusak 56.311, rusak berat 22.267 unit, rusak sedang 11.836 unit dan rusak ringan 22.208 unit.

“Data ini akan diverifikasi dengan batasan yang sudah ada, ada Permen PUPR tentang spesifikasi kategori rumah rusak," kata Suharyanto.

Penanganan bencana masih akan terus dilakukan, untuk hari ini masih berfokus dalam pencarian dan penyelamatan korban.

Kepala BNPB itu menjelaskan, Selain melakukan SAR, pendistribusian logistik telah berjalan lebih baik.

“Para camat sudah ambil logistik kebutuhannya dan didistribusikan ke desa dan desa mendistribusikan ke masyarakat yang membutuhkan," tutur Suharyanto.

Pihaknya menyampaikan, masyarakat yang keluarganya meninggal akibat gempa, dapat melengkapi surat sebagai syarat untuk mendapatkan santunan dari pemerintah.

"Yang anggota keluarganya meninggal, agar segera melengkapi surat pernyataan kematian yang dikeluarkan dari fasilitas kesehatan,” ungkap Suharyanto.

“Ini menyangkut bantuan dan santunan, salah satu syaratnya adalah surat tersebut," tambahnya.

Penanganan bencana adalah urusan bersama, banyak pihak terlibat dalam penanganan bencana gempa Cianjur ini.

"BNPB memegang  unsur komando tapi yang bergerak seluruh kementerian, lembaga, TNI/Polri dan relawan," tuturnya.

"Kami terus mendata unsur lain yang ikut serta dalam penanganan bencana, 333 organisasi dan 4.674 personil dari organisasi masyarakat, dunia usaha dan relawan terlibat, sudah dibagikan tugasnya masing-masing," imbuh Suharyanto.

Kepala BNPB itu menyampaikan, lokasi bencana bukan tempat wisata, sehingga jika tidak membantu penanganan diharap tidak datang.

"Kepada masyarakat yang tidak berkepentingan, bencana bukan untuk dilihat, bukan tempat wisata, tapi sesuatu yang harus dipecahkan bersama,” ungkap Suharyanto.

Polres dan Kodim untuk bertindak tegas namun humanis untuk memberikan penjelaskan ke kelompok masyarakat ini agar tidak mengganggu penanganan bencana," tegasnya.

Pemerintah ke depan akan membuat rumah contoh bagi masyarakat, agar dapat memilih rumah yang akan dibangun pemerintah yang disukai.

"Pekan depan akan dibangunkan rumah tahan gempa sebagai contoh di lokasi terdampak, jadi masyarakat bisa memilih sendiri," pungkasnya.

Presiden Kunjungi Korban Gempa, Beri Bantuan Rp 5 juta per Warga

Presiden Joko Widodo kembali meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak gempa bumi dalam kunjungannya ke Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, pada Kamis kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyapa sekaligus memberikan bantuan kepada para pengungsi yang menjadi korban gempa magnitudo 5,6 tersebut.

“Ini untuk yang Bapak-Bapak ada sarung, Ibu-Ibu ada mukena. Semua dapat,” ujar Presiden kepada para pengungsi di tempat pengungsian Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Presiden juga meminta para pengungsi untuk sabar dalam menghadapi cobaan berupa bencana alam ini.

Presiden menjelaskan, pemerintah akan segera memberikan sejumlah bantuan kepada para pengungsi yang rumahnya mengalami kerusakan.

“Semuanya sabar. Pemerintah akan segera (memberikan bantuan) nanti bisa dibangun sendiri, bisa dibangunkan oleh pemerintah,” ungkap Presiden Jokowi.

“Nanti akan segera dilaksanakan kalau sudah situasinya mereda,” tambahnya.

Sementara Ketua RW 02 di Desa Cijedil, Ade Supriadi mengaku sangat bersyukur atas kehadiran Presiden Jokowi di wilayah tersebut.

“Saya sangat sangat bersyukur karena kampung saya bisa dikunjungi oleh Bapak Presiden langsung ke wilayah saya,” ucap Ade.

Ade juga mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi turut memberikan bantuan sebesar Rp 5 juta untuk diberikan kepada seluruh warga dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Peruntukannya yaitu buat kebutuhan seluruh warga RW 02, baik itu buat beli sampo, sabun, pasta gigi, dan kebutuhan-kebutuhan yang lainnya,” tutur Ade.

Ade pun berharap pemerintah dapat segera melakukan pembangunan terhadap rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa bumi.

Menurut Ade, hampir 90 persen rumah warga yang ada di wilayah tersebut mengalami kerusakan.

“Besar harapan pembangunan untuk rumah tersebut yang sudah hancur. karena dari sekian ribu banyak rumah di sini, yang hancur itu bisa dikatakan 90 persen, yang rusak berat,” tandasnya.

Korban Terjepit Reruntuhan

Gempa magnitudo 5,6 di Cianjur Jawa Barat cukup membuat warga panik, pasalnya sejumlah bangunan roboh hingga ada korban yang terjepit di reruntuhan.

Diketahui gempa di Cianjur ini terjadi pada Senin (21/11/2022) pukul 13:21 WIB dengan kedalaman 10 KM.

Sangking kuatnya, gempa tersebut dirasakan hingga Depok dan Jakarta.

Usai gempa mengguncang Cianjur, video kondisi di sana terus beredar di media sosial.

Mulai dari anak kecil yang terlihat lengan bajunya dilumuri darah, hingga orang dewasa yang terjepit reruntuhan bangunan.

"Ini korban anak pada sama material bangunan," ucap salah satu sumber dalam video yang diunggah Twitter @muridnaw dikutip Serambinews.com, Senin siang.

"Woi bantu woi, nonton-nonton wae. Bantu iyek," teriak salah seorang warga meminta tolong karena terjepit reruntuhan bangunan.

Sementara dalam video lainnya beredar, sebuah masjid di mana material di dalamnya runtuh menutupi lantai rumah ibadah tersebut.

"Masjid Al-Barokah di Kampung Ciharashas, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur," sebut seseorang dalam video sambil menunjukkan kondisi dalam masjid tersebut dikutip dari Twitter @De_Liput Senin siang.

Selanjutnya dalam video lain menunjukkan rumah-rumah yang roboh usai guncangan gempa magnitudo 5,6 hingga warga panik memenuhi pinggiran jalan raya.

"Cianjur hancur semua nih rumah, ya Allah," kata sumber dalam video yang diunggah Twitter @mrchristwibowo Senin siang.

"Kita putar balik cari jalan alternatif karena di jalan utama sudah tertutup longsor, mau gak mau kita putar balik," tambahnya.

Diketahui sebelumnya gempa mengguncang Cianjur, Provinsi Jawa Barat pada Senin (21/11/2022).

Dikutip Serambinews.com dari situs BMKG, gempa bumi magnitudo 5,6 tersebut terjadi pada pukul 13:21:10 WIB.

Gempa bumi terjadi pada titik koordinat 6,84 lintang selatan (LS) dan 107,05 bujur timur (BT).

Pusat gempa berada di 10 kilometer (Km) barat daya Cianjur, Jabar.

Gempa tersebut pada kedalaman 10 Km.

Menurut penjelasan BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Gempa tersebut dirasakan hingga MMI V Cianjur, IV-V Garut, IV-V Sukabumi, III Cimahi, III Lembang, III Kota Bandung, III Cikalong Wetan, III Rangkasbitung, III Bogor, III Bayar, I-III Rancaekek, II-III Tangerang Selatan, II-III DKI Jakarta, II-III Depok.

Memahami arti Skala MMI

MMI merupakan singkatan dari Modified Mercalli Intensity.

Dikutip dari laman resmi BMKG, skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.

Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902.

Skala Mercalli terbagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat serta membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut.

Skala Mercalli adalah sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain.

Oleh karena itu, saat ini penggunaan Skala Richter lebih luas digunakan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.

Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan.

Terutama apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian.

Berikut arti dari Skala MMI mulai dari MMI I sampai MMI XII:

I MMI

Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang.

II MMI

Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

III MMI

Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

IV MMI

Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.

V MMI

Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

VI MMI

Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

VII MMI

Tiap-tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.

VIII MMI

Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

IX MMI

Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.

X MMI

Bangunan dari kayu yang kuat rusak,rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

XI MMI

Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.

XII MMI

Hancur sama sekali, Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.

(Serambinews.com/Sara Masroni)

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved