Rabu, 15 April 2026

Opini

Perang di Timur Tengah Guncangan Pasar Dunia, Pajak Menjaga Negara

Sistem pertahanan udara Iran berusaha menahan gelombang serangan tersebut, sementara ketegangan regional meningkat tajam. Di saat yang sama

Editor: Ansari Hasyim
IST
ULPHI SUHENDRA, M.M., M.H., CPS., CHt., Penyuluh Pajak DJP Kemenkeu RI. 

Oleh: Ulphi Suhendra MM MH, Fungsional Penyuluh Pajak Kantor Wilayah DJP Aceh

LANGIT Timur Tengah kembali menyala pada suatu malam yang tegang. Sirene pertahanan udara meraung di Teheran. Serangan udara dilaporkan datang dari Israel dengan dukungan Amerika Serikat yang menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran.

Sistem pertahanan udara Iran berusaha menahan gelombang serangan tersebut, sementara ketegangan regional meningkat tajam. Di saat yang sama, Amerika Serikat juga dilaporkan mengerahkan kapal perang tambahan ke kawasan untuk memperkuat posisi militernya.

Beberapa jam kemudian, pasar global bereaksi. Harga minyak mentah dunia sempat melonjak mendekati USD 90 per barel, sementara indeks saham di berbagai bursa utama mengalami volatilitas tajam. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dapat memicu ketidakstabilan ekonomi global baru.

Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak dunia, sehingga setiap eskalasi konflik di wilayah tersebut hampir selalu langsung tercermin pada harga energi global.

Di era globalisasi, perang tidak lagi hanya berdampak pada negara yang berada di garis depan konflik. Gelombangnya menjalar jauh melampaui batas geografis. Harga energi, rantai pasok, inflasi, dan stabilitas pasar keuangan ikut terombang-ambing.

Indonesia memang berada ribuan kilometer dari pusat konflik itu. Tidak ada sirene perang di Aceh, Jakarta atau Papua. Namun bayang-bayang ketidakpastian global tetap merambat hingga ke ruang kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di beberapa daerah bahkan mulai muncul gejala kepanikan pasar. Di Aceh, misalnya, sempat terjadi panic buying bahan bakar minyak (BBM) ketika masyarakat khawatir pasokan akan terganggu dan harga akan melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Antrean kendaraan memanjang di sejumlah SPBU, mencerminkan bagaimana konflik yang terjadi jauh di belahan dunia lain dapat memicu kecemasan ekonomi di tingkat lokal.

Dampaknya benar-benar terasa pada harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, inflasi pangan, hingga tekanan terhadap anggaran negara. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan USD 1 per barel harga minyak dapat menambah beban subsidi energi dan tekanan terhadap fiskal negara.

Sejarawan ekonomi Niall Ferguson dalam bukunya The Cash Nexus pernah menulis bahwa kekuatan negara modern pada akhirnya ditentukan oleh kapasitas fiskalnya: “The foundation of power is finance.” Tanpa kemampuan mengelola keuangan negara secara kuat, bahkan negara dengan kekuatan militer besar pun dapat rapuh di tengah krisis.

Di sinilah pajak memainkan peran yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

Ekonomi Indonesia 2026: Stabil, Namun Tidak Tanpa Tantangan

Memasuki tahun 2026, perekonomian Indonesia diperkirakan masih tumbuh stabil di kisaran 5 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, investasi infrastruktur, serta momentum transformasi ekonomi melalui hilirisasi sumber daya alam.

Namun stabilitas tersebut bukan berarti tanpa risiko. Ketegangan geopolitik global termasuk konflik Rusia–Ukraina yang belum berakhir serta meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, menjadi sumber ketidakpastian yang dapat memengaruhi harga energi, perdagangan global, dan arus investasi.

IMF dalam berbagai laporannya menegaskan bahwa ketegangan geopolitik saat ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan volatilitas pasar.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved