Rabu, 15 April 2026

Butuh SPBN

Belum Tersedia SPBN, Nelayan di Tamiang Beli BBM Pakai Jeriken di SPBU

“Karena beli pakai jeriken, kami sering dituduh memperjual-belikan BBM non subdisi, padahal ini untuk nelayan,” kata...

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBI/RIZWAN
ILUSTRASI antre BBM pakai jeriken. Belum Tersedia SPBN, Nelayan di Tamiang Beli BBM Pakai Jeriken di SPBU. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Nelayan di Aceh Tamiang harus membeli bahan bakar minyak (BBM) subsidi jauh dari tepi laut karena belum tersedianya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).

Transaksi ini menjadi masalah karena para nelayan menggunakan jeriken dalam setiap transaksi.

“Karena beli pakai jeriken, kami sering dituduh memperjual-belikan BBM non subdisi, padahal ini untuk nelayan,” kata I, nelayan yang mendapat kuasa membeli BBM di Karangbaru, Aceh Tamiang, Minggu (4/12/2022).

I mengungkapkan dalam sekali transaksi, dia bisa membeli 60 hingga 80 liter menggunakan dua jeriken. Jeriken ini diangkutnya memakai mobil pikap untuk dibagikan kepada nelayan di wilayah pesisir yang berada di Kecamatan Bendahara. 

Dia memastikan telah mendapat surat kuasa dari nelayan yang telah mendapat rekomendasi dari Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan (DPKP) Aceh Tamiang.

“Satu nelayan mendapat jatah 750 liter per 40 hari. Yang kasih kuasa ke saya banyak, bisa sampai lebih 10 nelayan, makanya saya bisa beli BBM dalam jumlah banyak,” kata I yang berharap identitasnya dirahasiakan.

Transaksi jumlah besar ini belakangan menjadi masalah karena mereka dicurigai menjual kembali BBM itu secara komersil.

Bahkan ada beberapa rekan I yang juga mendapat kuasa dari nelayan dimintai keterangan oleh polisi.

“Sampai ada yang dimintai keterangan mulai dari Polsek, Polres sampai Polda. Padahal kami hanya membeli sesuai kuota yang telah ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.

I pun menegaskan dirinya selalu membeli BBM untuk nelayan di SPBU Duadara dan SPBU Alurbemban. “Hanya dua SPBU ini yang mendapat izin menjual BBM untuk nelayan,” ungkapnya.

Panglima Laot Aceh Tamiang, Anwar Muhammad tidak memungkiri ada beberapa nelayan yang sempat diproses hukum atas tuduhan membeli BBM menggunakan jeriken. Dia pun mengaku prihatin karena hal ini disebabkan belum tersedianya SPBN.

“Andaikata tersedia SPBN, nelayan tidak perlu jauh-jauh datang ke Karangbaru atau Mayakpayed untuk beli BBM di SPBU Alurbembang sama SPBU Duadara,” kata Anwar.

Anwar menyatakan kebutuhan SPBN di wilayah pesisir ini sangat mendesak karena jumlah nelayan di Aceh Tamiang mencapai 4 ribu keluarga. Dia pun meminta pemerintah menambah kuota BBM yang saat ini dibatasi hanya 750 liter per 40 hari.

“Ini jelas kurang, artinya ketika kuota ini habis sebelum 40 hari, nelayan tidak bisa bekerja,” kata Anwar.

Anwar berharap pemerintah lebih memerhatikan nasib nelayan. Selain persoalan SPBN, pemerintah juga harus serius membenahi kuala.

“Semuanya sudah dangkal, perahu nelayan sulit melintas, harus menunggu air pasang,” ungkap Anwar.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved