Berita Aceh Besar
Kampus Harus Melawan Paham Radikalisme
Kampus merupakan lembaga intelektual, tempat di mana mahasiswa berkumpul untuk menuntut ilmu dengan aman dan nyaman, serta menjadikan mereka
BANDA ACEH - Kampus merupakan lembaga intelektual, tempat di mana mahasiswa berkumpul untuk menuntut ilmu dengan aman dan nyaman, serta menjadikan mereka untuk berpikir cerdas dan kritis.
Namun kenyataannya, tidak semua hal bisa berjalan dengan lancar.
Terkadang ada hal-hal yang bisa mengganggu kehidupan di kampus.
Salah satu hal tersebut adalah paham radikalisme.
Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen, Prof Dr Apridar SE MSi mengatakan, kampus diisi oleh kelompok orang berilmu yang memiliki tujuan sebagai penerang masyarakat.
Akan tetapi, kata dia, kampus sangat rentan dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk memperjuangkan ideologi dirinya atau kelompoknya.
“Kampus ini sudah cukup lama dinilai sebagai lembaga positif.
Jangan sampai berubah dan kampus dikenal sebagai sarangnya radikal.
Kalau itu sudah terjadi, berarti kita sudah tidak mampu menjaga kampus,” ungkapnya sebagai narasumber dalam podcast ’30 Menit Bersama Tokoh’, Senin (28/11/2022).
Mengangkat tema “Menakar Bahaya Radikalisme di Kampus”, program ini tayang secara langsung di YouTube Serambinews dan Facebook Serambinews.com, yang dipandu oleh News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali.
Baca juga: Kampus Radikal, Perlukah?
Baca juga: Mursil: Kelompok Radikal di Aceh Tamiang Berkamuflase ke Pesantren dan Menikahi Warga Setempat
Lebih lanjut, Prof Apridar mengatakan bahwa radikalisme merupakan sebuah paham atau aliran yang ingin mengubah suatu idelogi hingga pada akar-akarnya dengan cara pemaksaan.
“Makanya fungsi kampus sekarang ini membuat hal tersebut tidak terjadi,” tuturnya.
Ia menegaskan, kampus haruslah berjalan pada jalur yang benar dengan ideologi negara yang sudah disepakati dan jangan terpengaruh tindakan adu domba oleh seseorang atau kelompok tertentu.
“Kalau kampus sudah chaos dan terpecah belah, dengan mudahnya akan masuk ideologi yang bertentangan,” ungkap Prof Apridar.
Menurutnya, untuk mencapai suatu kebajikan tidaklah memandang kampus dan orang di dalamnya itu dari sisi yang negatif.
Jika hal tersebut terjadi, maka keharmonisan sudah tidak ada.
“Mari kita berbuat yang terbaik menurut yang kita pahami sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dan janganlah kita membuat perpecahan,” pungkasnya. (ar)
Baca juga: Mendagri Singapura Klaim Ustaz Abdul Somad Telah Bikin Remaja 17 Tahun di Sana Berpikir Radikal
Baca juga: Muhammadiyah Nilai BNPT Timbulkan Kontroversi , Kritisi Daftar Ciri Penceramah Radikal